Nyawa sejatinya milik Sang Pencipta. Kita (manusia) diberi kesempatan untuk menjalani sebaik-baiknya. Namun kita tak pernah tahu, sepanjang apa jalan yang kita tempuh. Mungkin hanya beberapa langkah saja, belasan langkah atau puluhan langkah akhirnya. Garis finish tidak pernah terduga membuat kita selalu waspada, agar di titik akhir tidak menyisakan sebuah penyesalan di sana.
Kata orang sesal itu akan ada kemudian, saat terakhir kita merasakannya. Namun, ingin setiap orang kelak tidak ada penyesalan yang mengiringi kepergiannya menghadap Sang Pencipta, Si Empunya Hidup.
Masalah itu proses yang harus dilewati, selama masih hidup, selama masih menginjak bumi dan bernafas, selama itu pula masalah akan mengikuti kemanapun kita pergi. Begitu pula hidup adalah suatu siklus yang seringkali manusia tak mengerti. Saya dan kamu pun tidak.
Hidup dan waktu berteman akrab, mendatangi kita setiap harinya. Sampai-sampai kita tidak sadar selalu ada batas waktu di setiap kesempatan hidup yang kita punya. Muda dan sehat bukan jaminan untuk santai dengan batas waktu kita. Karena nyawa tidak memiliki kriteria untuk dipastikan. Ada banyak hal yang bisa terjadi, sesuatu yang tidak terduga, di luar batas pikiran kita manusia.
Ada banyak cara untuk Sang Pencipta mengembalikan kita ke pangkuanNya. Ada banyak kesempatan yang digunakan untuk sekedar mengingatkan siapa diri kita, sehingga kita tidak lupa akan batas waktu kita di dunia.
Sejatinya kita hanya debu yang diberi nafas hidup oleh Sang Empunya hidup.
