Seongwu mulai berlari kencang. Kali ini ia mengayunkan kakinya yang sudah terlampau lelah dan banyak dihias goresan luka oleh ranting-ranting tajam dengan sekuat tenaga. Ia bahkan tidak berani menolehkan wajahnya ke belakang barang sedetik pun.
Kali ini Seongwu tidak boleh lengah, keringat yang tumpah membanjiri nyaris seluruh tubuhnya kontras bertabrakan dengan dinginnya musim dingin di bulan Desember yang sama sekali tidak ingin ia hiraukan. Kemeja hitam dan celana jeans yang sedang ia kenakan sudah acak rombeng tak berbentuk.
Namun sekali lagi, Seongwu tidak mau perduli. Yang menjadi fokusnya saat ini adalah kabur, lepas, jauh dari kawanan serigala-nya yang sudah lebih dari sepuluh jam berusaha untuk membawanya kembali ke 'sarang' mereka, sebuah mansion megah yang terletak persis di tengah hiruk pikuk kota Seoul, yang setiap sudut bangunannya dijaga ketat oleh minimal dua Anggota Pasukan Khusus dibawah komando langsung Pimpinan Tertinggi, yang tak lain dan tak bukan adalah Alpha mereka sendiri.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Ya. Seongwu merupakan salah satu anggota penting dari kawanan manusia serigala terbesar dan tersohor diantara kawanan-kawanan serigala yang pernah ada. Namun pelariannya ini bukan tanpa alasan. Ironis memang, betapa manusia serigala sangat dijunjung tinggi atas kesetiaannya, betapa menjadi loyal adalah hal yang paling penting bagi kaumnya. Seongwu sadar penuh bahwa apapun yang ia lakukan saat ini adalah sebuah penghianatan besar yang bila dikalkulasikan, maka kejahatannya setimpal dengan hukuman mati.
Seongwu sadar penuh bahwa apapun yang ia rencanakan tidak akan membawa hal baik, baik bagi kaumnya, maupun dirinya sendiri.
Namun tekad Seongwu sudah bulat. Perjodohan ini harus dihentikan, bagaimanapun caranya. Adat yang sudah berlangsung turun-temurun sejak nenek moyangnya harus dipatahkan, pikir Seongwu. Hatinya sudah siap mantap untuk menerima segala konsekuensinya. Mungkin saat ini Seongwu salah. Bisa jadi ia tidak sepenuhnya melenceng. Persetan. Seongwu sudah muak.
"Ayah, jiwaku ini jiwa bebas. Mana bisa diikat seperti ini? Apalagi perjodohan? Yang benar saja!", protes Seongwu suatu ketika, yang hanya dijawab dengan tatapan sinis ayahandanya.
"Sebagai anak sulung keluarga Ong seharusnya kamu merasa malu. Seharusnya kamu sadar betapa menjadi calon pendamping seorang Alpha akan mendatangkan kemasyuran bagi keluarga kita. Sudah. Kita akan percepat tanggal pernikahan kalian menjadi bulan depan." dengan adanya ultimatum dari sang Ayah tersebut Seongwu tak bisa berkata banyak. Maka dengan tanpa membawa bekal sedikitpun, Seongwu meninggalkan keluarganya tepat ketika salju pertama turun.
Seongwu sudah berlari cukup jauh, sangat jauh hingga ia tak sadar bahwa kini ia berada di tengah-tengah hutan yang pohon-pohonnya kokoh menjulang tinggi hingga ke langit. Bonggol akarnya yang besar banyak mencuat ke segala sisi dan nyaris menutupi seluruh permukaan tanah. Hal ini sedikit menyulitkan Seongwu untuk menentukan kemana ia harus melanjutkan pelariannya karena pasalnya, nyaris tidak ada cahaya bulan yang bisa menembus masuk ke dalam hutan.