Aku masih tak percaya berada disini. Menjadi mempelai wanita dari pria berwajah tampan dan kaya. Aku bahagia. Setidaknya begitu. Karena tak jauh dari sana, bisa kulihat kedua orang tuaku yang gembira karena anak perawannya telah menikah. Wajah mereka berseri-seri saat banyak orang yang mendekat dan bersalaman. Mereka seperti telah memenangkan lotre satu triliun dan sesumbar. Dan yang aku ingat, belum pernah mereka secerah ini.
"Tahan! Tahan! 1-2-3"
Jepret!
Mataku berkedip setelah cahaya dari lampu kamera menyambar. Sejak tadi kutahan senyuman di bibir. Tak kubiarkan salah satu sudut bibir turun walau terkadang tak sengaja melamun. Ruangan ini memang tak sesak dan tak longgar, namun tanganku berkeringat menggenggam buket bunga yang indah. Gaunku pun tak tampak layu, karena jaring besar yang kupakai terbuat dari kawat besi berlapis kain lembut. Sebenarnya gaun putih ini sangat indah, tapi tidak bagiku. Ini berlebihan. Membuat badanku terlihat kecil di sebelah lelaki ini. Padahal sepatu hak dengan tinggi 10 senti telah kupakai. Aku lebih suka saat tubuhku dilihat kurus tanpa asupan gizi dengan baju yang kedodoran, bukan pakaian yang menggenggam erat pinggangku.
Sebenarnya kakiku agak gemetar. Sejenak inginku pergi dari sini dan meletakkan kaki di atas sesuatu yang lembut. Tapi tidaklah mungkin ku lakukan. Tak jarang kulirik lelaki di sampingku yang selalu membalas sapaan para tamu dengan lembut, namun singkat. Dan jika kuamati, aku sama sekali tidak mengenal baik tamu undangan ini. Mungkin yang benar-benar menonjol di mataku adalah kakak laki-lakiku yang sedang menjamu tamu. Setiap belokan jalan, selalu saja ada yang menyapanya. Hampir sama denganku yang harus membalas sapaan tamu-tamu itu sambil berjabat tangan. Tak jarang ia lemparkan senyum hangatnya kepadaku. Membuatku ingin mengeluarkan sesuatu dari bibirku.
"Kamu lelah?"
Lamunanku buyar saat seseorang berbisik di sebelahku. Aku mengangguk pelan sebagai jawaban 'iya'. Ia menangkap dengan baik isyaratku. Dan memang tak lama, ia meminta pada seseorang untuk segera menyelesaikan acara ini.
.
.
.
.
.
Ku tatap rembulan yang tersenyum bahagia bersama bintang-bintang. Seolah menyambut diriku untuk bergabung dalam kebahagiaan. Sayangnya, dibalik wajah tenang ini, aku tak siap untuk melanjutkan kehidupan ke babak selanjutnya. Aku ingin berkata pada rembulan, bahwa dari segala pancaran bintang masih ada yang meredup, jauh.
Angin malam tiba-tiba berhenti saat kudengar langkah kaki di belakangku. Aku bisa merasakannya, sampai ia behenti. Kira-kira 2 meter dari tempat aku berpijak sekarang.
"Angin malam tidak membuatmu bahagia, jika itu yang kau cari."
Suaranya yang halus masuk ke gendang telingaku. Ku tutup jendela besar tersebut dan berbalik. Yah benar, ia menatapku. Aku tak bisa lihat pancaran matanya. Kemudian ia berlalu dan memilih berbaring di atas ranjang besar.
Bau wangi bunga di ruangan ini sudah hilang beberapa waktu lalu. Itu karena ia mual dengan pewangi bunga yang terlalu tajam. Ia lebih suka kamar yang tenang dengan warna yang tak mencolok di mata. Itu sebabnya ia meminta petugas kamar hotel untuk menghilangkan bunga di segala penjuru kamar ini.
Setidaknya aku mengetahui satu hal yang tidak ia suka, bunga.
Perlahan, kuletakkan badanku di atas ranjang besar itu. Tidak ada suara decitan, hanya ranjang yang sedikit bergerak. Namun ia masih diam saja sibuk dengan handphonenya. Akhirnya, kubaringkan tubuhku membelakangi lelaki itu. Lelaki yang beberapa jam yang lalu telah sah jadi suamiku.
.
When I Can Choose
'Angin malam tidak membuatmu bahagia, melainkan sakit'
YOU ARE READING
When I Can Choose
RomanceTuhan telah menuliskan takdir manusia pada sebuah buku. Yang manusia itu sendiri pun tak tahu isinya. Selama mereka hidup, manusia bisa memilih jalan yang ingin mereka tuju. Hingga mereka sampai pada takdirnya.
