"Arina, arina" teriak suara dari balik pintu. Sedikit malas Karina, mengangkat kepalanya dari bawah bantal.
"Astaga kok kamu masih malas malasan sih, Rin. Ayo.. bangun. Kita ke butik".
"Hhhh, iyaa, bun" jawabnya malas, dari balik bantal.
"Segera turun ariin, jangan sampai Ayahmu yang naik kemari" wajah lembut itu, menyembul kembali dari balik pintu memberi ingat.
"Mmmhh,," sedikit cemberut ia turun dari tempat tidur dengan tak bertenaga, ia menarik handuk dari balik pintu, menuju toilet.
"Yang ini cantik, ariin" gombal bunda sembari, menunjukkan sebuah gaun tidur seksi berwarna hitam. Karina, hanya mengernyitkan alis tanda tak suka. Membuat wajah bunda dan mbak Elisa menahan tawa.
"Oh, Tuhan kemana aku harus membawa gundah ini. Seakan mereka tak mau tahu dengan protes ku" batin Karina.
Siang berlalu dengan sendu, seakan merasakan gelisah tak bersahabat dari hati Karina. Dia harus terpaksa mengiyakan keinginan keluarganya untuk menerima pinangan keluarga Mussafi Erlangga.
Pikirannya berkecamuk, rasa sesak seolah padu, membahana dalam jiwanya. Tatap matanya selalu menatap kalender, berharap tanggal 8 agustus itu lama dan banyak rintangan yang akan menghentikkan pertemuan yang akan membunuh setiap mimpi.
Waktu seakan tak ingin melambat, keluarga Musaffi Erlangga, selalu datang untuk sekedar berbincang. Ada perasaan ingin lari sejauhnya, biar jodoh itu tertukar kepada takdir gadis yang lain. Oh, Tuhan. Mengapa aku disini, mengapa aku tak bisa bebas menentukan mimpi hidupku. Melihat Erika, Susan dan Sadil, tertawa renyah, bercerita tentang masa depan mereka selepas S1 nanti, membuatku terpekur diantara gerutuk kutukku pada takdir. Tapi hati kecilku berkata, jangan begitu. Hanya sekedar membisikkan kata kata manis, agar sesekali air mataku tak jatuh.
"Ariin, besok Bastian datang. Kita jemput dia di bandara" sahut Ayah, memecah hening bisu, makanannya yang ku kunyah seperti ingin keluar.
"Hhhh" bolak balik sesekali mataku menatap weker, handphone, suara angin sunyi berkejaran diantara dinding kamarku." Aku benci pertemuan ini". Gerutuku.
"Ariin, cobalah untuk tersenyum" bunda sedikit menggerutu melihat wajahku yang kusut.
"Kamu sakit, sayang" sambut bunda Anya ibu calon mertuaku di pintu bandara.
"Nngg..nggakk kok tante" sahutku kikuk.
"Kok tante sih"balasnya
"Panggil aja ibu atau bunda, sebentar lagi Ariin akan jadi anak kami" sahut mereka sambil terkekeh, aku membuang pandanganku agar air mata yang mengantung tak kelihatan jatuh saat aku menghapusnya.Aku membatin.
Suara pemberitahuan airport membuat dadaku berdegup kencang.Kiranya pesawat yang ditunggu telah landing.Tak karuan sesekali mataku mencari cari mana sosok yang selama ini membuatku penat.
"Bastiannnn,," teriak Bunda Anya, kulihat Tuan Mussafi, bunda Anya, bunda dan Ayah, memeluk pria tinggi kekar berkaos oblong hitam berkaca mata, dihadapanku.
"Kariin" degup jantung seperti terhenti, pria itu menyebut namaku, dan sekarang berdiri dihadapanku. Bastian mengulurkan tangannya, sedikit ragu aku menyambutnya tak bersemangat. Kutahu bunda memperhatikanku sesekali. Dia begitu tahu aku tersiksa dengan perjodohan ini.
"Ariin, ikut disini aja, dimobil bunda Anya"
"Emm..mmhh" seperti ada yang tersangkut dileherku, ketika melihat Ayah dan bunda berlalu naik mobil kami.
Mobil limosin besar itu membuatku kikuk dan bingung saat duduk berhadapan langsung dengan Bastian. Sesekali merunduk, sesekali pandanganku berkejaran dengan jalan layang dikiri kanan bahu jalan.
Mereka asyiik berbincang.
"Semester berapa, Ariin" bastian menegurku lagi, untuk kali kedua membuat buyar lamunanku
"Semester 6 kak" sambutku pelan.
"Kikikik hahaha," aku bingung satu mobil tertawa luruh mendengar jawabanku, apanya yang salah ku cari di kepalaku.
YOU ARE READING
Kulihat Bulan Di Wajahmu
RomanceKeluarga Yusuf Mighdad memiliki putri cantik bernama Karina, gadis yang memiliki cita cita tinggi tentang pendidikan.Datang dari keluarga mapan, harus mengalah oleh sebuah keinginan orang tuanya yang menginginkan, Karina menikah muda.Keluarga Mussa...
