Halo, ingatkah kamu ketika kita pacaran di fly over?
Kita seperti dua anak alay yang bahagia.
.
Iya, Tiara,
Tulisan ini tentang kamu.
.
"Ra, kamu lihat motor yang di sana?"
"Yang mana? Di sana motor semua."
"Itu yang perempuan dan laki-laki lagi boncengan."
"Oh, beat merah? Iya, lihat. Kenapa?"
"Nggak, ngetest penglihatanmu aja."
"Dasar aneh!"
"Ra, kok kamu mau sama aku?"
"Emang kenapa aku nggak mau?"
"Mukaku kayak sendok nyam-nyam."
"Hahaha. Kata siapa?"
"Kata Sapri. Dia juga bilang aku jangan sok ganteng."
"Muke lu kayak sendok nyam-nyam, gitu ya?"
"Iya, kok tau?"
"Bodoamat!"
.
"Ra, lompat yuk!"
"Ke bawah? Mati dong?"
"Kata siapa?"
"Ya, logika aja, Bul! Lompat dari atas fly over pasti mati lah?"
"Sok tau. Coba buktiin!"
"Hehe? Yaudah nih, aku lompat ya?"
"Ya, cepet."
"Bener loh ya, aku mau lompat???"
"Ya, biar kamu mudik."
"Mudik?"
"Iya, pulang kampung."
"Kok pulang kampung?"
"Pulang ke surga, ketemu sama sesama bidadari di atas sana."
"Gembel! Gombal banget sih lo gembul!"
.
Aku masih ingat setiap detil perkataanmu. Aku juga ingat apapun yang kamu lakukan selama kamu denganku. Masih ingat juga saos dari cilok yang belepotan di sekitar bibirmu. Masih ingat jus alpukatmu yang tumpah ketika kau berjalan ke motorku. Sudah jadi rahasia umum, kamu memang ceroboh dan berantakan. Kalau di dunia ada ajang Miss Ceroboh, aku berani bertaruh, kamu menang. Tapi taruhannya 5rb aja ya.
Halo, Tiara.
Jangan kabur.
Kamu harus tanggung jawab,
Sejak kamu pergi,
Bandung jadi sering hujan.
Kata Ibuku itu karena Desember memang musim hujan.
Ngaco dia.
Aku yakin, Bandung sering hujan karena dia ikut sedih melihatku ditinggal kamu. Sampai nangis dia. Wakilin air mataku yang ragu jatuh ditahan gengsi.
Tiara,
Selamat.
Kamu menang.
Kamu berhasil membuatku jatuh hati, lalu pergi.
Kini kamu hanya bisa aku kenang bersama tetesan air mata gaib yang berlinang.
Apa kamu senang?
Aku mungkin bukan laki-laki baik,
Tidak seperti Taqy Malik,
Aku malah seperti Taqy Taqy Rumba.
.
"Bul, kenapa berhenti?" tanyamu ketika aku tiba-tiba menghentikan laju motorku.
"Biar seperti kamu."
"Seperti aku?"
"Iya, kamu tadinya selalu bersamaku, membuatku senang. Lalu kamu berhenti. Kamu berhenti untuk alasan yang tidak pernah aku mengerti," kataku.
"Kamu berhenti menuliskan semua tentangku di instagram storymu. Kamu berhenti menuliskan namaku di status linemu. Kamu berhenti mengirimiku pesan. Kamu berhenti menerima ajakanku untuk bertemu. Kamu berhent," sial, pipiku basah ketika aku sampai ke bagian ini.
Aku menengok ke belakang, ke arah kamu seharusnya menatapku sendu. Tapi tidak ada kau. Tidak ada apapun di belakang.
Aku turun dari motor. Menendang motorku.
"Udah, Bro. Jangan halu. Dia udah pergi dari 3 bulan lalu," kata Jin Qorin di dalam diriku.
Sial, aku halu.
Lagi, aku menendang motorku.
Sial.
