Tiga puluh menit yang lalu aku masih dalam keadaan setengah hati, marah, malas, muak dan segala macam perasaan tidak suka saat aku akan bersama Nila pergi ke pantai yang diadakan di kota ini. Perayaan hari ulang tahun kota, begitu katanya. Padahal dia tahu sendiri aku tidak suka keramaian, aku tidak suka basa basi, aku tidak suka ketika tiba tiba ada yang mengganggu kesendirianku. Dan sekarang aku sudah di sini dengan segala paksaan, dengan tawarannya yang paling menggiurkan, aku akan mendapatkan buku Lady Midnight yang kuinginkan bahkan sebelum buku itu dirilis. Dengan terpaksa aku mengiyakan, tapi aku tahu Nila kadang lupa pada janjinya. Itu yang membuatku ragu untuk menerima janjinya. Nila akan menemui selingkuhannya di sini, dengan aku sebagai tamengnya, dengan aku sebagai alasannya pada pacarnya yang selalu sibuk, bahwa dia akan keluar bersamaku. Di satu sisi aku mengerti dia, siapa sih yang akan betah pacaran dengan orang yang selalu tidak punya waktu?
Jadi aku mendesah dan pasrah saat nila menuntunku menuju keramaian, hiruk pikuk asap makanan yang dibakar, dentuman musik dan bass yang menggelegar, asap rokok yang bergumul di udara, pasangan kekasih yang bersenang senang, para remaja sosialita dengan gayanya yang high class. Tak diragukan lagi, tempat ini hanya ajang pamer. Miskin atau kaya, mereka semua pamer dengan apa yang mereka punya. Yang original atau fake. Seharusnya aku tidur saja di rumah.
Kami melawan desakan orang orang, berulang kali mengatakan permisi sampai akhirnya kami berhenti di stan masakan jepang.
Sebelah alisku terangkat. "Selingkuhanmu orang jepang?"
"Tidak, tapi dia suka masakan jepang." Kata nila, dia mendongakkan kepalanya setinggi mungkin mencari selingkuhannya di mana mana. "Dan namanya Mario."
Mungkin nila tidak suka aku memanggilnya dengan panggilan itu. Atau mungkin itu hanya sebagai alasan supaya tidak ada yg mendengar aib yang sedang ia lakukan.
"Jadi kau dan mario berencana bertemu di sini?"
Nila mengangguk. "Aku sudah mengirim pesan. Kali saja dia meneleponku nanti. Pulsaku habis."
"Kalau nanti kita tidak bertemu dengannya...."perkataanku terputus karena ada laki laki yang datang ke arah kami, tak diragukan lagi itu pasti mario. Selera nila tidak jauh jauh dari pacarnya, Ananta. Tinggi tegap, kulit kecoklatan, mata bulat, dan beruang.
Sekarang apa? Apakah aku harus menyingkir? Aku belum sempat bertanya lebih lanjut. Tapi aku tahu, biasanya orang yang sedang dimabuk cinta, pasangan yang sedang dimabuk cinta, tidak suka ada yang mengganggu.
"Akhirnya kau sampai juga," desah nila lega sambil mengenggam tangan mario. Dia melakukan tanpa ragu, seolah olah kejadian ini sudah lama terjadi.
"Begitu sulit untuk melawan semua kerumunan itu," balas mario tapi tetap tersenyum.
Aku sangat tidak nyaman dengan suasana seperti ini. Jadi aku berdeham hingga mereka berpaling ke arahku.
"Kenalkan, ini mario. Mario, ini Sandra." Kata nila.
"Hai mario. Senang berkenalan denganmu."
"Aku juga." Katanya tersenyum ramah.
Setelah itu, ia kembali memandang nila seolah olah ia emas yang terjatuh di rerumputan dan tidak ada yang melihatnya selain dia.
Mau tak mau aku memotong pembicaraan mereka. "Ehh, nila, aku mau pergi sebentar membeli milkshake."
Nila memutar bola mata tapi dengan gaya seperti ingin mengucap terimakasih secara tak langsung, aku tahu ia tak ingin diganggu. "Tentu."
