Seven Minutes in Heaven

3.7K 334 14
                                        


content warning(s): suggestive content, mature theme, romantic intimacy, kissing/making out, physical affection, dirty talk, harsh language, bilingual dialogue

Rory Elizabeth Miller

Rory Elizabeth Miller

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ferdynand Graham

Ferdynand Graham

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rory benci Ferdy.

Sungguh. Sepenuh hati.

Bukan sekadar, "Ugh, dia nyebelin." kind of hate. Kebenciannya terhadap Ferdy sudah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih personal—jenis perasaan yang membuat darahnya mendidih hanya karena mendengar suara laki-laki itu dari seberang kelas, yang membuatnya spontan memutar mata setiap kali melihat senyum menyebalkan di wajahnya, dan yang entah bagaimana selalu berhasil membuat suasana hatinya memburuk hanya dalam hitungan detik. Masalah terbesarnya adalah mereka satu kelas. Jadi tidak peduli seberapa keras Rory berusaha menghindar, Ferdy selalu ada di sana. Setiap pagi, mau tidak mau, Rory harus melihat Ferdy duduk beberapa meja di belakangnya dengan wajah santai seolah hidupnya tidak pernah punya masalah. Hampir setiap hari selalu ada saja momen ketika mereka harus berhadapan.

Laki-laki itu arogan, menyebalkan, terlalu percaya diri, punya bakat luar biasa untuk membuat Rory ingin menimpuk sesuatu ke kepalanya, dan selalu bertingkah seolah dirinya tidak pernah salah. Bahkan ketika jelas-jelas salah pun, Ferdy masih bisa menemukan cara untuk membalik keadaan dan membuat Rory yang terlihat seperti orang paling emosional di ruangan.

Mereka sudah berkali-kali berdebat hanya karena hal-hal sepele. Pernah suatu pagi Rory menemukan kursinya sudah ditempati Ferdy karena laki-laki itu mengaku tempat tersebut lebih dekat dengan colokan. Rory memintanya pindah, Ferdy menolak, dan entah bagaimana percakapan sederhana itu berubah menjadi perdebatan panjang. Bahkan pernah berdebat hampir dua puluh menit hanya karena Ferdy mengambil pulpen Rory tanpa izin. Sampai adu mulut soal siapa yang lebih pintar.

Ferdy tahu dirinya menyebalkan, dan dia sama sekali tidak berniat berubah. Justru sepertinya semakin Rory menunjukkan rasa kesalnya, semakin senang laki-laki itu mengganggunya. Ada semacam kepuasan tersendiri bagi Ferdy—seolah melihat Rory kehilangan kesabaran adalah hiburan gratis yang tidak akan pernah dia lewatkan. Bahkan ketika Rory sudah memberikan tatapan paling dingin yang bisa dia berikan, Ferdy justru akan terlihat semakin puas. Ada sesuatu tentang cara laki-laki itu menghadapi kemarahan Rory yang membuat semuanya menjadi jauh lebih menyebalkan. Bukannya mundur seperti orang normal, Ferdy malah semakin mendekat, semakin banyak bicara, dan semakin senang mencari celah untuk menggodanya.

Tidak ada yang benar-benar tahu kapan persisnya permusuhan itu dimulai, karena rasanya Rory dan Ferdy memang tidak pernah punya fase normal. Sejak awal masuk kelas, mereka sudah seperti dua orang yang secara alami tidak cocok ditempatkan dalam satu ruangan. Kalau Rory mengatakan A, Ferdy akan mengatakan B. Teman-teman mereka bahkan sudah berhenti mencoba menjadi penengah.

Sampai sebuah permainan di tengah party—Seven Minutes in Heaven—mempertemukan mereka dalam situasi yang tidak pernah mereka bayangkan.

Permainan di mana dua orang dipilih untuk menghabiskan tujuh menit berdua di dalam sebuah ruangan tertutup. Tidak ada aturan khusus tentang apa yang harus dilakukan selama tujuh menit itu. Semuanya bergantung pada kesepakatan, mereka bisa mengobrol, hanya diam sampai waktu habis, atau melakukan kontak fisik jika keduanya sama-sama menginginkannya.

Rory mendapati dirinya harus menghabiskan tujuh menit terjebak berdua dengan laki-laki yang dibencinya.

Tujuh menit seharusnya tidak lama. Setidaknya, Rory berpikir begitu.

Namun ketika pintu ruangan itu tertutup dan tidak ada lagi siapa pun selain mereka berdua, tujuh menit tiba-tiba terasa jauh lebih panjang dari yang seharusnya.

Awalnya, Rory hanya ingin melewati permainan itu tanpa drama. Ferdy pun tampaknya memiliki tujuan yang sama. Mereka bahkan sepakat untuk tidak melakukan apa pun selain menunggu waktu berjalan, tanpa bicara, tanpa pertengkaran, tanpa saling mengganggu. Mereka hanya perlu bertahan sebentar di ruangan yang sama, lalu pintunya akan terbuka dan semuanya kembali seperti semula. Kembali menjadi Rory dan Ferdy yang saling menyebalkan seperti biasanya.

Setidaknya, itu rencananya.

Karena ternyata tujuh menit bisa terasa jauh lebih lama ketika orang yang biasanya selalu punya bahan untuk diperdebatkan tiba-tiba memilih diam. Ketika candaan Ferdy mulai terdengar berbeda, senyum yang bukan senyum ejekan bertahan sedikit lebih lama dari biasanya, dan tatapan yang seharusnya hanya sekilas justru membuat Rory bertanya-tanya kenapa laki-laki itu belum juga mengalihkan pandangan. Bahkan sentuhan kecil yang tidak sengaja mendadak terasa seperti sesuatu yang seharusnya tidak perlu membuat mereka terdiam. Dan semakin Ferdy mendekat, semakin Rory sadar bahwa detak jantungnya mulai tidak masuk akal untuk seseorang yang katanya begitu membenci laki-laki itu.

Mereka bersumpah tidak akan terjadi apa-apa.

Namun mungkin, tujuh menit sudah cukup untuk mengubah segalanya.

Seven Minutes in HeavenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang