first heartbreak

9K 687 133
                                        

1.

Hampir seluruh penumpang pesawat memandanganya dengan perasaan tidak suka. Apa mereka pikir Tay Tawan sengaja telat datang ke bandara? Tsk, sebenarnya Tay tidak terlalu terlambat karena jam boarding itu harusnya masih 15 menit lagi. Salahkan pihak maskapai yang melakukan boarding 10 menit lebih cepat dari yang tertera di boarding pass.

Perduli setan dengan tatapan orang orang, Tay Tawan sudah duduk nyaman di bangku pesawatnya. Badannya masih sedikit pegal. Pertama, walaupun sudah pergi lebih awal, siapa yang menyangka di jalan tol menuju bandara ada kecelakaan yang membuat jalanan macet berpuluh puluh kilometer?

Kedua, ini jalan tol. Dia tidak bisa seenaknya saja memesan ojek. Dengan inisiatif tinggi, Tay Tawan turun dari mobil yang ditumpanginya dan berjalan sejauh 2 kilometer menuju perkampungan terdekat untuk mencari taksi yang bisa mengantarnya ke bandara tanpa lewat jalan tol. Berjalan kaki sejauh 2 kilometer dengan dua buah koper masing masing ukuran 24 dan 28 inch bukan pilihan yang tepat sebenarnya. Ditambah tas ransel besar yang dengan sangat tidak nyaman berada di pundaknya.

Tay Tawan tidak memiliki pilihan lain. Dia harus cepat sampai ke bandara dan mengejar penerbangannya ke Jepang, untuk transit dan melanjutkan perjalanannya ke San Fransisco. Walaupun Tay Tawan termasuk dari kalangan orang yang berada, tetap saja kalau dirinya tertinggal penerbangan yang ini, artinya dia harus rela berpisah dengan master degreenya.

Salahkan Mami yang memaksa Tay untuk pergi diakhir akhir waktu. Karna lusa, setiap mahasiswa jurusan Arts of Economics di University of San Fransisco sudah harus melakukan pendaftaran ulang tanpa bisa diwakilkan.

Menarik nafas dalam dalam untuk menenangkan gemuruh hati, Tay mulai mengencangkan sabuk pengamannya. Melirik sebentar ke orang disebelahnya yang terlihat acuh, seorang laki laki yang sedang mendengarkan lagu dari earpod portable dan terlalu fokus dengan bacaan didepannya. Pesawat yang ditumpanginya adalah jenis air bus dengan sistem kursi 2-4-2. Yang berarti diriya akan menjadi seatmate lelaki pucat disampingnya ini selama tujuh jam kedepan.

Pramugari sudah mulai melakukan prosedur sebelum penerbangan. Bahasa yang dipakai juga bahasa Inggris dan Jepang. Karena memang pesawat yang ditumpangi Tay untuk membawanya ke San Fransisco adalah pesawat milik perusahaan Jepang.

Saat pesawat mulai meninggalkan parkirannya dan berjalan menuju runaway, lelaki pucat yang ternyata memiliki badan tegap disamping Tay mulai kelihatan gelisah. Matanya tak henti melirik Tay dan sekali kali menatap ke arah jendela pesawat.

'Hey' sebagai seorang ENTJ sejati, Tay mencoba untuk memulai pembicaraan dengan lelaki disampingnya. Tebakan Tay, laki laki disampingnya ini takut terbang atau ketinggian.

Lelaki yang dipanggil terkejut karena mengira Tay sadar kalau dirinya terus memperhatikan Tay. 'Aku Tay Tawan. Siapa namamu? Kau akan terjebak bersamaku selama 7 jam kedepan. Setidaknya aku harus tau namamu' lanjut Tay pelan. Berharap lelaki disampingnya tidak melabeli Tay sebagai seorang mesum.

'Uh, aku Newwie' balasnya pelan. Cukup kecil karena Tay hampir saja tidak mendengar jawabannya. 'Aku takut ketinggian dan ini penerbangan pertamaku sendirian. Do you mind if i hold your hand during take off?' Suaranya mulai bergetar karna pesawat sudah berhenti yang artinya pesawat akan lepas landas.

Tanpa menjawab pertanyaan teman barunya, Tay langsung meraih tangan Newwie yang ternyata sudah berkeringat dan sedingin es kedalam gengaman tangannya. Newwie terlihat lega dan menatap Tay dengan pandangan berterima kasih.

Selama proses take off tidak ada yang bersuara dari mereka berdua. Namun, saat Newwie terlihat sudah mulai tenang, Tay tidak ingin menyia nyiakan waktunya untuk memulai pembicaraan.

Walaupun pembicaraan mereka hanya 2 jam lebih - dikarenakan pesawat yang mereka tumpangin adalah pesawat malam, mana tega Tay membuat lelaki disebelahnya ini terjaga untuk menemaninya mengobrol. 2 jam adalah waktu yang cukup untuk Tay menaruh hatinya kepada lelaki yang baru dikenalnya tersebut.

Newwie adalah seseorang lulusan teknik elektro di Universitas ternama Singapur. Diusianya yang belum genap 25 tahun, Newwie sudah diterima bekerja di perusahaan Jepang dengan jabatan yang cukup tinggi. Dirinya baru saja mendapatkan cuti libur selama dua minggu di Indonesia dan sekarang dalam perjalanan pulang ke Tokyo.

Biasanya, dia menaiki pesawat dengan teman teman satu kantornya. Tapi kali ini, teman satu kantor Newwie memutuskan untuk liburan ke negara lain atau bahkan membawa keluarga mereka terbang ke Tokyo langsung. Alhasil, Newwie sendirian dalam perjalanannya kali ini.

Newwie juga berencana melanjutkan studi S2nya di Jepang. Perusahaan tempat dirinya bekerja juga sudah menawarkan beasiswa. Selama 2 jam perkenalannya dengan Newwie, Tay Tawan baru sadar kalau lelaki disebelahnya ini memiliki badan seperti seorang atlit, namun wajahnya tidak lebih seperti anak belasan tahun. Cute.

Lucunya lagi, ketika terjadi turbulence, Newwie akan dengan sigap meraih tangan Tay dan mengengamnya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Huh, siapa Tay yang akan menolak perlakuan tersebut? Sekarang, Newwie tertidur pulas di kursinya. Dengan bantalan leher kartun Moomin.

Tangannya juga masih digenggam oleh Tay. Bagaimana jika nanti ada turbulence saat kau tidur? Kau tidak akan sadar, sudah sebaiknya kalau tangan kita tetap berpegangan selama kau tidur. Alasan yang dibuat Tay sangat tidak masuk akal memang. Untungnya Newwie hanya mengangguk anggukan kepalanya tanpa protes lebih lanjut.

Jam sekarang menunjukkan pukul 7 pagi waktu bagian Jepang. Sebentar lagi sarapan akan dibagikan oleh pramugari untuk para penumpang. Tay sudah terjaga sejak satu jam lalu. Dengan menguncang guncangkan pelan badan Newwie dan mengelus tangannya, Tay membangunkan Newwie disampingnya.

Tay memesan nasi uduk dengan berbagai topping. Ditemani dengan jus tomat. Sedangkan Newwie hanya memakan roti bakar dan secangkir teh. Setengah jam selesai mereka sarapan, pengumuman bahwa pesawat akan mendarat terdengar di speaker.

'Kau boleh mengengam tanganku lagi jika kau takut'

Newwie hanya bisa tersenyum malu sebelum melakukan hal yang disuruh Tay. Kesimpulannya, penerbangan tadi merupakan penerbangan yang paling menyenangkan bagi Tay. Tay berharap juga untuk Newwie.

Setelah turun dari pesawatpun mereka berdua masih bersama. Sekarang berjalan menuju pintu keluar. Karna Tay harus pindah bandara walaupun masih menggunakan satu maskapai. Untungnya maskapai yang mengurus semuanya jadi Tay hanya mengendong ranselnya tanpa perlu mendorong dorong koper.

Kontak Newwie sudah tersimpan rapi di handphone milik Tay. Berjanji untuk segera menghubungi Newwie saat dirinya sampai di San Fransisco.

'Uh, Tay' ucapan Newwie menyadarkan Tay dari lamunan singkatnya. 'Aku tahu kalau kita baru kenal. Tapi karena kau orang yang baik dan tinggal di San Fransisco, aku punya undangan ini untukmu' Newwie berkata sambil tersenyum malu. Tangannya sudah membuka buka ransel hitam yang dibawanya, mencari sesuatu.

'Aku akan menikah dua bulan lagi. Pestanya akan diadakan di New York sebulan setelah pernikahan. Aku sangat berharap kau bisa datang' Newwie berkata tanpa jeda. Senyum di wajah Tay tidak menghilang, namun senyum tersebut sekarang terlihat kikuk. 'Calon istriku juga datang menjemput. Apa kau ingin bertemu dengannya terlebih dahulu?' Sambung Newwie.

'Ah tidak usah. Aku harus bergegas sekarang. Sampaikan saja salamku kepada calon mempelaimu, hm?' Tay berkata dengan lembut. 'Sampai bertemu lagi. Senang berkenalan denganmu, Newwie' Tay melakukan salute sebelum mengambil undangan dari tangan Newwie dan mulai berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya kearah lelaki yang belum sempat dimilikinya tersebut.

Tay haven't start yet. But he already losing.

🐻🐳☀️🗿

Four Heartbreak Later [completed] Stories to obsess over. Discover now