1

4 1 0
                                        

"Berhenti, mengasihani dirimu sendiri..jangan menangis...kau pasti kuat menjalaninya...bertahanlah...bertahanlah sedikit lagi..."
Kata-kata itu selalu diulangi berulang kali didalam hatinya. Sambil menahan air matanya yang akan jatuh menetes.
Ia menggigit bibir dalamnya menahan rasa sakit yang dirasakan disekujur tubuhnya.

"Kau tak pantas menjadi seorang putri seorang raja. Kau sangat memuakkan...lihat lah dirimu kau sangat menyedihkan" ucapnya kasar sambil mendorong tubuh kirei hingga tersungkur ke tanah
"Ups..aku lupa..untuk melihat dunia ini saja kau tak bisa...apalagi melihat dirimu sendiri yang menyedihkan" ucap Melani diiringi tawa menghina.

"Jika kau bukanlah seorang putri sudah lama kau akan ku singkirkan, aku tak sudi memiliki adik sepertimu...menyingkirlah kau dari hadapanku.. dan jangan pernah menampakkan wajahmu lagi dihadapanku!"
Ucap melani sambil menendang tubuh tak berdaya kirei yang masih tersungkur di tanah dan kemudian melangkahinya dan pergi begitu saja.

Tak ada yang membantunya. Walaupun disekelilingnya terdapat dayang yang mengelilinginya.

Bukan tak mau membantu akan tetapi tak berani membantu karena semua dayang takut akan kekejaman melani.

Kirei perlahan bangun dari keterpurukannya sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Ini hal biasa yang selalu dialami olehnya jika bertemu dengan kakak-kakaknya.
Ia akan disiksa baik secara fisik maupun verbal.

Kirei berjalan tertatih sambil memeluk tubuhnya dengan satu tangan dan meraba sekelilingnya dengan tangan yang lain.

Dalam hati ia berharap semua akan berlalu dan akan baik-baik saja.

Ia tak perlu bantuan orang lain dalam mencari jalan, karena ia sudah hafal seluk beluk istana tanpa penglihatannya. Karena mendiang ibunya, permaisuri sebelumnya, mendidiknya dengan sangat baik. Sampai akhirnya beliau meninggal akibat penyerangan yang dilakukan ketika sedang melakukan perjalanan ke kerajaan lain.

Ketika sampai dikediamannya kirei mengobati dirinya sendiri sambil menahan sakit.
Luka lamanya saja belum sembuh. Ditambah dengan luka baru yang membuatnya bertambah parah.
Biasanya kirei akan terbaring dan mengalami demam tinggi tanpa ada dayang yang membantunya.
Kediamannya terletak di sudut terjauh istana dan tanpa pengawalan ataupun dayang yang membantu seperti putri di kerajaan lainnya.
Pakaian kirei pun sangat sederhana dan tampak sedikit lusuh. Tidak seperti putri-putri lainnya yang dikelilingi kemewahan, pakaian dan pernak pernik sejenisnya.

Kirei merupakan putri yang terbuang yang terabaikan, bahkan diingat pun tidak oleh yang mulia raja. Yang merupakan ayah kandung dari putri kirei.

Kirei selalu merasa kesepian dalam hidupnya. Belajar hidup sederhana dan memenuhi kebutuhannya sendiri.

***

Keesokan harinya dengan tubuh masih terserang demam. Ia keluar dari kediamannya menuju ke hutan yang terletak tak jauh dari kediaman kirei. Hutan perbatasan antara kerajaannya dengan kerajaan timur.
Disanalah tempat kirei memenuhi kebutuhannya terutama untuk mencari obat-obatan yang pernah diajarkan ibundanya.

Kirei berjalan perlahan. Mengetatkan pakaian musim dinginnya yang sudah tipis termakan usia. Tertatih sambil memegang tongkat kayu yang dibuatnya sendiri sebagai teman yang memandunya berjalan di hutan sekaligus sebagai alat perlindungan dirinya.

Ia menghitung langkah ke tempat yang biasa dituju untuk mencari tanaman obat luka disekujur tubuhnya dan untuk demam yang dideritanya.
Ketika tiba di tempat yang dituju ia berjongkok dan meraba tanaman yang dicarinya. Sambil menahan demam dan dinginnya cuaca di pagi hari itu. Baginya siang maupun malam tak ada bedanya, semua akan terlihat gelap gulita. Segelap kehidupannya. Walaupun dalam hati ia selalu berharap akan ada cahaya yang menerangi hidupnya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 24, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

KireiWhere stories live. Discover now