Senin pagi yang penat. Hanya berkisar delapan atau tujuh jam waktu untuk istirahat dan keluarga. Sepenuhnya terdiri dari skedul office, jadwal meeting dan agenda observasi memadati enam belas jam dari 24 jam kehidupanku. Diana istriku berasal dari keluarga kaya terhormat pemilik Hotel dan Apartment ternama di Singapura. Sekalipun menjabat selaku CEO namun perusahaan ini hanya satu dari beberapa anak cabang perusahaan milik sang mertua. Oleh karnanya siap tidak siap apapun yang diperintahkan mesti dilaksanakan.
Pekan kemarin beliau baru saja memenangkan lelang sebuah hotel kuno peninggalan jaman Belanda. Semua aset diborong tanpa sisa mulai dari tanah, bangunan serta isinya. Beliau memberiku tanggung jawab penuh untuk proyek perombakan, Dana milyaran meluncur dengan cepat demi kelancaran berdirinya Hotel terbaru modern nan futuristik. Sementara menunggu para kolektor membeli barang-barang antik tersebut, sebagian lagi ditaruh kerumahku. Para karyawan sibuk memindahkan beberapa barang dari mobil box dan pick up.
"Lukisan ini taruh dimana tuan.?" Tanya Mbok Darti.
"Oh itu...hmm, gantung saja didepan gudang. Ya buat nakutin tikus atau maling biar gak masuk."
Mbok Darti telah lama bersama kami, dia pembantu sekaligus pengasuh Keisa sejak kecil. Aku memiliki dua orang anak, yang sulung baru kelas 2 SD dan yang masih Bayi berumur sepuluh bulan bernama Dico. Keseharian istriku merawat keduanya dirumah sambil menjalankan bisnis online. Diana sebelumnya wanita karir cantik dan modis, maka selayaknya aku memberikan hunian mewah dan nyaman dari hasil kerjaku sendiri. Berpindah dari Apartmen milik mertua, Di komplek perumahan elit ini kami tinggal belum cukup sebulan. Jarang kami melihat penghuni yang lain mungkin karna kesibukan masing-masing. Termasuk tetangga didepan rumah yang kerap sunyi tanpa penerangan dimalam hari.
"Hati-hati tuan.. kata pembantu sebelah, wanita didepan itu seorang cenayang."
"Cenayang.?"
"Itu loh tuan, yang bisa meramal dan menerawang hal-hal gaib. Pokoknya kayak dukun gitu tuan...ih serem deh."
"Ah mbok jangan nakut-nakutin, kasian anak-anak. Eh itu lukisan udah dipasang blum.?"
"Udah tuan, bingkainya lumayan keras. Jariku sampai lecet."
"Astaga itu luka segera diperban mbok, ntar infeksi loh. Ya udah aku kembali ke kantor dulu, bilang ke Diana aku lembur jadi pulangnya mungkin telat."
"Iya tuan."
Sebagai kepala rumah tangga dari golongan sederhana, aku tak ingin sepenuhnya mengambil keuntungan dari kekayaan mertua. Selain rumah mewah, diam-diam kubeli perkebunan kopi di Kalimantan sebagai aset masa depan. Adapun sebuah pabrik kertas menjadi milikku setelah sahabat lama menjualnya. Kesibukan sebagai pengusaha menjadi beban berat tiap malam sepulang kerja. Tiba dirumah pikiran dan pengawasanku hanya tertuju buat istri juga anak-anak. Kutengok kamar Keisa, oh dia sudah terlelap. Masih dilantai dua, usai mengecup kening si bayi kecil di ayunan. kupeluk istriku dengan lembut dan malampun berlalu bersama kehangatan dibalik selimut.
TUK TUK TUK TUK TUK...
Suara apa itu.? Ku tengok jam ternyata sudah pagi. Pantas saja bunyi gaduh dilantai bawah, pasti Mbok Darti sibuk didapur. Mengingat agenda kerja hari ini yang padat dan tak ingin terkena macet dijalan, bergegas kusabet handuk kemudian turun untuk sarapan. Kusapa mbok Darti yang tengah memotong daging, nampaknya begitu serius sampai tidak merespon. Biarlah...namanya juga sudah tua, mungkin penyakit budeknya mulai kambuh. Melangkah kepintu depan, aku dikagetkan oleh Mbok Darti yang baru tiba sambil menenteng tas plastik belanjaan.
"Loh tuan sudah mau berangkat belum sarapan toh.?"
"Aa... itu kan tadi sudah, mbok yang...ah sudahlah. Saya pergi dulu ya mbok."
Efek samping kelelahan atau pikiran mulai tidak fokus membuatku delusi. Tak ingin membayangkan hal-hal tahayul, bersama keterangan jadwal waktuku terisi dengan aktivitas kerja. Perjalanan berikut menuju lokasi proyek hotel, didukung kelancaran dana semua berkerja profesional dan gesit. Bahan-bahan dasar bangunan serta seperangkat alat berat berjajar rapi dipelataran Hotel Delano.
Menjelang tengah malam laju mobilku melintasi jalan masuk kompleks. Sejauh mata memandang tak ada lampu penerangan satupun, bisa jadi pemadaman bergilir untuk wilayah kelurahan setempat. Tiba ditikungan blok, mobil terhenti oleh sosok anak perempuan yang berdiri ditengah jalan sambil menangis. Kelihatan seperti umur anak saya, lantas kuhampiri sambil berlari menyapa.
"Hei nak...ngapain tengah malam berdiri di...loh Keisa.?"
"Ayaaaah...huu..huu..huu." tangisnya dalam pelukanku.
"Apa yang terjadi.? Katakan kenapa nak.? Dimana ibu dan adikmu.?"
Dia terus saja menangis tanpa henti. Bergegas kami masuk ke mobil tanpa peduli gelapnya jalan, terus kupaju laju kendaraan sampai tiba didepan pagar. Seketika udara malam berhembus disekeliling rumah, aura mencekam menyelimuti pandangan seperti ada tameng tak kasat mata menutup kebahagiaan menjadi kecemasan. Nampak sosok hitam misterius berdiri dekat jendela lantai dua. Keisa kuminta agar tetap dimobil dan aku mencoba melawan rasa takut sembari berjalan mengendap-ngendap lewat pintu belakang. Bermaksud mengambil senapan angin yang kusimpan digudang, ditempat berdebu itu kulihat Mbok Darti tergolek kaku dengan kondisi tangan terikat serta mulut tersumpal.
"Mbok lekas hubungi polisi, ponselku ada dimobil, cepat kesana.!" Perintahku usai melepas semua ikatan.
"Percuma tuan...dia bukan manusia."
"Apa maksudmu.? Sudah cepat pergi, saya akan mencoba hentikan dia."
Bersama senjata digenggaman rasa panik terkendali. Tidak ada lagi langkah diam-diam, kudobrak saja pintu belakang serta merta kutodong senjata kesegala arah. Langkahku memutari sekitar dapur dan ruang tengah namun tak ada siapa-siapa disana. Baru tiga langkah hati-hati menginjak anak tangga, mataku tertuju ke pintu kamar lantai dua. Itu dia.! Jelas sudah penjahat yang mengusik kebahagiaan keluargaku. Bertubuh tinggi menyentuh plafon dan berkostum hitam pekat tak menampakkan wajah. Hanya kedua tangan kekar mencekik istri dan menggendong Dico.
"Biadap.! Lepaskan mereka.!" Teriakku mengacungkan senapan.
"Darah manusia...HAHAHA.!"
DOR.! DOR.!
Cengkraman tangan kanannya melepas istriku yang langsung ambruk dilantai. Perampok itu berlari menghindar masuk kekamar. Kudekati Diana, oh syukurlah denyut jantungnya masih berdetak. Kusandarkan tubuhnya pelan-pelan ke tembok, lalu kukejar perampok tadi dengan langkah gesit. Tinggal beberapa meter lagi dihadapanku, bukannya menghindar dia malah maju menerima tantangan.!
BYUSSS...
Ajaib.! Dia melewatiku begitu saja bagai angin, Siapa sebenarnya dia.? Terus kukejar dan kuikuti arah dia berlari. Tangisan Dico membuatku makin panik. Penculik itu begitu cepat berlari tatkala pengejaranku berakhir dihalaman belakang tepatnya didepan gudang. Sosok berjubah hitam itu terdiam menghadap sebuah lukisan di dinding, sesaat diapun menoleh seolah menguji kesabaranku. Tanpa pikir panjang senapan sepanjang 1 meter kuayunkan seraya melompat kearahnya.
DUAKH.!
Tubuhku terhempas jatuh ketanah. Sosok itu benar-benar kuat.! Sekali dorong membuatku tersungkur hingga mengeluarkan darah dikepala dan mulut. Celaka.! Mataku berkunang-kunang disusul kaki dan setengah tubuhku mendadak lemas. Tatkala pandangan mulai kabur, masih bersama Dico sosok itu memegang bingkai lukisan. Antara nyata dan tidak, keduanya seolah tersedot masuk kedalam lalu menghilang secara misterius.!
Apa yang kulakukan.? Aku gagal menjaga keluarga kecilku...aku gagal menjadi seorang ayah. Masih sempat mata ini melihat kedatangan Keisa bersama seorang wanita dewasa. Sayup-sayup telinga ini mendengar perintah darinya agar menyalakan lilin melingkar. Ketika pikiranku menyimpulkan bahwa dia akan melakukan ritual gaib, didetik berikutnya kesadaranku hilang total dan semua menjadi gelap.
******
"Richard...Richard sadarlah."
"Ayah bangun ayah bangun.!"
Mata ini masih pusing dan kepala terasa berat, Apa yang terjadi.? Terlihat anggota keluargaku lengkap tanpa kurang satupun termasuk mbok Darti. Syukurlah semuanya selamat.! Dico bayi kecilku berada dalam pelukan ibunya. Ada yang mengalihkan pandanganku yakni keberadaan sosok gadis belia memakai kaos dilapisi jaket phink. Entah dari mana asalnya diapun mengucapkan terima kasih.
"Siapa kamu.? Dan kenapa kamu bisa ada dirumahku.?"
"Tenang Om, aku bukan hantu. Aku Nadia...Nadia Aprilia siswi SMA Nusa Persada. Sebenarnya selama ini aku terjebak dalam lukisan itu. Entah sudah berapa lama kupikir sudah meninggal namun salah, aku masih hidup dan diselamatkan oleh seorang kakak wanita."
"Wanita.?" Heranku
"Itu tuan...wanita aneh didepan rumah." Ujar Mbok Darti.
"Dia bukan orang aneh.! Kakak itu baik." Bela Keisa.
"Sudah...sudah. lantas dimana dia.?" Tambahku mencari-cari.
"Dia ditahan oleh iblis dalam lukisan itu." Tunjuk Nadia.
"Lukisan.? Apa maksudmu aku tak mengerti."
"Demi menyelamatkan adik Dico dan saya...kakak itu rela sebagai penggantinya."
Benar saja, wanita berkostum hitam yang memiliki kesan mistis itu kini bersanding bersama tokoh utama dalam lukisan. Menakutkan.! Kejadian malam ini sungguh tidak masuk akal, apa yang disampaikan siswi itu diluar nalar. Jika saja waktu itu aku tetap terjaga dan tidak pingsan mungkin masih bisa kupercaya. Insiden dirumah tidak kulaporkan kepihak berwajib sebab polisi takkan percaya keberadaan pembunuh yang keluar dari dalam lukisan. Memikirkan kelamaan lebih baik kutanyakan langsung orang itu, iya penjaga hotel sebelumnya. Pasti dia tau bagaimana cara mengamankan lukisan terkutuk ini.
"Mang Kasman ya.?" Sapaku setibanya dipekarangan hotel.
"Iya, siapa ya.?"
"Ini saya...Richard. Pemilik hotel yang baru. Minggu lalu kita pernah ketemu dan bincang-bincang tentang lukisan Van Douglas."
"Ma-maaf saya permisi dulu." Ucapnya bergegas pergi namun kutahan.
"Tunggu mang...keluarga saya hampir tewas karna ulah lukisan ini.!" Sahutku, sontak langkahnya terhenti.
Mang Kasman menegaskan bahwa lukisan itu tidak boleh terkena tetesan darah sedikitpun. Kain merah sebagai penutup untuk menahan celah portal yang ada. Sebab ketika kedua persyaratan tadi tidak di hiraukan maka mahluk menyeramkan akan bangkit.! Keluar mengincar dan menarik siapa saja yang dilihat. Sampai detik ini sosok iblis penghuni lukisan yang haus darah itu disebut The Lucifer.
-SEKIAN-
YOU ARE READING
The Lucifer
HorrorRichard sosok pria workholic dan kepala rumah tangga yang setia. Suatu ketika dia diberi tanggung jawab untuk merenovasi sebuah hotel tua yang dimenangkan oleh sang mertua. Sejumlah aset serta barang antik dilelang dan sebagian disimpan kerumahnya...
