prolog

14 0 0
                                        


“Mpus …,” tanya laki-laki di seberang ponselku,

“Kalau ternyata suatu saat diketahui aku mengidap penyakit menular dan berbahaya apa yang akan kau lakukan?”

“Apa contoh penyakitnya?”

“Ummm … anggaplah HIV? Kau tau profesiku ini rentan sekali.”

“Insyaallah aku tidak akan meninggalkanmu, An. Jika sebaliknya bagaimana?”

“Maksudmu?”

“Jika kelak setelah menikah tetapi aku ternyata tak sempurna, semisal ….” Aku sejenak menahan nafas, mengeluarkan keberanian mengungkapkan kata itu. “… misalkan aku mandul.”

“Mpus, aku menginginkanmu bukan semata karena anak.” Aku tersenyum mendengar jawabannya. Dia begitu manis, meski kami belum lama saling mengenal, belum lama hubungan ini terjalin.

“Mpus, don’t leave me, please,” ujarnya lagi.

“Insyaallah. Kita saling menjaga, ya.”

“Jaga perasaan kita, ya.” Suaranya terdengar serak.

“An, kamu sakit? Suaramu tiba-tiba serak.”

“No. I’m crying because of you. Aku tiba-tiba takut kehilanganmu,” jawabanya singkat dan membuatku sesak hingga tanpa sadar air mata ini jatuh.

“Ummmaaa … Maaa ….” Aku terbangun mendengar tangisan pangeran kecilku. Segera ku peluk dan kuberi ASI. Ku lihat pria di seberang tempat tidurku, ah … kenapa tiba-tiba masa lalu itu muncul dalam mimpiku? Ternyata tangisan itu nyata, bukan hanya dalam mimpi.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 06, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

untitledWhere stories live. Discover now