Tahun ajaran baru telah dimulai. Namaku Lya. Sekarang aku seorang pelajar SMP. Rumahku jauh dikota seberang. Tapi, aku disini untuk berjuang, di kota Ibukota. Aku mempunyai sahabat bernama Alya. Namanya sangat serasi denganku kan? saat ini gadis itu pasti sedang bahagia di sekolah faforit nya. Sekolah terbaik di Ibukota. Dia akan diterima. Itu kabar terakhir darinya. Dia akan sibuk dan meninggalkanku sejenak. Aku memahaminya. Kita akan bertemu saat libur kenaikan tahun depan.
Namun, siapa sangka. Ia tidak diterima. Saat hari pertama masuk, Alya menyapaku. Kita akan berada di satu kelas yang sama, diatas atap sekolah yang sama, dibawah langit biru yang sama pula. Aku senang memiliki sahabat sepertinya, dan pasti Alya senang bersahabat denganku. Lalu hari-hari yang akan kita lalui adalah hari yang penuh dengan warna. Kita sangat bahagia, saling mengisi hati kami satu sama lain. Hingga kedua remaja laki-laki itu datang, dan perlahan hati kami berdua terbagi. Ada laki-laki itu di hati kita kelak.
Alya menyukai Arda. Bintang lapangan futsal kami. Alya sering curhat padaku soal Arda yang selalu membuat pikirannya kacau. Sayangnya, mungkin Arda tak akan pernah sadar kalau Alya menyukainya. Aku bahkan jarang melihatnya. Lagipula, Ia ada di kelas yang berbeda.
Lalu, aku belum menyukai siapapun. Alya bahkan sering menanyaiku.
"Kita ini sudah remaja, tapi kau belum menyukai siapapun?" katanya. Kita bahkan baru saja masuk SMP, Alya. Hanya itu yang kupikirkan. Masa bodoh dengan hal-hal seperti itu. Biar saja Alya yang menikmati hal itu. Bagiku, itu hanya akan membuat pikiranku meledak-ledak. Lagipula, aku sudah cukup lelah memikirkan materi pelajaran yang terkadang sangat sulit.
Aku tidak menyukai laki-laki manapun. Aku juga masih menerima cerita-cerita Alya tentang Arda yang kini dekat dengannya. Sepertinya, penantian dan usaha Alya berhasil. Tapi, aku tidak menyukai laki-laki manapun. Hingga semua pendirianku hancur begitu aku duduk di kelas 2 SMP.
"Kau Lya dari kelas 2B kan?" Ada seseorang yang memanggilku dari belakang. Bukan suara Alya, karena Alya pulang bersama Arda sore ini. Tapi suara ini, suara laki-laki. Begitu kubalikkan badanku, terlihatlah sesosok itu. Dia adalah juara kelas 2A. Dengan kata lain, superstars akademik di tahunku. Dia selalu ada diurutan pertama pemilik rata-rata tertinggi. Disusul Fira dari kelasku. Dia juga sering mengikuti lomba. Nama dan wajahnya familiar dimata banyak orang.
"Temani aku pulang sore ini. Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Katanya.
Apa?? Aku tidak salah dengar kan? ya tuhan, dia superstars itu! Tidak mungkin dia pulang dengan seorang gadis?! Biasanya itu akan merusak jam belajarnya! Tidak mungkin! Apa aku harus menolaknya? Dia Daffa dari kelas 8A! Si Superstars tak terkalahkan!
Raut wajahku biasa-biasa saja. Namun, hati ku berkecamuk. Tidak, aku tidak jatuh cinta. Tidak semudah itu aku jatuh cinta pada laki-laki.
"Biasanya anak pintar pemilik ranking teratas paling anti dengan pulang bersama gadis karena akan mengganggu jam belajarnya." Akhirnya, kalimat itulah yang keluar dari mulutku. Tidak, aku tidak akan jatuh cinta.
"Aku tidak memiliki jam belajar di sore hari." Sahutnya. Lalu, dia menggenggam tanganku, mengajakku berjalan. Ini pertama kalinya bagiku, dan akhirnya hal ini berdampak pada jantungku.
"Kita akan kemana?" tanyaku.
"Bukit kesukaanku."Daffa menjawab pelan. Ada banyak bukit di sekitar sini. Jadi, aku tidak tahu bukit yang mana yang Ia suka.
Perjalanan kami menuju bukit itu sangat terasa monotone. Sepi tanpa ada perbincangan apa-apa. Tapi, Daffa terus menggenggam tanganku. Sepuluh menit kemudian, kami tiba. Pemandangan disini indah sekali. Aku menatapnya lama, seakan aku tidak ingin memejamkan mataku. Si superstars itu duduk disampingku.
YOU ARE READING
Perantara
Romancegadis yang mengejar lelaki yang dicintainya dengan posisi sebagai perantara yang sangat disayangkan. sayang, Ia mulai merasa, bahwa inilah akhir menyedihkan yang harus Ia terima. Ia tak lagi mengharapkannya.
