Malam itu, ketika gigil masih menyelimuti kita bercengkerama tentang hidup. Kamu dan bagaimana hidupmu. Lalu aku dan bagaimana hidupku terwarnai olehmu. Dan kala gigil itu semakin terasa pada pekatnya kopi yang menyisakan sepi. Aku melihatmu dibalik sendu. Ada rasa yang kupendam dalam bisu. Pun rindu yang meranggas pada sisa pekatnya kopi.
"Aku putus". Katamu bersama sedih dipelupuk mata.
"Tak apa, semua akan baik baik saja". Kataku yang tertelan gelapnya malam. memeluk pahit diujung lidah.Tak apa. Aku akan terbiasa dengan rasa yang ku tuang dalam aksara. Seperti aku terbiasa merinduimu dalam bisu.
"Kopi ini sudah habis, terima kasih telah menemaniku malam ini". Katamu, mengelusku dengan sisa kesedihanmu.
