Alana hanya melipat tangannya tanpa bicara. Ada tatapan sakit hati yang terlihat jelas di mata biru Alana saat pria itu kembali bicara.
"Mereka penting untuk karirku, aku tidak bisa meninggalkan mereka," sergah Charlie saat mendengar Alana mengeluhkan lingkaran pertemanan Charlie yang bisa dibilang borjuis saat ini.
"Aku tidak memintamu meninggalkan mereka, sedikit pun tidak."
Apartemen Alana yang biasanya terasa hangat karena kedatangan Charlie kali ini berubah dingin. Perang dingin keduanya yang dimulai dari bulan lalu tak kunjung cair. Alana merasa benar, sedangkan Charlie merasa tidak ada yang salah.
"Kau terus mengeluh, Al. Aku bisa apa? Mereka temanku... dan kau pikir aku harus bersikap bagaimana?"
"Char, aku juga punya teman. Tapi aku bisa menjaga sikapku untuk menghormatimu. Sedangkan kau? Oh, ayolah. Kau pasti akan marah-marah saat Jorge bahkan menyentuhku."
"Alana ini berbeda!" Suara Charlie naik satu oktaf dan itu memancing Alana untuk bersuara lebih tinggi.
"Apanya yang berbeda?!" Alana menuntut.
Charlie hanya meremas rambutnya gemas. Ia tidak tahu mengapa Alana bisa meledak hari ini, seperti saat ini.
"Pertemanan kita berbeda. Aku dan kau berbeda," balas Charlie keras.
"Well, kita berbeda. Ya, kau benar. Berbeda dan tidak bisa berkompromi," jawab Alana sinis.
Charlie menghela napas, tahu ke mana arah pembicaraan ini akan berlangsung. Charlie masih memasukkan tangannya ke dalam saku hoodie hitam dan menatap Alana tajam.
"Bisa, kalau kau tidak banyak mendengarkan kata-kata bodoh orang di luar sana tentangku. Alana, dengar... Benny, Watt, dan Sam adalah produser keren. Aku perlu banyak belajar untuk karirku, untuk kita."
"Apa selama ini aku pernah menyinggung soal Benny dan entah siapa saja teman-teman gaulmu itu? Aku tidak bicara itu. Aku bicara soal sikapmu. Sikapmu dengan teman-teman wanitamu!" Alana semakin kehilangan kontrolnya dan mulai menunjuk Charlie.
Belum sempat Charlie menjawab, Alana sudah menghujaninya kembali dengan sergahan yang tidak bisa lagi dibantah.
"Kau selalu tanya apakah Marc ada saat aku hendak berkumpul dengan teman-temanku. Kau selalu melarangku seandainya Marc ada. Kau tidak pernah suka dengan Marc sampai menjauhkanku dari mereka. Okay, fine. Aku hanya datang saat tidak ada Marc! Sedangkan kau?
"Tunggu, aku belum selesai bicara. Kau bahkan tidak peduli kalau aku tidak suka dengan teman-teman wanitamu yang genit itu. Aku tidak suka karena mereka menjelek-jelekkanku sebagai gadis kutu buku, rumahan, kurang gaul, dan semua omong kosong itu. Kau di mana? Kau ke mana saat aku ingin cerita itu semua? Oh atau bahkan saat aku memintamu untuk tinggal, kau selalu memilih mereka!" Kemarahan Alana memuncak sampai ia hampir menangis saat sadar selama ini tidak pernah dianggap oleh Charlie.
"Saat aku bilang tidak boleh, kau tetap berangkat. Saat aku bilang tidak mau, kau memilih berangkat sendiri. Saat aku marah, kau selalu punya kata nanti. Tapi sebaliknya, sekali aku berkumpul dengan teman-temanku dan tidak sengaja ... aku tidak tahu kalau Marc akan datang, kau ingat apa yg kau lakukan? Kau tidak mengangkat telfonku selama satu minggu dan kau marah! Kau mengataiku tidak menghargaimu, aku tidak peduli perasaanmu, aku tidak memahamimu!"
"Al, Marc mencintaimu! Bagaimana bisa aku membiarkan kau bertemu dengannya dan memberi pria sialan itu kesempatan mengambilmu?"
Alana menggeleng, marah dan tidak percaya.
"Yang sialan itu kau, bukan Marc!"
"See? Kau membelanya!"
Alana menghela napas panjang, kesal.
YOU ARE READING
Done (One Shot)
FanfictionWe made a promise to be forever You said you wanna stay You said you'll be beside me You said you'll be there for me But then i realized Forever doesn't last these days
