Angin semilir ditemani mendungnya langit. Menuju batas cakrawala ku melangkah. Tuk menggapai mu yang hilang arah dalam dunia nestapa. Bahkan jikalau samudra menghalangi ku tuk meraih mu atau angkasa kan runtuh tuk memeluk bumi atau bahkan Supernova yang menghisap ku agar tak bertemu dengan mu. Ku kan tetap melangkah, sekali lagi kumohon dengarlah suara ini.
_____________________
"NGGAK! GUA GAK SETUJU."
"Please lah, kali ini aja gua mau nemuin dia. Udah 2 tahun dan gua harus minta maaf ke dia."
"Percuma, aja lu cuma bakal bikin dia sakit lagi."
Kami diam, otak ku memutar kembali memori kala itu, saat dia menangis, menceritakan kisah kelamnya. Di tinggalkan orang yang sangat dicintai-nya. Isak tangisnya masih terbayang jelas, membuatku tak mampu berkata apapun, hanya mampu memandangnya. Dan menjatuhkan badannya dalam pelukanku.
"Tenang Al, gua disini. Lu boleh nangis sepuasnya sekarang."
Pelukannya makin erat yang membuatku sedikit sesak. Bukan karena tenaganya tapi karena tangisnya yang makin menjadi.
Hampir satu jam ia seperti ini membuat kantung matanya bengkak. Suaranya pun mulai serak, Mukanya me merah. Dan ia terlelap.
.....
Tok tok tok
"Permisi, ini benar rumahnya Alia??"
"Loh, lu siapa? Ko Alia bisa sama lu?"
"Ah, boleh gue anter Alia ke kamarnya?"
Kamar bertema klasik, dengan dominasi warna coklat, lantai dari kayu. Membuat suasana menjadi tenang.
Kemudian gua rebahkan Alia di kasurnya
"Lu harus istirahat sekarang, besok gua chat, kalo gua kesini lagi."
"Ka, jangan cerita ke kakak gua ya, please." Suaranya serak memohon
"Hmmm, kalo gua maunya cerita gmn?"
Wajahnya menunduk semakin dalam. Tatapannya seakan menerawang mengenang kenangan kelam itu.
"Terkadang kita harus cerita ke orang lain, jangan pernah menanggung beban sendiri. Superhero aja butuh asisten." bisik ku.
Menatapnya dalam, merapikan rambutnya yang terurai, "pengennya sih ada adegan cium kening tapi belom muhrim ntar aja kalo udah sah." Ucapku pelan yang aku yakin hanya aku yang bisa mendengarnya.
Kemudian aku keluar, bertemu kakaknya yang sedang duduk di ruang tamu.
"Lu langsung balik?"
"Iyalah, penjelasannya tanya dia langsung aja. Dia ngga mau kalo gua yang cerita."
"Gih balik sono, sisanya biar gua yang urusin nih bocah."
....
Di temani langit malam ku menyusuri jalan, hembusan udara semakin dingin menusuk hingga tulang rusuk. Menyadarkan ku dari lamunan itu.
Ku berhenti di sebuah kedai membeli secangkir susu jahe, menenangkan diri dalam riuhnya kota malam.
____
Dari A untuk spokenwhalien
Kau adalah harta bagiku
Bahkan Luna tak mampu
Tak mampu bersaing merebut hati
Yang kini hanya milik mu seorang diri
