Awalnya

327 24 0
                                        

"Aku benar tak menyangka jika aku lulus seleksi." Haechan menunjukan email yang ia terima ke sahabatnya, Ryu Yangyang. Email itu berisikan keterangan bahwa ia lolos untuk melanjutkan pendidikannya di Jepang.

"Selamat Haechanie, akhirnya mimpimu terwujud" Yangyang memeluk sahabatnya, ia ikut senang mendengar kabar tersebut.

"Terima kasih Yangie."

"Tetapi kau harus tetap belajar untuk ujian akhir okay? Walau kau sudah diterima melalui jalur prestasi lainnya. "

"Iya dong."

"Huu, baik lah Noona Haechanie yang cantik, semangat untuk mengejar pendidikan mu!."

"Terimakasi gege aku menyayangimu." Walau mereka seumuran mereka memang suka saling menuakan satu sama lain.

"Baiklah mari aku antar kau pulang ke panti."

"Tidak usah, mark sudah berjanji akan menjemputku."

"Oke, mari kita tunggu."

*drrrrt...*

"Nihao?"

'......'

"Oh okay."

*pip*

"Maafkan aku chan, aku harus segera pulang. Tunggu mark hyung dan jangan kemana-mana okay?"

"Baik, sampai jumpa Yangiee" Yangyang dan haechan saling melambaikan tangan.

-//-

Hampir 15 menit Haechan menunggu kedatangan mark, namun ia tak kunjung datang

Mark💌

'Sayang, maafkan aku tak dapat menjemput mu hari ini, mom mendadak sakit dan aku harus mengantarkannya kerumah sakit, pulang lah dengan hati-hati.'

"Huh, baiklah." Monolog haechan saat membaca pesan dari kekasihnya.

Haechan pun berjalan pulang menuju kepanti asuhan tempat ia dibesarkan selama ini.

Ditengah perjalanan seorang pria menggenggam lengan Haechan, ia pun melirik tangan tersebut, lalu beralih menatap mata pria itu.

"Maaf ahjussi, ada apa?."

"Temani aku minum sebentar."

"M-maaf ahjussi, aku harus segera pulang."

"Temani aku sebentar saja."

'Ahjussi ini begitu tampan, tapi kenapa dia terlihat begitu putus asa?. Baiklah aku akan menemaninya.' Batin haechan

"Baiklah."

Haechan dan pria tersebut memasuki sebuah bar dan duduk di ruangan vip.

"Ahjussi kenapa disini? Kenapa tidak di rentetan meja dibawah saja?."

"Jangan terus-terus an memanggilku ahjussi, aku masih 21 tahun, bagaimana denganmu?."

"Aku 17 tahun."

"Ohh kau masih pelajar? Kau iilegal masuk kemari."

"Ahjussi memaksaku."

" benarkah?
Oh ya namaku Lee jeno, panggil aku dengan namaku, bukan ahjussi."

"Baiklah oppa, namaku Lee Haechan, tetapi temanku memanggilku haena."

"Senang mengenalmu Haechanie."

"Sama-sama oppa."

"Kau tunggu disini sebentar aku akan kebawah." Haechan menyodorkan jempolnya pertanda ia setuju untuk menunggu, tanpa ia ketahui tujuan sebenarnya Jeno turun kebawah hanya untuk mencampurkan minuman haechan dengan sesuatu yang akan menghancurkan masadepannnya.

-//-skip//-

Sinar matahari mulai menyesap keruangan dimana gadis itu berada, terdengar getaran ponsel, ia pun mulai membuka matanya.

Haechan pov.

"Ohh tuhan? Ada apa ini? Kenapa aku begini?." Aku benar terkejut melihat diriku yang tak menggunakan apapun, perlahan ingatan ku berputar pada kejadian semalam. Lee Jeno. Ya, pasti dia orang yang sudah membuatku begini. Perlahan air mataku mulai menetes, ini semua kebodohanku, sebegitu mudahnya aku terpedaya oleh orang baru.

*drrt."

"halo?"

'SELAMAT PAGI HAENAKU SAYANG! Kau sudah siap untuk bersekolah ? .' Air mataku mengalir

*piip* mematikan panggilan sepihak. Tak ingin Mark curiga padaku, aku sungguh hina. Aku merasa tak pantas lagi bersanding dengannya.

Aku melirik jam
'06.20' masih butuh 1 jam-an lagi untuk bel berbunyi.


Mark Lee 💌

Mark, aku merasa tidak
enak badan. Aku tak
akan ke sekolah hari ini.

Baiklah, take a rest dan
Minum obat okay?
Aku akan mengunjungi-mu
Sepulang sekolah.

-

"Hiks.." aku menangisi hal ini sekian menit, lalu aku memutuskan untuk mandi.
Saat aku berjalan ke arah kamar mandi, aku mendengar gemercik air, dia masih disini?
Tubuhku merosot ditempat, aku terduduk dilantai, aku sungguh hina. Kenapa ini terjadi padaku?

*cklek, pintu terbuka*
Pria itu keluar dari kamar mandi bergerak kearah ku. Aku hanya diam menatapnya, aku sungguh marah, bingung, kecewa dan sangat takut disaat bersamaan.

"Haena? kau sudah bangun. Maafkan aku, aku semalam mabuk." Ia berjalan kearahku dan berusaha membuatku berdiri.

"Pergi!."

"Hae- Pergi!!." Aku memotong ucapannya, aku benar-benar tidak ingin melihatnnya.

"Aku akan pergi, kau mungkin butuh waktu, aku benar-benar menyesal atas apa yang terjadi. Ini kartu namaku. Jika terjadi sesuatu kau dapat menghubungiku." Lalu Jeno pergi meninggalkanku dengan kartu namanya.
Aku meremat kertas tersebut.

Aku memutuskan untuk mandi, namun setelah mandi, kenapa aku masih saja merasa kotor? Padahal kulitku sudah memerah.

---
TBC

Apa maksudnya? Norenmin x HyuckHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora