Oleh:Sholia ayu falenda sari
“akhirnya telah kutemukan kembali secercah cahaya putihmu yang dulu pernah kau berikan padaku”
Selekas kulirik kembali kata itu yang masih saja terpajang dibawah foto sang pangeran penghilang senjaku itu. Ahmad, nama yang sangat cocok dengan tingkah laku kehidupannya sehari hari. Terkadang banyak juga yang tidak memahami kepribadiannya yang mungkin mampu tuk tidak menyukai beberapa sikapnya itu.bukan hanya saja diam, Ahmsad menyapa cewekpun tak pernah.Bahkan senyumpun jarang terlihat dibibirnya.Seakan akan Ahmad tak pernah memerdulikan dunia yang baginya terlihat fana.
Beberapa hari yang lalu sempat kudengar khabar akannya.Cukup pentin tuk memungkinkan diriku tuk mengetauinya.Tak disangka Ahmad adalah seorang Gus pondok yang cukup terkenal di kotanya.Kabar itu anehnya kuterima secara langsung dari sang Ayah yang disaat itu dengan secara tak sengaja lewat tepan didepan rumahnya seusai menjemputku pulang dari sekolah.
“Nak bukankah orang pemilik Rumah itu, adalah orang yang memiliki sebuah pondok tahfid yang terkenal ldikota ngoro itu ya?tapi kok menempati rumah sederhana itu?”
Sontak ku terkejut.ku bertanya tanya pada benak.Memangnya benar, apakah Ahmad gus?dan kenapa bila jaw2aban itu benar kenapa ku baru mengetahuinya saat ku mtelah jauh dari Ahmad.Dan aku sama sekali tak pernah bertanya pada Ahmad soal hal itu.Ahmadpun tidak pernah memberiku kabar itu walau kami pernah duduk bersebelahan.Dengan tanpa anganan panjang lagi ku memberanikan diri tuk bertanya pada Ayah saat itu.
“Ayah serius, rumah yang cat hijau itukan?”singkat tanyaku.
“Lho…kamu nggakn lihat apa bener hijau yang terpasang dekat mobil miliknya itu?”jawab Ayah.
“Ayah membaca bener itu?”tanyaku kembalu yang masih terguluti rasa penasaran.
“Iya sempat ayah lirik soal tulisan itu.tapi ya nggak hanya saja itu nak…karna Ayah juga sempat bertemu dengan pemiliknya tepatnya disaat Ayah masih mengajar disalah satu sekolah disana dulu, pemilik rumah itupun terkenal hinnga berita kesuksesannya menyebar secara cepat.Hingga suatu saat kepala sekolah dari sekolah itu mengundang ia sebagai tamu yang terhormat dan sempat juga Ayah dulu berjabat tangan dengannya.Apa pemilik itu sengja menyembunyikan jati dirinya dengan bertempat di rumah sederhana itu?”
“Mungkin juga yah?”
Saat itu aku tak mampu lagi berkata sedikitpun kepada ayah, karna Aku tanpa sengaja sudah seperti terbang hingga sidrotun muntaha saat itu.Saat itupun kutersadar bahwa perilaku dan sikap Ahmad selama ini adalah cara ia tuk menyembunyikan jati dirinya yang begitu nternama di kotanya.Aku percaya pada Ayah karna apa yang diucapkannya pasti tak terselibkan kebohongan Karna ia slalu berprinsip pada kejujuran.Namun terkadang juga ku rasa tidak nyaman disamping Ahmad mengenai hal itu.Pernah ku melihat Ia tertawa dan pernah juga ku melihat ahymad mengeluarkan sepeser senyum manisnya itu denagan khas sedikit memperlihatkan barisan rapi gigi putihnya itu.
Namun kini sayangnya , ku tak bisa lagi melihat srmua itu.Mendengar suaranya yang mampu menenagkan hati ini sajapun kini belum sama sekali terdengar di telinga ini.Mungkin ku hanya mampu melihat ia tertawa hanya disebuah imajinasi dalam alurnya khayalan belakaku.Serta senyum itu kini hanya mampu ku lihat disebuah mimpiku dan nada bicarany hany mampu tuk ku dengar melalui seberkas kenangan hangat yang dulunya pernah terbuai hangat bersamanya saat sebangku bersamanya dulu.
“Kring………” bunyi bel pulang sekolah akhirnya telah berbunyi.Pertanda mata pelajaran hari ini telah berakhir.Sontak dalam waktu sesaat membuyarkan lamun ini yang berkrumun.cepat cepat ku bereskan buku bukuku yang masih berserakan di atas meja ini tanpa meninggalkannya satupun.
Ku taruh dalam tasku.Lalu ku gendong tas di pundak.Meninggalkan bangku yang ku singgah ini seusai menggeserkannya sedikit kea rah depan.
“Bu assalamualaikum! Minta doanya!”Ujarku dengan memberi sedikit senyum teduh pada guru mapelku di jam terakhir saat itu.
