Lamunan senja

17 2 1
                                        


Ice cream rasa vanila kesukaanku ini terasa mantap ku genggam.
Tak segan-segan aku segera melahapnya dengan rakus, dan tak bisa dipungkiri lagi brain freeze menghampiriku.

"Ah, sial" umpatku dalam hati.

Suatu momen yang menyebalkan selalu hadir saat suasana hatiku sedang asyiknya.

Ya, saat ini aku bersama kekasihku menikmati indahnya senja di taman yang diselimuti pancaran sinar siluet sang surya yang akan segera tenggelam dan digantikan oleh cayaha rembulan.

"Deja vu" pikirku kemudian, dulu aku pernah merasakan momen yang sama namun dengan orang yang berbeda. Orang itu lah yang singgah dan masuk dengan mengetuk pintu hati, kemudian keluar tanpa permisi.

     Entah dimana dia sekarang berada...
     Di pijakan bumi bagian mana dia berdiri..
     Aku tidak tahu.
     Bahkan kabar angin tentang keberadaannya  pun tidak pernah ku dengar.
     Semua yang terjadi seakan maya, seperti mimpi yang hilang tanpa meninggalkan jejak.

Aku berfikir dia kini seperti orang asing yang tidak pernah aku kenal sebelumnya. Dulu di tempat yang sama dan di waktu yang sama, disinilah aku dan dia mengukir janji. Dan disini pula janji itu di tenggelamkan. Seketika sekujur tubuhku membatu, tak bergeming sedikitpun.

Kamu menghilang...
Bahkan kau tak tau keadaanku
Kau tak pernah tahu perasaanku sekarang
Dan apakah kau berfikir aku baik-baik saja setelah itu?
Belum sempat aku bercerita apa mau dan maksudku.
Namun kau sudahi ceritaku semaumu.
...

Aku terkejut, lamunanku pecah setelah ayunan tangan itu seketika mendarat dengan cepat dibahuku.

Butuh beberapa detik untuk sadar bahwa aku sedang bersama orang yang ku ijinkan masuk ke dalam hatiku dan ingin ku kunci selamanya disana.

Orang itu adalah Decha, kekasihku saat ini.
...

Decha menatapku heran. Ocehan yang keluar dari mulutnya tidak tertangkap dengan benar di pendengaranku.

Lamunan itu seakan memutus saraf-saraf sadarku.

"Konyol sekali" seruku dalam hati,
diikuti oleh gidikan refleks tubuhku. Decha semakin terheran-heran.

Kedua alisnya menyatu membuat mata bulatnya kian menyipit mengisyaratkan
"Apakah ada yang salah?".

"Ya Decha, ada yang salah denganku" batinku. Menjawab raut muka heran Decha.

"Kamu melamun ?" sentak Decha.

Aku terdiam. Lamunanku berlanjut begitu saja.

"Ngelamunin apa sih, kayak orang kesurupan tahu nggak !"

"Ngeri banget sih kamu, sadar woi !" teriak Decha.

Namun aku masih terdiam. Decha terlihat menoleh sekelilingnya. Teriakannya itu sontak membuat orang-orang memusatkan perhatianya sejenak. Kemudian kembali normal ke aktivitas masing-masing.

"Astaga ni bocah mati suri kali ya" di cubitnya lengan kananku dengan kasar. Sontak membuatku mengaduh kesakitan.

"Apaan sih!" jawabku.

"Sudah siuman?, gimana rasanya mati suri?" ketusnya.

"Ngawur" jawabku asal.

"Jalan yuk" tambahku.

"Padahal dari tadi udah aku ajak. Situ malah mati suri duluan. Kamu kalau udah gini nih biasanya soal mantan. Ngapain sih kamu repot-repot nambahin pikiran di kepala kamu. Kasian otak kamu tuh isinya mantan mulu. Nggak asyik" omel Decha.

Blush. Pipi Decha memerah bukan karena malu atau tersipu. Aku yakin dia sedang naik darah.

"Sok tahu" ledekku.

"Secara kamu kan pemuja mantan" sindirnya.

Lirikanya itu loh non. Itu mata kayak ada pisaunya yang siap menghujamku kapanpun dia mau. Ku tarik pergelangan tangan Decha. Ada sedikit berontak darinya. Tapi, tulang kecil badan kurus bisa apa.

Sepanjang perjalanan mulutnya tidak berhenti komat kamit. Entah mantra apa yang sedang Decha baca. Sesekali sorot mata pisau itu menghujam tajam kearahku.

Ya, itulah Decha. Perempuan dengan sejuta jurus silat lidahnya. Kekanak-kanakan. Cemburuan. Over protective. Kalo lagi ngambek susah banget di kendaliin. Bahkan avatar pun belum tentu bisa ngendaliin si kalkun satu ini.

Untung dia anak yang penurut dan ya bisa diatur lah. Kalo gak lagi ngambek. Lucu, imut. Sebenarnya aku nggak mau ngomong yang satu ini. Kalau Decha dengar pasti pasang pose sok imutnya.

Gitu sih emang.
Seburuk apapun sifat manusia pasti ada sisi baiknya juga. Kita sebagai sesama manusia harus bisa ngehargain sifat buruk orang lain. Kan kita juga pasti punya sifat buruk. Saling memaklumi lah intinya.

#edit

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 06, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Kertas ApungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang