Museum ini lucu. Mereka hanya menerima rombongan untuk masuk. Pengunjung individual atau yang hanya dalam hitungan jari seketika pusing. Tapi sepuluh menit lalu, aku dan teman-temanku diajak bergabung oleh sekelompok laki-laki bernasib sama; kekurangan massa.
Ada satu yang berpostur paling tinggi. Tidak banyak bicara dan cuma tersenyum saat teman-temannya tertawa geli. Pandangan kami sempat bertemu. Dia tersenyum tipis lantas mengangguk, sedangkan aku panik buru-buru memalingkan wajah; tidak mau disangka habis memperhatikannya atau bagaimana.
Jadilah kami semua berhasil masuk. Aku dan dia berakhir sama-sama berjalan di baris paling belakang. Mungkin sama-sama butuh banyak waktu untuk menikmati. Terlebih aku dan kameraku, yang tentu menuntut tambahan atensi.
Seorang pemandu wisata memimpin baris. Beberapa kali memberi waktu sesaat untuk memotret sebelum kembali melanjutkan monolognya. Aku maju paling semangat.
Di satu titik, aku diam cukup lama. Cuma mengerutkan kening saat melihat hasil fotoku yang kabur. Alhasil memutuskan untuk menekan tombol shutter beberapa kali lagi sebelum akhirnya puas.
Rencananya aku mau lari untuk menyusul rombongan teman-temanku tadi. Namun ketika aku menoleh, aku malah kaget sebab disambut eksistensi tak disangka.
"Eh? Mau foto juga ya?!" tanyaku retoris, seperti orang tolol. Ternyata laki-laki tinggi tadi ada di belakangku. Dia malah jadi terlihat kaget pula.
"Gak apa-apa, lanjutin ajaㅡ"
"Gak apa-apa! Nih, gantian! Maaf ya lama, gak tau," cerocosku sambil tertawa terpaksa. Spontan panik begitu. Dia ikut tertawa, nadanya satu tingkat lebih canggung.
Aduh, aku ngapain sih?
"Thanks," gumannya lantas melangkah maju.
Lalu tidak tahu kenapa, aku malah menunggunya. Hening. Pemandu wisata dan teman-temanku sudah berjalan jauh. Hanya tinggal kita berdua di titik itu. Dia juga tidak butuh waktu lama untuk mengabadikan isi museum tersebut. Beruntung dia lantas melontar tanya.
"Lo pernah ke sini?"
"Enggak, baru kali ini."
"Gue juga, hahah."
Diam lagi, kali ini lebih canggung.
"Namanya siapa?" tanyaku pelan, kehabisan topik. Tapi rupanya dia masih terdengar. Ada jeda sebentar darinya, mungkin sibuk menimang-nimang. Namun pertanyaanku tetap terjawab.
"Noa."
