Biru

38 3 0
                                        

Untukmu, yang sosoknya selalu ku temukan di keramaian.

Hai. Namaku biru. Aku adalah salah satu warna yang berharap bisa mewarnai salah satu lembar di dalam kisah cintamu.

Dalam surat ini, aku ingin mengakui dosa kecilku. Dosa yang selalu ku lakukan semenjak aku mengenal dirimu.

Dosaku adalah menjadi pecandumu. Tak hanya itu, aku juga menjadi pencuri, yang diam-diam mencuri pandang pada sosokmu.

Tapi tenang, aku tak pernah berusaha untuk mengusikmu...., mungkin?

Apakah candaan yang terkadang ku lemparkan padamu dapat didefinisikan sebagai usaha untuk 'mengusik' mu?

Atau, senyum lebarku dan sapaanku padamu juga termasuk di dalamnya?

Apakah pertanyaan-pertanyaan yang sengaja ku karang hanya untuk berbincang denganmu juga termasuk?

Entahlah. Hanya kau yang bisa menjawabnya.

Tapi ada hal yang pasti yang dapat dengan mudah ku jawab!
Alasan aku menjadi pecandumu.

Aku menyukai wajah tanpa ekspresimu. Itu terlihat menggemaskan di mataku.

Suaramu yang dalam dan tenang tapi sangat jarang kau suarakan. Kau lebih suka diam. Menghemat energi, katamu.

Aku juga terpesona pada tatapan teduhmu. Tatapan yang membuatku memendam harap 'ku harap aku dapat memiliki tatapan teduh itu hanya untukku'.

Kau tertawa? Atau malah kau takut karena pengakuanku?

Maaf. Aku pun tahu jika harapanku terlalu tak masuk akal. Tapi aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku terlanjur jatuh pada lapisan-lapisan pesonamu.

Terlebih lagi, aku juga dengan tak tahu malu masih saja menghayalkanmu, maksudku, menghayalkan bagaimana saat kau menjadi kekasihku.

Itu adalah khayalan yang sangat sulit untuk dibayangkan.

Kau yang tenang seperti air dan aku yang seperti angin rebut.

Sungguh khayalan yang tak pernah ada kepastiannya.

Hai, kau. Yang sosoknya selalu ku temukan di keramaian. Masihkah kau di sana? Aku mau menceritakan tentang rahasia kecilku.

Aku selalu dengan mudah mengenali dirimu. Bahkan hanya dalam satu kedipan mata, aku dapat mengetahui ada dan tidaknya sosokmu di keramaian. Kemampuan yang luar biasa, bukan?

Namun jika kau pikir itu merupakan bakat sejak lahir, kau salah. Itu adalah kemampuan yang ku dapatkan setelah mencandamu setelah sekian lama.

Aku menjadi terbiasa. Terbiasa  tersenyum senang setelah berhasil menemukanmu. Terbiasa mengamatimu dengan segala aktivitas yang kau lakukan. Kebiasaan inilah yang membuatku dengan mudah menemukan sosokmu saat ini.

Aku bahkan bisa menemukan sosokmu lewat sudut mataku. Ini serius. Aku benar-benar dapat melakukannya.

Seperti kemarin, saat hari valentine, saat aku sedang bercanda bersama teman-temanku. Tiba-tiba aku menyadari kehadiranmu lewat sudut mataku. Yang setelah ku pastikan memang itu kau. Kau yang sedang bercengkrama dengan warna merah yang memikat. Aku tahu warna itu, warna yang kau temukan saat kau sedang menjalani masa pengabdian beberapa waktu lalu.

Lalu aku merutuki kemampuanku yang selalu dapat menemukan sosokmu di keramaian. Kemudian berakhir dengan mengamatimu, seperti kebiasaanku. Namun kali ini, ku temukan sosok yang sangat berbeda dari yang ku kenal.

Wajahmu dipenuhi dengan berbagai macam ekspresi. Kau yang terlihat banyak bersuara. Dan tatapanmu, tatapan berbinar yang memuja.

Aku tahu. Aku sadar. Aku biru, warna yang sepertinya tak kau butuhkan hadir dalam kisah cintamu.

-Biru-

BiruStories to obsess over. Discover now