Menceritakan seorang Pria (Fildan) yang sangat mencintai seseorang gadis (Lesty) yang sangat manis. Lesty memang cantik namun juga lebih dari itu. Di mata seorang Fildan mungkin dia lebih dari sekedar cantik. Dia juga anak yang baik hati, cerita ini...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Aku tidak mengerti kenapa aku harus mencintai dirimu, apakah mungkin kau adalah takdir bagiku?" Begitu lirih Fildan dalam hati
Sesaat kemudian ada seseorang gadis menghampiri dirinya dan membuyarkan lamunannya..
" Fildan! Kamu kenapa, heh? Diem melulu. Udah mau masuk tau! Ayo kita masuk!" Ucap Lesty sambil menepuk pundak Fildan.
"Eh iya, maaf. Yaudah yuk!" Ujar Fildan mengikuti Lesty dari belakang menuju kelas mereka.
Sesampainya di kelas, jam pembelajaran dimulai kembali. Mereka semua terlihat sangat serius, tetapi tidak dengan Lesty. Pikirannya tertuju pada Fildan yang sedari tadi hanya menatap lurus ke depan..
"Fildan tadi kenapa ya? Apa aku ada salah sama dia? Tumben sekali dia diemin aku kaya begini" ucap Lesty dalam hati.
Satu jam kemudian bel sekolah berbunyi menandakan bahwa siswa dan siswi boleh pulang kerumahnya masing masing. Hari ini Lesty pulang bersama Fildan, karena rumahnya berada di sebelah rumah Fildan.
"Dan. Aku pulang bareng ya?" Ucap Lesty
"Hm, baiklah" ucap Fildan datar
"Dan? Kamu kenapa sih? Sakit? (Memegang dahi Fildan) ga panas kok" ucap Lesty lagi
"Aku lagi ga enak badan aja les, makanya begini" ucap Fildan berusaha santai
"Hm, baiklah kita pulang sekarang" ucap Lesty dan kemudian Fildan membukakan pintu mobil untuk Lesty
Ada ada saja pria satu ini, kita lagi bosen juga ih, malah dibecandain.
Fildan yang melihat sahabatnya itu malah membuat dia semakin gemas dengan sikap Lesty.
"Ya Tuhan, apakah ini namanya cinta? Diriku merasa nyaman didekat dirinya" batin Fildan seraya melajukan mobil menuju ke rumahnya
Setelah mengantar Lesty ke rumahnya, Fildan pulang kerumahnya..
"Assalamualaikum, mama papa" ucapnya
"Waalaikumussalam, baru pulang?" Ucap sang mama. Fildan mengangguk.
"Yasudah kamu mandi dulu gih, mama siapin makanan dulu bentar" ucap mama berlalu ke dapur
Fildan pun telah selesai mandi dan langsung ke meja makan. Saat berada di meja makan, Fildan bertanya di mana sang papa berada. Karena sedari tadi dia tak melihat keberadaan sang papa.
"Papa mana, ma? Kok dari tadi gaada" tanya Fildan
"Oh, papa ada tugas di luar negeri, jadi dia harus mengurus segala bisnisnya di sana, dan juga perusahaan 'Oxford Company' milik mendiang kakek kamu Fildan" ucap mama lembut..
Keluarga besar Fildan adalah Keluarga pengusaha ternama dan pembisnis terkenal. Jadi, wajar saja kalau ayah Fildan juga mempunyai perusahaan disana. Karena perusahaan mereka di Indonesia juga sudah terkenal sejak lama.
"Oh, begitu. Baiklah ma, Fildan mau kekamar dulu, istirahat sebentar" ucap Fildan lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kekamar miliknya.
•
••
Pagi harinya Fildan pun berangkat kekampus bersama Ridwan, Irwan, dan Reza. Mereka pergi bersama karena ada tugas diluar kampus hari ini. Hening sesaat, Reza akhirnya membuka suara..
"Woi, lu pada bisu semua ya? Kok ga ada yang ngomong dari tadi sih!" Ucap Reza. Dia berdecak kesal sambil menatap para sahabatnya
"Eh, Reza! Diem napa. Gue lagi kesel nih!" Sambung Irwan
" Lah lu kok jadi marah ke gue sih?, Au ah. Dan, cepatan!" Ucap Reza menyuruh Fildan agar lebih cepat
"Iya, za. Sabar kali" ucap Fildan
Mereka sesekali sibuk berbicara. Tak menyadari Ridwan yang terdiam di pojok mobil.
Sesekali bayangan Lesty menghambur ke dalam otak Fildan. Fildan pun berfikir
"Dia kenapa selalu ada di fikiranku? Ya Allah, jika kamu memang takdir. Satukanlah dengan cara yang benar ya Allah" batin Fildan. Dia pun kembali pada setir mobil dan fokus menyetir.
•••
Lesty pagi ini terlihat sangat murung. Ntah kendala apa yang membuatnya menjadi murung seperti ini.
Rani pun menghampirinya
"Les? Kamu kenapa?" Ucap rani duduk di samping Lesty
"Ngga kok, ran. Aku lagi kepincut kefikiran Fildan aja, kok" ucap Lesty
"Ha? Emang kamu mikirin apa tentang Fildan?" Ujar Rani
"Kayanya aku mulai suka deh sama Fildan, Ran. Aku juga gatau rasa ini tuh berawal dari mana. Tapi yang jelas, tiap aku dekat sama dia itu aku merasa nyaman dengan dia, ran" ucap Lesty lalu tiba tiba menangis dan menghambur ke dalam pelukan Rani.
"Sabar, les. Kota perjuangkan aja dulu Fildan ya. Kalo takdir pasti bersatu kok. Aku juga lagi perjuangkan kak Reza, nih. Soalnya aku juga merasa aku cinta sama dia les" ucap rani mengusap air mata Lesty yang menetes.
"Iya, Ran. Makasih ya" ucap Lesty
"Sama sama"
•••
"Udah sampai belum? Bu Ana udah nelpon gue dari tadi nih!" Ucap Irwan.
"Iya, wan. Beberapa menit lagi sampe kok" ucap Fildan
"Hm, Dan. Gue mau nanya boleh?" Tanya Ridwan setelah sampai di sebuah Bukit Tinggi tempat mereka melakukan tugas diluar kampus kali ini.
"Eu, gimana ya? Boleh kok. Yaudah kita kesana aja yuk" ucap Fildan mengajak Ridwan ke kursi yang ada di seberang sana.
"Teman teman kita tinggal dulu ya?" Tambah Ridwan.
"Eh, mau kemana lu pada?" Tanya Irwan
"Iya nih, mau kemana?" Ucap Reza. Tawa pun pecah
"Hahaha, kita mau kesana bentar kok, wan. Mau ngomong pribadi" ucap Fildan tertawa