1

10 2 2
                                        

"Lav besok gue jalan sama Danita. Gimana menurut lo?"

"nah si Katrina lo kemanain?"

"Gasuka gue sama dia"

"Terus kenapa kemarin-kemarin lo pepet dia?"

"Penasaran aja"

"tobat Jeff"

"Cemburu ya lo?"

"Ngimpi"

"Tenang aja Lav lo selalu jadi yang paling di dahulukan kok di antara mereka hahahaha"

"Bacot"

Sambungan telfon gue tutup sepihak. Barusan orang yang nelfon gue adalah Jeffrey Alderado Prasaja atau gue biasa manggil dia Jeff.
Jeff adalah temen gue dari kecil sampai sekarang.

Sosok Jeff sendiri layaknya manusia pada umumnya cuma yang membedakan adalah level ketampanannya. Jeff memiliki tinggi badan yang di atas rata-rata akibat dari hobinya bermain basket namun yang membuat heran adalah kulitnya tergolong putih untuk orang yang terlampau sering di bawah sinar matahari sampai-sampai Jeff dapat julukan Albino.

Jeff memiliki mata berwarna hazel dan garis wajah yang tegas satu lagi yang membuat semua kaum hawa terkena pesona Jeff adalah lesung pipi yang muncul ketika Jeff tersenyum. Kalau gue si liat senyum Jeff istilah kasarnya udah gumoh duluan.

Awal mula ketemu Jeff itu gue inget banget waktu itu habis pulang ngaji walaupun sekarang gue belangsak dan penggemar abs oppa oppa korea dulunya gue alim haha.

Saat lewat taman deket kompleks rumah, gue denger suara orang nangis dan dengan rasa penasaran gue mendekat ke arah asalnya suara itu. Hampir aja gue teriak kaget liat bocah laki-laki duduk sendirian sambil nangis-nangis.

Pertama gue pikir itu anak setan. Sebelum gue ngehampiri dia gue liat kakinya dan ternyata napak. Dengan level super berani gue ngehampiri dia dan duduk di sampingnya.

"Kamu kok sendirian si?"

Dia geleng-geleng kepala dan tetap nunduk. Iya dulu kan masih bocah jadi pakainya aku-kamuan kalau sekarang nggak bakalan.

"Ayo aku anterin pulang"

"Aku nggak mau pulang. Bosen liat Mama Papah bertengkar" ujarnya sesegukan.

Entah dorongan dari mana waktu itu reflek gue meluk dia "Mama Papa kamu udah nggak bertengkar kok"

"Tahu dari mana kamu?" Jawab dia sambil membenankan wajahnya di pundak gue.

"Kata pak ustad nggak boleh marahan lama-lama" jawab gue sekenannya.

Iya tahu gue dulu goblok banget.

Untuk beberapa saat hening antara gue dan dia. Gue rasa dia udah nggak nangis "yuk aku anterin pulang" sesaat setelah gue ngomong kayak gitu dia gelepasin pelukannya dan betapa terkejutnya gue.
Ingusnya nempel semua di kerudung pink kesayangan gue tadinya gue mau marah tapi lihat wajahnya yang sembab jadi nggak tega.

Akhirnya gue pun nganterin dia pulang ternyata rumahnya nggak jauh dari rumah gue cuma beda beberapa blok aja.

"Ini rumah kamu?" Tanya gue sambil menunjuk rumah dengan cat bernuansa dominan putih

"Iya"

"Yaudah kalau gitu aku pulang duluan ya. Jangan nangis lagi"

Sebelum gue melangkah buat pulang tiba-tiba dia narik tangan gue "Aku Jeffrey. Kamu?" dia ngulurin tangan dan gue sambut tangan itu sambil berkata "Lavanya". Kita berdua sama-sama tersenyum.

Vacillate ■ Jung JaehyunStories to obsess over. Discover now