Part 1

4 0 0
                                        

"Ris". 

"Risa, Bangun!"

"Sumpah ya Ris, kalau lu mau tidur terus, gue balik nih, unfaedah banget gue nungguin orang kebo" gerutu sahabat ku, sahabat yang sudah seperti keluarga. aku sudah mendengar ketika dia membuka pintu kamarku, namun aku masih sangat malas untuk membuka mata, jarang sekali aku bisa menikmati hari liburku. 

"apa sih na, ini tuh weekend. jarang-jarang gue bisa menikmati hidup" 

"ini tuh udah jam 10. lu lupa, kita ada janji sama nyokap gue" gerutu natasha sambil menunjuk jam dinding di kamarku. 

Astaga, Aku lupa. Hari ini kami ada janji dengan ibu natasha untuk minum teh. aku menepuk jidatku. Bagaimana Aku bisa lupa. Bisa ngamuk Nyonya besar. 

Aku, natasha, mbak bian dan ibunya memang selalu menyempatakan acara minum teh sebulan sekali. quality time, kalau kata anak jaman now.
Ibu Renata atau "yang mulia" kata natasha, adalah orang yang sangat baik, gaul, lembut namun tegas di saat yang bersamaan. Aku sangat mengagumi beliau. Di usianya yang sudah setengah abad lebih beliau masih sangat mempesona.

****

"Kalian dari mana saja?" Tanya mbak bian begitu kami mendarat di kursi yang sudah di pesan.

"Sorry mbak, biasa.."jelas natasha sambil melirikku tajam

" Untung aja, yang mulia ratu belum datang, kalau gak, hmmm.. kalian pasti udah kena semprot".

"Loh, mbak bian dari tadi sendiri?"

"Mama belum datang?, Tumben" tanya natasha hampir bersamaan denganku.

Tak lama setelah itu, tante Rara alias ibu Renata, tiba.

"Sorry ladies, mamah telat. Biasa rapat ibu-ibu" sembari mencium kami satu persatu.

Kalian tau kalau tante Rara bilang ibu-ibu, jangan bayangkan sekumpulan ibu-ibu berdaster yang doyang ngerumpi sama bang jali tukang sayur komplek tapi ini kumpulan ibu-ibu sosialita yang doyan pamer berlian segede-gede gaban.

Yups, keluarga nathasa adalah salah satu keluarga terpandang dan jangan tanyakan kenapa kami bisa berteman. Aku dan natasha berteman sejak SMA.

"Kamu kok makin cantik aja Ris" aku hanya tersenyum,

"Tante juga makin glowing aja"

"Emang deh, kamu paling jago bikin tante berbunga-bunga, nggak kayak anak satu ini, jagonya bikin kriput tante nambah" kata tante Rara sambil melirik natasha yang sedang asik berselancar di gawainya.

"Kok aku lagi sih mah, mamah ja yang hobbynya marah-marah sama aku, padahal aku mah diem aja"

"Tuh bian, adek kamu."

"Loh kok jadi bian, anak mamah itu"

"Udah-udah tan, nanti kriputnya nambah loh" kataku menengahi.

"Hahhahahahhaha.."tawa natasha dan kompak ketiganya langsung menatapku.

"Emang cuma Risa yang paling bisa, nggak mau di masukin KK aja mah?" Ledek Natasha

"Nanti kalau gue masuk KK, lu harus manggil gue kakak,,  ya kan mbak Bian"

"Lu sama gue cuma beda 2 bulan ya, berasa tua kali lu".

Sungguh sangat menghibur, duduk disini. melihat mereka. Aku mungkin tidak memiliki hubungan darah dengan mereka, tapi hanya mereka yang bisa aku sebut keluarga. hanya mereka yang menerimaku, disaat aku sendiri. hanya mereka yang mengulurkan tangannya tanpa melihat siapa aku, bagaimana masa laluku.

****

5N tahun yang lalu

Besok adalah hari pengumuman kelulusanku. aku benar-benar tidak bisa tidur memikirkan bagaimana hasil kerja kerasku empat tahun ini. 
Sendirian berjuang di negri orang, membuatku menjadi pribadi yang tangguh. Setelah kematian orangtuaku. Segala macam pekerjaan asalkan halal aku kerjakan demi menyambung hidupku. Aku memang menerima beasiswa penuh. Tapi aku tidak bisa menggantungkan hidupku hanya pada beasiswa.
"Ris.." sayup- sayup aku dengar suara memanggilku, suara yang sangat aku kenali
"Rissa.."

aku membuka mataku, seketika mataku terpaku pada jam dinding . Baru pukul 6 pagi, rupanya aku baru tidur sekitar 3 jam. ku renggangkan badanku lalu menatap pria yang ada di depanku.Pria yang menemamiku selama setahun belakangan ini. Bolehkah aku menyebutnya Priaku

Kami pertama kali bertemu saat aku kerja part time. Suatu kebetulan yang manis dan juga aneh.

" sayang, ayo cepat bersiap. Bukannya hari kamu wisuda". katanya sembari mengacak rambutku

"ini masih jam 6 Ga, Acaranya jam 10. Aku baru tidur jam 3 tadi saking excitednya.."terangku merapikan penampilan bangun tidurku. Jangan bayangakan penampilan pagi hari yang menawan atau blushing ala-ala novel. Aku juga manusia biasa.

"Kamu perlu mandi dan bersiap-siap juga sayang. Dan maafkan aku. Aku ada rapat penting nanti. Maaf aku nggak bisa mendampingi kamu, tapi aku tetap mengantar kamu ke kampus dulu". Katanya sambil mengecup keningku.

"Tapi nanti malam kita tetap dinnerkan?"

"Sure..."

***
"Na,,,Natasha.. finally, Gue lulus" kataku begitu video terhubung. Ku pamerkan togaku.

"Congratulation Rissa, akhirnya perjuangan lu nggak sia-sia"

"Selamat ya babe..tungguin gue yak. Gue pasti nyusul lu" tambah Natasha dengan baru

"Pokoknya lu harus lulus ini juga. Jangan kebanyakan main deh na, kurang2in party".

"Iya gue tau, kanjeng mami juga udah nge-ulti gue, gara-gara lu lulus. Btw ya bebe, lu jadi balik apa ke indo apa gimana?"

" Nanti gue komporin Tante Rara, kalau lu nggak lulus tahun ini. Biar lu di kawinin sekalian". Kataku tertawa

"Please deh Ris, jangan jadi kompor."

"Na kayaknya gue masih stay disini dulu".

"Mas bule ya?" Tebak Natasya yang hanya ku jawab dengan senyuman.

***


You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 27, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

You And MeStories to obsess over. Discover now