My Dilemma

72 0 0
                                        

I've been searching for a heart that needs a heart like mine.

I've been hoping that I'll find someone to hold me when im lonely.

I've been waiting for someone that i can love and that loves me too.

Loves me for the one that I am.

But I never thought that is you.

And why should you ?

Jatuh cinta.

Seharusnya semua itu mudah. Tapi mengapa semuanya menjadi rumit ketika ku jatuh cinta padanya ?

Seharusnya semua itu mengalir bagai air yang mengalir. Tapi mengapa semuanya menjadi tersedat bagai aliran sungai yang terhalang bebatuan ?

Mengapa aku menyadari semua rasa ini ketika semuanya sudah terlambat ?

Mengapa baru kini kusadari aku jatuh cinta padanya ?

Memang benar. Penyesalan selalu datang di akhir. Begitu pun aku. 4 tahun sudah aku bersahabat dengan Berg. Canda, tawa, caci, maki memang sudah tidak aneh terlontar dari bibir kami. Rasanya dia sudah menjadi seseorang yang sudah tidak canggung untuk memuji, bahkan untuk menghinaku sekalipun.

Mencinta, dan dicintai. Itu memang sudah menjadi hukum alam yang pasti terjadi. Tapi apakah aku salah jika jatuh cinta padanya ?

Apakah aku melanggar hukum jika aku jatuh hati padanya ?

Apakah semuanya salahku ?

Apakah salahku jika aku jatuh hati pada sahabatku sendiri ?

Berjuta tanya tengah berkemelut di benakku. Antara sebuah rasa enggan namun ingin. Bersemayam sebuah rasa yang bergejolak, dan menggebu-gebu di hatiku namun tertahan oleh sesuatu yang kecil namun mematikan.

Entah. Aku bingung dengan apa yang aku rasakan ini.

"Hillary cantik" sapa seseorang membuyarkan lamunanku.

Aku pun menoleh kearah sumber suara tersebut berasal. Terlihat Berg yang menghampiriku dengan senyuman manis khasnya.

"eh hai" jawabku tersenyum simpul.

Aku menggeser sedikit dudukku. Memberikan sedikit tempat untuk Berg.

"apa yang sedang kau lakukan disini ?" ucap Berg dengan pandangan lurus kedepan memandangi kemilau air danau Ludwig nan indah yang tersorot sinar matahari senja.

Aku terdiam sejenak, dan menghela nafas panjang. "Tak ada. Aku hanya membiarkan indahnya gemeriak air danau, wangi khas tanah, dengan dedaunan di musim gugur, juga udara sejuk di sekitar menerobos otak, dan seluruh tubuh ku."

"Manis" gurau Berg mendengar perkataanku. Dengan pandangan yang masih sama.

Ku tatap Berg yang berada tepat di samping kananku.

"Maksudmu ?"

Berg pun menoleh dan tersenyum menatap ku.

"Manis. Caramu mengagumi semua keindahan ini begitu manis. Kau tahu ? Kau-" ucapannya tiba-tiba terhenti, dan seketika mimik wajahnya berubah.

Aku tak berkata apapun selain terdiam seribu bahasa melihat mimik wajahnya yang seketika berubah.

Diliriknya jam tangan yang ada di lengan kirinya. "Sudah cukup sore. Lebih baik kita pulang ayo" ajaknya sambil bangkit, dan menggenggam tanganku.

Aku pun bangkit mengikutinya.

Kami berjalan bersama dibawah sinar matahari senja, menuju halte bus yang tidak jauh dari Danau Ludwig.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 27, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

My DilemmaWhere stories live. Discover now