BATAS

14 1 1
                                        


Dia mengantarku sampai perempatan. Tidak ada kata perpisahan, dan ia begitu saja membelokkan sepedanya, tanpa memandangku sama sekali. Itu pertama kalinya ia pergi begitu saja. Dan ternyata, juga yang terakhir.....

***

Sudah lama aku ingin bertemu, rindu rasanya. Berbulan-bulan kita hanya mengobrol lewat pesan dan sesekali lewat telpon. Tapi bagi orang yang dimabuk asmara, cara seperti itu tidak cukup.

"Aku rindu" kataku di hampir tiap kali kita berbincang.

Tentu saja dia mengungkapkan hal yang sama.

Tapi apakah kata "aku rindu" benar-benar bisa menyirnakannya? Sama sekali tidak. Mungkin malah menjadi kobaran rindu baru. Semakin besar, dan esok hari, jika tak ada penawar, mungkin saja akan membakar. Siapkah kita untuk itu?

Kini, masalahnya, kapan aku ada waktu? Berulang kali dia merengek dan meminta barang sebentar saja untuk bersua. "Sebentar saja, apa susahnya?" Katanya!

Ketika tersudut macam itu, aku hanya bisa berjanji "nanti". Tanpa ada kepastian apapun. Mungkin iya, tapi entah kapan.

Jarak membentang cinta kita, menguji setia dan percaya. Menguji sebel dan bosan. Kita sama-sama tak tahu, kapan finishnya. Atau bahkan, berhenti di tengah jalan.

***

Aku hafal aromanya. Sweet pink. Aroma yang sebelum bertemu dengannya, aroma itu seringkali membuatku merasakan hal aneh. Aku tak tahu namanya, sebelum bertemu dengannya. Dan ternyata, setiap kali bersua, bajunya selalu beraroma sama. Aku sudah membeli perfum sweet pink, tapi tetap saja tak sama. Mungkin aroma tubuhnya yang membuat jadi lain.

***

Waktu semakin lama berjalan, rindu kita semakin menebal. Sudah berikat-ikat janji aku beri, dan aku belum juga punya waktu bersua. Tapi jika terus seperti ini, keadaan akan semakin memburuk.

Maka aku menjual hp ku, tanpa ia tahu. Ia mungkin dan pasti mencariku karena tak memberi kabar. Tapi akhir-akhir ini, intensitas hubungan kita makin menurun. Dan jika aku "hilang" hanya beberapa jam, mungkin ia masih maklum.

Dengan uang itu, aku bisa menggunakannya untuk pulang dan membelikannya sesuatu. Anggaplah sebagai ungkapan maaf atas janji-janji pulang yang baru bisa terbayar. Yang tentu saja, dibubuhi rindu dan sayang.

Aku pulang, dengan kereta api. Lantas melaju ke tempat kerjanya. Aku hafal jam kegiatannya dan dimana ia berada. Aku sampai, tepat jam 12 kurang 15 menit. Jamnya istirahat.

Tapi kepulanganku nampaknya tak tepat waktu. Atau bahkan terlalu tepat. Aku melihatnya sedang duduk manis di kursi panjang. Tapi tangannya menggenggam tangan. Tidak ada keraguan lagi, bahwa itu tangan laki-laki. Dan aku sama sekali tidak kenal.

Aku menghela nafas panjang. Tak tahu harus berbuat apa. Tak mungkin rasanya datang tiba-tiba dan memerkeruh suasana. Aku pulang bukan untuk itu.

Dengan hati yang penuh perasaan tak karuan, aku titipkan "sesuatu" yang semestinya aku berikan langsung. Tapi waktu dan keadaan tidak memungkinkan. Aku titipkan kepada temannya, yang jelas menampakkan wajah takut dan khawatir. Ia mungkin tahu, keadaan sedang sangat tidak baik.

***

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 21, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

BATASWhere stories live. Discover now