Pemberontakan Diri

45 11 4
                                        

Aku menghela nafas dengan berat sambil melangkah ke balkon kamarku. 30 menit yang lalu, aku masih diriku yang lama. Wanita cerdas yang cakap dan penuh perhitungan dalam setiap tindak tanduk yang ku lakukan. Wanita yang akan melakukan segala cara agar terlihat sama dimata orang lain. Tapi lihat aku yang sekarang, sebatang rokok yang mengepulkan asap terselip di antara jari tanganku. Baju tidur sembrono dan rambut acak-acakan tak membuatku peduli akan pandangan sekitar.

Potongan demi potongan adegan di film yang baru saja ku tonton tadi silih berganti muncul di pikiranku. Dimana pemerannya yang disabilitas mati dalam diam tanpa pernah mendapat keadilan bahkan sampai ke liang kuburnya. Seumur hidup Ia hanya melakukan kebaikan, melayani semua orang, menyenangkan semua hati, menyembunyikan cacatnya ia berusaha selalu terlihat sama dengan yang lainnya. Tapi apa yang ia dapat? Kebaikannya dijadikan alat penindasan, kesabarannya dijadikan bahan cemoohan, dan kekurangan didirinya dianggap seperti kesialan yang akan membawa petaka bagi mereka semua. Orang-orang yang menganggap diri mereka manusia normal dan seolah punya derajat lebih tinggi itu benar-benar memperlakukannya dengan buruk. Bahkan kematiannya seperti kemenangan tersendiri bagi mereka. Manusia menyedihkan!

Aku menghembuskan nafas dengan kuat kemudian menengadah menatap langit yang mendung ditutup awan. Membayangkan kembali waktu yang telah ku lalui sampai 27 tahun usiaku sekarang. Sama dengan pemeran difilm yang ku tonton tadi, aku adalah seorang disabilitas. Aku terlahir dengan kondisi fisik yang cacat di kaki kananku, kaki kiriku normal seperti orang kebanyakan, tapi kaki kananku tidak bertumbuh dengan sempurna. Seiring pertumbuhan fisikku, kaki kananku ternyata cenderung lebih pendek dari yang kiri dan membuatku harus berjalan dengan pincang. Kondisi ini membuatku dipandang sebelah mata oleh mereka yang merasa lebih segalanya. Menumbuhkan rasa rendah diri dan kebencian mendalam di diriku. Aku tak ingin dipandang rendah, aku juga ingin setara dengan mereka, maka dari kecil aku selalu memaksa diriku untuk hidup sempurna tanpa celah yang bisa membuat mereka merendahkanku. Aku adalah seorang penyandang disabilitas yang telah menghabiskan seluruh hidupku untuk membuktikan diri pada orang lain. Selalu bersikap baik, berpikiran cerdas dan berjalan di role yang benar tanpa kesalahan sedikitpun. Tak ada kata untuk kenakalan, tak ada waktu untuk kebebasan, tak ada kesempatan untuk kecerobohan. Semua yang kulakukan haruslah sempurna agar tak ada kesempatan bagi mereka untuk merendahkanku. Meski kebebasanku terenggut, meski hatiku menentang, meski batinku menjerit, aku selalu berusaha terlihat biasa saja. Seolah hidupku adalah pengabdian untuk menyenangkan mereka. Aku tak ingin dilihat dengan pandangan berbeda, aku benci dihina, aku terluka dicemooh, dan aku ingin selalu membuktikan bahwa aku bisa seperti mereka. Tapi apa yang aku dapat? Sama dengan pemeran film itu, sampai saat ini mereka masih melihatku dengan cara yang berbeda, masih berbisik mencemooh dibelakangku dan bahkan ada yang terang-terangan menghina di depanku. Perbedaan kami hanyalah aku masih hidup dan dia sudah mati.

Mencoba menghisap rokok yang nyaris mati diantara selipan jariku, aku terbatuk hingga mengeluarkan air mata. Mendudukkan diri di ubin dingin balkonku, air mataku mengalir semakin deras. Aku membayangkan diriku sendiri mati tergeletak diubin yg dingin ini. Adakah orang yang akan menangis untukku selain ibu dan kedua saudara kandungku yang jauh dikampung halaman sana? Adakah orang yang akan merasa bersalah karena memperlakukanku dengan buruk selama ini? Adakah orang yang mencoba memberiku pertolongan pertama? Adakah... Adakah... Adakah? "aarrrggggghhhh" aku kembali menjambak rambutku sendiri untuk melampiaskan kegeraman hatiku. Terlalu banyak pertanyaan adakah yang muncul dikepalaku. Yang aku tahu sendiri jawabannya pasti tidak, mustahil dan tak akan pernah ada.

Tanpa ku sadari, rokok yg kembali menyala setelah ku hisap itu ku remas hingga hancur tak berbentuk. Jauh didalam diriku hati dan fikiranku saling memberontak, membayangkan kebodohanku selama ini dan ketakutanku untuk memulai langkah yang baru. Tersenyum sinis memandang sisa tembakau ditelapak tanganku, aku meniupnya hingga berterbangan. Aku membayangkan bahwa tembakau-tembakau itu adalah mereka yang memandangku dengan sebelah mata mereka.

Aku mengatakan pada diriku sendiri, aku tak ingin bernasib sama seperti pemeran film itu, aku tak ingin mati seperti ini, aku tak ingin kesepian hingga akhir. Aku juga harus menikmati waktuku yang tak pernah ku tau kapan akan berakhir. Aku harus memulai menjalani hidup seperti yang seharusnya. Aku memang berbeda, fisikku tak akan pernah sama. Tapi kesalahan apa yang kulakukan hingga aku tak bisa hidup seperti mereka? Kenapa hidupku selama ini ku sia-siakan untuk melihat penilaian mereka? Kenapa aku selalu menuntut diriku untuk sempurna hanya agar bernilai baik dimata mereka? Kenapa aku harus melupakan kebahagiaan diriku sendiri hanya demi menyenangkan mereka? Demi anggukan dan binar bangga di senyum mereka? Kenapa aku harus?

Hari ini aku membuat keputusan besar ini, aku akan merombak hidupku. Aku akan melepas semua topeng kesempurnaanku. Aku akan bersikap sembrono, ceroboh dan bahkan aku akan menjemput kembali kenakalan-kenakalan masa kecil dan remajaku yang tak pernah tersentuh. Aku akan bersikap semauku, bertingkah sekehendak hatiku, membebaskan diri serta menghapus segala batasan yang kubuat selama ini. Sekarang aku hanya ingin menikmati kebebasanku, merasakan sebuah petualangan hidup menegangkan yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Tiba-tiba saja aku merasa kembali bersemangat dan berapi-api. Dulu aku pernah merasakan semangat liar seperti ini, semangat remaja yang harus kuredam paksa. Perasaan berkobar dalam diri yang dengan cepat harus ku padamkan. Sekarang, aku akan membiarkan semangat liar ini membakarku, terus bekobar hingga batinku penuh sesak. Aku akan menjadi liar! Aku akan menikmati hidupku dan mati tanpa rasa penasaran. Ya, aku harus.

To be  continued

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 05, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

DifferentWhere stories live. Discover now