Chapter 0. Prologue.

4 0 0
                                        


Seorang gadis dengan baju seragam yang mewah, berdiri di depan pintu ruangan. Di atas pintu tersebut terdapat plakat bertuliskan Ruang Kepala Sekolah . Tak lama kemudian, tangan ramping gadis tersebut meraih pintu yang ada di depannya. Dan, dengan punggung tangan, gadis itu mengetuk pintu itu.

Setelah gadis itu mengetuk pintu, untuk beberapa saat suasana hening. Gadis itu tetap berdiri, ekspresi gugup tak terlihat di wajah cantiknya. Hanya saja, karena respon cukup lama, gadis itu pun dengan tidak sabar memainkan rambutnya yang panjang dan berwarna keemasan itu.

Kesabaran gadis itu sudah habis, karena menunggu lama. Kembali gadis itu hendak mengetuk pintu, namun kali ini dengan tangan terkepal. Dia siap untuk menggedor pintu itu dengan keras. Akan tetapi, sebuah seruan datang dari balik pintu, hingga membuat gadis itu mengurungkan niatnya untuk menggedor pintu.

"Ya, silahkan masuk!"

Setelah mendengar seruan itu, gadis itu menghela napas seolah meredakan emosi yang ia rasakan tadi. Kemudian, gadis itu mulai berjalan dan membuka pintu di depannya.

Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah sofa, dan seorang wanita tampak duduk di sana. Wanita berpakaian jubah berwarna putih dan biru. Penampilannya begitu rapi dan elegan. Rambut putih panjang, dan wajah dengan tanda-tanda yang menunjukkan umurnya yang tua. Walaupun begitu, kharisma yang terpancar dari tubuh wanita itu memancar kuat, seolah menunjukkan seseorang yang penuh pengalaman dan kebijaksanaan.

"Silahkan duduk."

Wanita itu mempersilahkan gadis tadi untuk duduk di sofa di depannya. Gadis berambut keemasan itu pun berjalan menuju sofa dan duduk. Tanpa menunggu lama, gadis itu mulai berbicara.

"Ada urusan apa, sehingga saya dipanggil ke sini, ibu wakil kepala sekolah?"

Senyum menghiasi wajah sang wakil kepala sekolah, setelah mendengar pertanyaan itu,

"Tidak usah seperti itu, Meia. Panggil dengan namaku saja," jawab sang wakil kepala sekolah.

Gadis bernama Meia itu pun menganggukkan kepala tanda mengerti.

"Baiklah bu Nevrin. Ada apa gerangan, sehingga saya dipanggil ke sini, dan di mana Kepala sekolah?"

Senyum sang wakil kepala sekolah yang bernama Nevrin itu makin lebar,

"Hmm, saat ini Kepala Sekolah sedang ada urusan di luar kota. Tapi, sebelum berangkat, Kepala Sekolah memintaku untuk mengurus masalah yang satu ini."

Nevrin segera meraih sebuah tumpukan kertas yang ada di sebelah kanannya, kemudian meletakkannya di meja tepat di depan Meia.

"Ini!" satu kata keluar dari bibir indah Meia, ketika pandangannya tertuju pada satu nama yang tertera pada kertas di atas meja itu.

"Meia, bisakah kamu antar materi kelas dan surat peringatan ini?" pinta Nevrin tiba-tiba.

Meia terkesiap. Ia akhirya tahu apa sebenarnya isi dari tumpukan kertas di depannya.

"Apa? Kenapa harus saya, Bu Nevrin?" tanya Meia bingung.

"Tentu saja karena itu tugasmu sebagai ketua dewan murid di sekolah ini," –bu Nevrin mengambil satu lembar dokumen di atas meja– "lagipula, kamu juga adalah murid terbaik di sekolah ini dan juga keturunan 'orang itu' kan?" kata bu Nevrin sambil tersenyum simpul.

"Uuuh, tidak adil jika hanya karena saya anak dari seseorang yg semua kenal. Lagipula, saya juga bukan murid terbaik di sekolah ini," gerutu Meia.

Mendengar itu bu Nevrin sedikit tertawa, "Fufu, Oh, kamu benar, Meia. Kalau saja anak itu rajin seperti dirimu, mungkin sekarang kamu sekarang menjadi nomor dua di sekolah ini."

GRIVONHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora