Sejak awal harusnya aku paham, kita berdua, tidak untuk saling memiliki
Semua berubah begitu aku sadar, jantung ini berdetak untuk orang yang salah. Untuk dia yang sering sekali membuatku tertawa. Kami bukan dua hati yang akan saling memiliki. Bukan pula yang akan saling jatuh cinta. Aku dan Zelo hanya teman.
Ya, kami teman berbagi 'kehangatan'.
Kadang di apartemenku, kadang di tempatnya. Beberapa kali bahkan diluar. Saat kami mencuri waktu diantara padatnya jadwal kuliah. Atau saat kami menghabiskan akhir pekan.
Aku tak pernah mempermasalahkan ini sebelumnya. Karena aku merasa, kami adalah contoh sebuah simbiosis mutualisme. Tapi semua diluar kendali ku. Saat bagaimana jantung ini berdetak cepat bahkan hanya dengan dia duduk bersandar padaku. Atau saat dia dengan santai mengacak rambutku. Saat wajahnya terus ada di benak ku. Ah, apalagi saat kami, saling mengisi satu sama lain.
Saat aku mulai egois, dan semua berakhir. Aku tetap tak bisa menerima kenyataan itu. Aku dengan begitu nekat mengatakan bahwa aku menyukainya malam itu. Lantas beranjak meninggalkan apartemennya menyisakan dia yang kebingungan. Tapi dia tetaplah dia. Aku tak bisa merubah itu. Apapun sudut pandangnya.
Zelo
Meet me at my place?
I'll be home before 10.30
Pesan yang masuk tak lebih dari 10 detik yang lalu itu bak badai bagi hatiku.
Aku tidak siap.
Aku benar-benar tidak siap. Aku tahu, apa yang akan terjadi jika aku kesana. Tentu saja, dia akan mengajakku berbicara soal sesuatu yang kukatakan semalam. Aku memilih untuk bungkam. Mengabaikan pesannya. Menjauh. Membuat semua semakin rumit.
Tapi, bukan Junhong namanya kalau ia tak mendapatkan apa yang ia mau. Dia menghubungiku, tepat sepuluh menit setelah aku membaca pesannya.
"Ra, Lo udah di jalan?"
"Zel.." potongku.
Mendengar dia dengan nada bicara datar macam itu membuatku jengah. Sangat.
"Hmm?"
Kuhela nafas berat.
"I won't come tonight."
"Why? Lo harus jelasin semua. Apa maksud Lo bilang, Lo suka sama gu-."
"Gue capek Zel."
Dia diam.
Ya, ini kali pertama aku menolak dengan begitu saja. Tanpa ada kalimat "huwaa Zelo maaf" or "yah gue ga bisa beb". Penolakanku kali ini terdengar lebih dingin dan tegas. Sangat malah.
"What do you mean?"
"Gue...hhh,I'm not in my mood today. Just...yeah. mungkin gue ga bisa ketemu Lo seming-...no sebulan ke depan. Bye Zel. Have a Nice day."
Pip
Yeah, Han Saera dan sifat pengecut nya.
Aku cukup lega setelah mengatakan itu. Junhong juga tidak mencoba meneleponku setelahnya. Membuatku semakin paham batasan yang kami sebut teman ternyata memang hanya teman. Tapi setelah itu aku sadar, that I've just said such a stupid shit.
------------
Zelo
Ra?
Are you Ok?
Can you just explain me maksud omongan lo?
Ra, serius gue nyoba buat ga terlalu mikirin your stupid shit kemaren.
YOU ARE READING
✅Songfic✅ | Random K-Pop Idol
FanfictionSong fiction dengan cast random dan lagu yang random juga yang ditulis sekali duduk hehe. Beberapa juga cuplikan ff yang baru aku buat tapi masih kesimpen di draft. Enjoy
