By : Herlinafang
"Henji !! mandi dulu nak!!" teriak seorang ibu dari dalam rumah
"iya bu'' jawab Henji Bangkit dari duduk nya dan memasuki rumah untuk mandi.
seorang gadis kecil tunanetra yang hidup hanya bersama ibunya.gadis berusia 8 tahun ini melewati masa hidupnya hanya dalam kegelapan.kesederhanaan.
Pekerjaan sang ibu hanya seorang pembantu dari seorang saudagar kaya di sebuah kompleks nya.
"Bu tadi Henji denger suara pasawat terbang lho.." pinta Henji saat berjalan perlahan mendekati ibunya di dapur.
Ibu menoleh.tersenyum getir.
"Oh ya?"
"Iya..suaranya terdengar sangaaaatt keras. Emang pesawat terbang itu sebesar apa si bu?" Tanya Henji .meraba raba kursi yang tak jauh dari nya.dia memang hafal tempat tempat dimana terdapat kursi , meja dan lainnya di rumah yang tak begitu besar.
Ibu berhenti bergerak.mengahmpiri anak nya yang sudah beranjak duduk di kursi kayu di meja makan
"Henji..apa kamu tau pesawat itu seberapa besar ?" Tanya ibu menyentuh kedua pundak putrinya.
Henji menggeleng.
"Pesawat itu lebih besar dari seekor gajah" ujar sang ibu menyeringai , membuat Henji terdiam sejenak tuk berpikir
"Wah besar sekali ya bu? Jadi pengen liat pesawat?" Pinta Henji tersenyum manis.berharap ia bisa melihat seberapa besar pesawat terbang itu.
Ibu yang mendengar pernyataan dari anak nya tak kuasa membendung air mata.sesekali bulir di matanya menitik membasahi pipi.
"Bu? kok diem? ibu masih di situ kan?" Tanya Henji .
Ibu segera menyeka pipinya yang basah.
"Iya ibu masih di sini ..o ya kamu mau mandi kan , sana mandi dulu dah sore" ujar ibu kembali ke dapur
******
Esok nya , di sekolah ibu Naya
(Ibu Henji) mendapat kabar kalau putri nya sakit saat upacara. Tanpa pikir panjang ibu Naya segera menghampiri anak nya di sekolah.
Beberapa menit berlalu..
Ibu Naya sampai di sekolah Henji.
"Permisi bu, dimana anak saya Henji?" Tanya ibu Naya pada salah satu guru yang sedang mengajar di kelas. Guru itu menoleh.
"Ooo Henji berada di UKS bu"
"Oh begitu kah? Terima kasih"
Ibu Henji langsung berlari menuju UKS.
"Henji?" Ucap ibu setelah mendapati Henji sedang terbaring lemah di ranjang UKS
"Ibu? Kau kah itu?" Pinta Henji beranjak untuk duduk
"Iya nak ini ibu,,kamu kenapa Hen?"
"Bu,, Henji merasa pusing"
keluh Henji seraya memegang dahi yang masih agak demam.
Ibu Naya segera meraih tubuh putrinya dan memeluk nya erat.
"O ibu nya Henji sudah datang?"
Ujar salah satu perawat yang bertugas di UKS
"Iya bu"
"Henji? Gimana kondisi kamu sayang?" Tanya perawat itu mengelus rambut Henji pelan
"Dah mendingan bu" jawab Henji menyeringai
"Henji boleh pulang kok,,saya udah izin ke wali kelas Henji" ujar perawat itu tersenyum ramah pada bu Naya.
"Oo terima kasih bu..Henji? Ayo pulang"
Henji menurut. Turun perlahan dari ranjang.
Di rumah...
"Henji kamu istirahat dulu ya? Ibu ambilkan makan"
Ujar ibu seraya berjalan ke dapur
"Bu?" Pinta Henji membuat ibu berhenti melangkah dan berpaling
"Sebenar nya Henji sakit karna terlalu memikirkan seberapa besar pesawat terbang itu "
Ujar Henji menggaruk hidung mancung nya.
Ibu tercengang.terdiam.tak dapat berucap.
"Henji, suatu hari nanti.... kamu pasti dapat melihat ..seberapa besar pesawat itu" tanggap ibu.
Suaranya gemetar . Bulir air mata kembali menitik.
Henji tersenyum.tak sabar jika hari itu pasti akan datang.
********
Henji memang terkenal anak yang pintar di sekolah nya. Meskipun tunanetra Henji tetap sekolah di sekolah dasar biasanya. Meskipun harus mendapat kan kelas tambahan setiap hari nya.
Hari ini ibu Naya harus bekerja di rumah ibu Titin (majikan ibu Naya) . Seperti biasa Henji selalu ikut ibunya bekerja, karna anak ibu Titin juga seumuran dengan Henji.
" permisi" suara ibu Naya memasuki rumah besar itu.
Henji tersenyum . Meskipun tak tau kondisinya.
"Oh Nay dah sampe? Ya udah langsung aja ya? Eh Henji sana main sama Qei " ujar bu Titin tersenyum pada Henji.
Henji mengangguk . Berjalan perlahan menghampiri Qei yang berada di teras rumah.
"Qei?" Panggil Henji lirih. Qei menoleh . Mendesah nafas keras.
"Huh!!! Bocah Buta lagi!" Gumam Qei menatap sinis. Henji tersenyum.
"Hai Qei aku ikut main ya?" Ujar Henji tersenyum manis.
"Gak usah pegang mainan aku!! Nanti rusak!!! Liatin aja!! O iya kamu kan BUTA,,lupa aku!" Seru Qei memukul jidat.
Henji terdiam. Tak mampu berucap. Namun dia tak marah. Tak tersinggung. karna dia sadar. Dia Memang Buta.
"Tapi Qei aku juga pengen main,,aku boleh ikut ya" pinta Henji memelas. Berjalan perlahan mendekati Qei.
"Iiihhh!!! Gak usah deket deket Bocah Buta!!" Gertak Qei mendorong tubuh Henji hingga terjatuh.(brug!!)
"Aduh!!" Henji memdesah. Lututnya berdarah. Ibu mendengar itu. Ibu segera menghampiri dan memastikan kondisi putrinya.
"Ya tuhan Henji!!" Seru ibu setelah mendapati putrinya tersungkur tak berdaya di tanah.
"Henji kenapa nak Qei?" Tanya Ibu Henji pada Qei. Qei membuang tatapan.
"Tanya aja sendiri" ujar Qei seraya pergi berlari masuk.
"Kamu gak papa nak?" Tanya sang ibu. Mencoba membersihkan darah yang mengalir di lutut Henji.
"Bu Henji pengen bisa liat bu,,Henji gak mau di ejek temen karna buta" desah Henji . Menangis . Tapi karna kondisinya ia tak bisa mengeluarkan air mata.
"Iya nak ibu tau..kamu pasti akan bisa melihat dunia jika hari itu sudah tiba" pinta ibu meraih tubuh Henji dan mendekapnya erat.
***********
Masih belajar ni guys
Maaf kalo jelek . Biar tau kesalahan aku dimana , jangan lupa vomment ya ..
Ada cinta cinta nya kok tapi di bagian ujung nanti kalo Henji udah dewasa.
YOU ARE READING
sepuluh tahun yang akan datang
RandomKisah seorang gadis buta yang ingin sekali melihat dunia..... Mencintai seorang pria meski tak tau wujud aslinya..
