Hooooah......
Sudah pagi ya? Ah rasanya malas sekali untuk pergi ke sekolah, latihan bela diri kemarin benar-benar membuatku lelah,fyuuuh
"Salvi berangkat ibu! Ayah ayo berangkat!"
Gue Salvia,anak dari kedua pengusaha besar, walaupun begitu gue gak tertarik sama sekali di urusan bisnis,gue lebih suka menulis dan bela diri.
Berangkat menggunakan mobil mewah bokap gue,saat datang ke sekolah banyak orang melirikku,yahh,,, hal-hal seperti ini sudah ada sejak gue kelas satu SMP, menyebalkan sekali.
Namun gue tetap saja sih ingin punya teman,bahkan gue sempat berpikir,teman seperti apa yang akan gue dapatkan jika aku saja sudah memiliki hobi seperti ini? Haha lucu sekali.
Sesampainya di sekolah
"Selamat tinggal ayah,nanti Salvi telpon"
Lalu bokap gue pergi dengan mobil mewahnya itu, walaupun sudah 3 tahun aku belajar di sini, suasananya tetap saja sama,mata para gadis yang selalu menatapku sinis,para laki-laki yang menatapku terus atau juga ada sebagian yang menunjukkan wajah ketakutannya. Saat perjalanan menuju kelas,di koridor satu-satunya sahabat gue nyapa gue dari belakang
"Salvi!"
Gue otomatis memalingkan kepala sambil membalas sapaannya
"Hei Lanis,nanti makan siang yuk"
Dia Lanisa Cvob,orang blasteran Belanda. Orangnya bintang sekolah,dilirik di majalah-majalah terkenal untuk menjadi modelnya,bahkan banyak yang udah nembak dia berkali-kali namun cuman satu cowok aja yang dia terima yaitu Randi dan sampai sekarang pun mereka tetap bersama.
"Lo ini,kita baru aja masuk hari pertama di kelas dua belas lagipula masih pagi juga,dan Lo sudah mikirin makan siang?pfffft"
"Ah iya juga,haha"
Gue dan Lanisa pun jadi jalan sama-sama menuju kelas kita sambil membicarakan hal yang tidak penting
"Udah kelas dua belas aja nih belum ada rencana buat pacaran gitu?"
"Apa? Hah? Lo kan tau sendiri,gue ga percaya adanya rasa suka atau tertarik kepada laki-laki seumuranku"
"Serah Lo deh"
Setelah itu gue dan Lanisa hening sejenak sampai kita sampai ke kelas gue,gue masuk dan duduk di depan tepat berhadapan dengan meja guru.
Keheningan kelas,ya itulah yang selalu gue dapatkan di kelas ini,ga kayak kelas-kelas lainnya yang bisa asik bareng,bokap sama nyokap gue yang nyuruh masuk jurusan IPA,gue sempat nolak tapi ga bisa,dan inilah yang gue dapatkan.
Gue bisa dibilang anak yang lumayan cerdas, cepat tanggap,dan hebat dalam pelajaran olahraga, bukan maksud gue untuk sombong,tapi banyak yang bilang begitu jadi ya entah kenapa aku bisa mempercayai kemampuan sendiri.
dengan semua ini gue selalu di tembak laki-laki namun semuanya gue tolak,HAHAHA,gue kan ga percaya sama yang namanya cinta sejati atau apapun itu,sama sekali ga percaya,tak akan dan tak ingin,gue kalo di kasih cowok seganteng apapun itu,akan tetap gue tolak,karena ini sudah ada dalam kamus hidup gue,ga akan ada yang buat gue terpesona sampai jatuh cinta.
Guru pun datang, saatnya melupakan semua tadi,gue harus belajar juga,gue ga mau malu-maluin orangtua gue,oke semangat!
Waktu istirahat
Ada seorang laki-laki di kelas gue,namanya Norel,dia ini suka betul dekat-dekat dengan gue, sampai-sampai gue udah terbiasa dengan perjuangannya 3 tahun deketin gue, fi gue ke dia tuh ya "makhluk ini lebih mirip nyamuk dari pada orang" ganggu betul ah!
"Hai Salvia bagaimana belajarnya"
ia datang ke mejaku sambil mengatakan hal itu, tersenyum aneh kepadaku,ya,gua akui orangnya ganteng dan jadi cowok populer di sekolah ini,ya bisa di bilang cowok ini popularitasnya hampir menyamai gue.
YOU ARE READING
Sarviuna
Romance"Lo harus percaya sama gua Jun....di kamus hidup gue,ga ada tuh ya yang namanya cinta sejati atau semacamnya" "Gue ga percaya adanya hal itu,bahkan ga akan percaya" Seorang anak perempuan yang kelas XII IPA Di cap sebagai anak perempuan...
