Kringgg....
Suara alarm jam kesayangan Skala seketika menarik gadis berambut pendek sebahu itu keluar dari mimpi indahnya.
"Buuun... sarapan sama apa??" teriak Skala dari dalam kamar.
"Nasi goreng bikinan ayah nihh...!!! Cepet kebawah La" bales Bunda dari dapur yang terdengar samar-samar
Dengan malas Skala kembali melirik jam yang sudah menunjukan pukul 05.20
Dengan terpaksa dia bangun dari kasur kesayangannya dan segera berjalan turun menuju dapur.
"Kaa... lo jalan kaya zombie aja kaya gak ada semangat hidup" ceplos Pandu sambil menahan tawanya
Pandu Patria adalah satu-satunya adik laki-laki Skala yang paling nyebelin.
"Apa sih lo Du???!!!!" jawab Skala sinis sambil mendorong pelan kepala Pandu.
"Yaampun Lala kenapa belom mandi?" Tanya Ibu sedikit kesal.
Lala adalah panggilan dekat untuk Skala.
"Masih jam segini Bun dingin tau, mending makan dulu" jawab Skala dengan datarnya sambil menarik kursi yang ada disebelah adiknya.
"Dasar alasan aja anak Bunda" kata Bunda sambil menyajikan sarapan di piring Skala.
Yang disambut anak perempuannya itu dengan penuh semangat.
"Eitsss doa dulu" kata Bunda sambil menarik piring yang berisikan nasi goreng itu.
"Iya Bun" jawab Skala sambil menyimpan sendok yang sudah siap masuk kedalam mulutnya.
"Bunda sama Ayah udah makan?" tanya anak perempuan itu pada ibunya
"Udah ko La
ayo cepet abisin, emang mau kesiangan?"
"Iya bunnn iyaaa" Jawab Skala sambil mempercepat makannya.
***
Setelah pamit pada Bundanya Skala bergegas menuju teras sambil menunggu ayahnya memanaskan mobil. Dia duduk di kursi depan teras bersebelahan dengan adiknya.
"Ka Lala!" ucap Pandu memecahkan keheningan
"Apaa?" jawab kakaknya sambil asik memain handphone.
"Jadi kelas 9 itu enak ya?
Kelas 9 itu udah boleh pacaran ya?
Boleh kemana mana berdua sama pacar ya?
Semuanya boleh bareng-bareng ya?
Enak ya jadi kelas 9, Pandu jadi pengen cepet kelas 9, biar cepet punya pacar" cerocos Pandu panjang lebar dengan wajah polosnya.
Yang bikin kakaknya mengernyitkan kening.
"Ngapain sih Du nanyain kaya gitu segala? Lo kan masih kelas 6, gapenting nanya yang gituan"Jawab Skala dengan nada datar.
"Pengen tau ajaaaaaaa, jawab dong kaaa!!!!" gereget Pandu
"Kelas 9 itu gaharus soal cinta-cintaan aja Pandu" Skala kembali menjawab.
"Makan tuh UNBK!!!"lanjut Skala sambil berlari menghampiri ayahnya
Sementara Pandu hanya diam mematung memikirkan jawaban kakaknya.
"Panduuuu!!! Ayo cepet entar kesiangan" teriak ayahnya dari dalam mobil.
"Iya Yah iya" jawab Pandu dan berlari menuju mobil
***
Skala mencium punggung tangan ayahnya saat mobil berhenti tepat didepan gerbang SMP Pemuda.
Ayahnya membalas dengan membuat tanda salib kecil pada kening anak perempuannya itu.
Sudah menjadi tradisi dan kebiasaan dalam keluarga kecil Bhanu untuk membuat tanda salib kecil pada kening anak dan istrinya percayanya agar selalu dilindungi Tuhan.
Karena lokasi sekolah Skala lebih dekat dibandingkan lokasi sekolah Pandu jadi Skala lebih duluan turun.
"Belajar yang bener, jangan pacaran terus" kata ayahnya.
"Ihhh ayah" jawab anaknya sambil memamerkan wajah kesal diikuti tawa menghina dari adiknya.
"Jangan lupa doa juga ya Ka Lala" kata Pandu
"Iyaa siap
Yaudah hati-hati Ayah, Pandu" lanjutnya sambil melambaikan tangan dan bergegas menuju kelas.
TBC
YOU ARE READING
Temaram
RomanceBanyak hal yang perlu dinikmati dan disyukuri meskipun itu bukan sesuatu yang indah, ada kalanya kita hanya menemani hingga ia mendapatkan tujuan akhirnya, meskipun bukan aku tujuannya. Kisah cinta beda agama itu emang ga gampang. Itu yang dialamin...
