We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Senjaaa💕

31 5 1
                                        

Lagi dan lagi tentang senja. Cahaya yang tercipta dari mentari yang tenggelam di peraduan. Perlahan tenggelam dengan menampilkan kilauan oranye yang menghipnotis setiap insan yang melihatnya. Tidak semua insan nampaknya. Karena tak sedikit insan yang melewatkan masa indah di ujung petang. Kesibukan yang membuat mereka berlalu lalang, namun tak menyadari akan keindahan ini sekejap saja. Hanya sekejap, karena setelah beberapa menit senja akan berganti dengan langit malam yang gelap. Walau tak sepenuhnya gelap, karena rembulan dan gemintang menemani malam.

Di sebuah pencakar langit. Ada sosok anak gadis yang tengah menikmati senja. Yang menanti mentari itu tenggelam dengan sempurna lalu terganti dengan langit malam. Wajahnya tampak tenang, dengan angin yang menerpa wajah nya. Menikmati setiap pelukan yang di ciptakan angin. Lalu kembali terbuka dengan menatap lurus ke arah mentari yang sebentar lagi menghilang.

Hingga lama-kelamaan mentari yang sejak pagi bersinar, tenggelam. Kini di gantikan dengan langit yang gelap. Walau belum sepenuhnya gelap.

Gadis itu bangkit dari duduknya. Membersihkan debu yang sekiranya menempel di bagian belakang nya. Melangkah menjauhi tempat yang semula dia jadikan sebagai tempat untuk menikmati senja. Perlahan menjauh, hingga "klik" bunyi pintu rooftop itu terdengar. Gadis itu pergi menjauh dari rooftop, melenggang pergi dan menuju ke suatu tempat. Tempat kesekian yang membuatnya candu.

perpustakaan.

Gadis itu suka membaca. Gadis itu juga menyukai aroma yang tercipta dari tiap-tiap halamannya. Aroma nya buat candu. Melahap beberapa buku dalam waktu sehari. Bukan lagi One day one book, tapi One day much books.

Berawal dari proker dirinya sendiri tentang buku, yang pada awalnya dia harus menyelesaikan satu hari satu buku. Kini ia tak bisa, karena candu nya. Hingga pada akhirnya, dia memutuskan untuk mengubah proker hidupnya

One day much books

Dinginnya pendingin ruangan masuk melewati pori-pori kulit. Membuat gadis itu sedikit merapatkan jaket yang di kenakan nya.

"Coklat panas nampaknya cocok" Ujar gadis itu.

Selain pecinta senja, gadis itu juga pecinta coklat. "Tiada hari tanpa coklat" mungkin kalimat itu cocok di sandingkan dengannya.

Annisa Barhira Syafiqah Rayya Syahlaa adalah nama dari gadis itu.

Artinya perempuan pintar yang bersimpati dengan lemah lembut dan cahaya mata yang kebiruan. 

Menyusuri jalanan kota yang ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang. Klakson terdengar dengan nyaringnya. Melantunkan ayat suci dari bibirnya. Murojaah hafalan yang ada di kepalanya.
Menikmati setiap untaian ayat yang indah. Dengan nada yang disukainya.

Tak terasa kaki nya sudah menapaki di sebuah kosan, tapi sudah menjadi seperti rumah baginya. Karena disini, ia melakukan banyak hal. Dari bangun tidur, pulang sekolah, sampai ingin tidur lagi.

"Percaya Syaf, apapun itu" ujar nya ketika menatap sebuah foto yang melekat di dinding kamar kosan nya.

Sebuah foto dirinya dengan sosok yang sangat ia rindukan. Sosok yang dulu selalu membangunkannya dalam mimpi yang panjang, yang memasakkan makanan kesukaan nya, yang mengecup dahi nya dengan penuh kasih sayang ketika matanya ingin terpejam. Ya, seorang ibunda. Sang ibunda yang telah melahirkannya. Yang kini, ia tak tau sedang apa sang bunda di sana?

Beberapa hari lalu

Jarak tercipta untuk saling merindu nampaknya dan saat ini ku sedang merindu. Rinduku kini kian membesar dan meminta adanya temu. Tapi tak pernah tau, kapan waktu itu datang. Waktu dimana gunungan rindu itu saling bertabrakan dan hancur menjadi serpihan yang rasanya sangat berarti. Bagaimana bisa serpihan itu berarti? Serpihan itu bagaikan saksi. Saksi betapa besar nya rindu itu. Temu ku dengan mu hanya sekejap mata rasanya. Aku yang datang tiba-tiba dan pergi dengan tiba-tiba tanpa ada kabar. Hanya kata maaf dan selamat tinggal yang bisa ku ucapkan. Kenapa? Karena aku tak tau harus mengatakan apa lagi nantinya. Tentang kota yang menyimpan begitu banyak kenangan. Ku rindu. Masa dimana aku berjalan tanpa arah dengan senyum yang selalu merekah. Hingga mata itu tak lagi nampak seperti mata, nampak nya hanya seperti sebuah garis yang membentuk sedikit lengkungan. Kini ku menatap langit yang sama. Berpijak di bumi yang sama. Namun dengan ekuator yang berbeda.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 12, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SenjaStories to obsess over. Discover now