BAB SATU

210 8 6
                                        

Aku menyesap susu cokelat yang baru saja ku buat sambil membaca koran yang ada di tanganku. Langkahku tentu saja cepat, mengingat ini jam setengah tujuh pagi dan aku tidak ingin terlambat ke kantor. Ahh ya, ini benar-benar pagi yang enggan bagiku untuk beranjak dari tempat tidur sehingga ketika alarm berbunyi aku mengabaikannya dan kembali terlelap hingga akhirnya terbangun di jam enam pagi. Siall!! Setelah menghabiskan susu cokelat itu, mengambil tas dan terakhir memasang jam tangan Alexander Christie kesukaanku—tak lupa mengecek penampilanku di cermin, aku langsung keluar dari flat dan menuju kantor.

Seperti kebiasaan, aku selalu melihat ke langit untuk melihat seberapa terang mereka. Hha, lucu!! Seharusnya aku tahu bahwa langit London tidak akan cerah di musim dingin ini—hampir mendung setiap saat! Aku merapatkan tanganku karena udara yang dingin dan berjalan cepat bersama—lebih tepatnya sendiri, dengan mereka yang juga siap memulai aktifitas.

"Good morning, Karin," sapa pria tua penjual hot dog langgananku.

"Morning, Hans," sapa ku kembali, "Have a nice day.." seraya melambai kecil dan memberikan tatapan minta maaf karena tidak membeli hot dognya, aku berjalan ringan dan sepuluh menit kemudian mendapatkan diri di kereta api bawah tanah.

Aku mengeluarkan handphone ku saat berada di kereta. Mengerutkan kening sesaat saat melihat email yang masuk dan teralihkan ketika melihat berita kecil dari negaraku-Indonesia. Kasus korupsi yang terbongkar. Aku mengerang kecil, tanpa mempedulikan keadaan sekelilingku, "Itu bagus jika mereka semua tertangkap" gumamku saat membaca berita itu.

Kereta berhenti dan aku langsung turun, berjalan lagi menuju kantorku. Ini pagi seperti biasanya—jujur saja, benar-benar biasa. Tapi aku mencintainya.

Karin Verlisa Sianturi. Panggil saja aku Karin, anak ketiga dari empat bersaudara. Perempuan berdarah Batak-Jawa, namun lahir di Kupang. Ya, orang tua ku merantau di Kupang menjadi seorang pedagang, sehingga aku dan ketiga saudaraku lahir dan besar di sana. Sudah enam tahun ini aku menetap di Inggris. Aku kuliah dan bekerja di sini. Aku ingat betapa kerasnya aku mengejar beasiswa untuk kuliah di Inggris, belajar bahasa Inggris untuk mengejar TEOFL hingga 600 lebih hingga larut malam, membuat study plan yang benar-benar membingungkan untukku saat itu, beradu argumen dengan orang tua yang tidak setuju aku kuliah di luar negeri, nekat pergi ke Jakarta untuk tes beasiswa itu dan tetek bengek lainnya yang membuat perutku bergejolak kalau mengingatnya sekarang. Jelasnya, lewat kerja keras itu aku berhasil mendapatkan beasiswa full di Oxford University. Setelah lulus dari sana dengan predikat cum lauded, aku puas sekali—serta menerima banyak tawaran kerja dari berbagai perusahaan internasional.

Sekarang, sudah dua tahun aku bekerja di holding company bonafit yang tentu saja kedudukan ku di sini tidak bisa dipandang sebelah mata. Selama dua tahun ini, karirku melejit dan saat ini aku sedang berada diposisi siap menjadi calon manajer. Pencapaian yang besar.

Aku menyukai pekerjaanku, walau sangat sibuk dan sering menghabiskan hari-hariku—kecuali di weekend. Entah kenapa aku tak keberatan jika harus rapat hingga malam atau harus terbang ke mana-mana dalam satu hari. Itu mengasikkan untukku. Apalagi weekend ku tak pernah terganggu, aku telah menegaskan kepada perusahaan, jangan pernah menganggu waktu weekend dan libur lainnya. Mereka menghargai itu.

Aku bergaul akrab dengan rekan kerjaku—apalagi yang masih single, kadang kami menghabiskan malam bersama-sama di pub. Ergghh, bisa kau tebak bahwa aku sudah terjerat hedonistic style. Aku kadang kala menegur diriku supaya tidak begitu, namun kadang kala lupa dan menikmatinya. Tapi tenang—entah kau peduli atau tidak, aku tidak merusak hidupku dengan alkohol atau obat-obatan atau juga sex bebas. Aku masih membatasinya! Apalagi sebenarnya aku orang yang religius. Aku ke pub hanya untuk menikmati musik (menghilangi kepenatan) dan berbincang-bincang dengan teman-temanku. Itu juga tidak setiap hari, hanya ketika kami ingin ke sana.

Aku tidak melupakan keluargaku yang di Kupang. Dengan gajiku sekarang, aku menguliahkan adikku yang sekarang berada di tingkat pertama kuliah, merenovasi rumah, membelikan mobil untuk orang tuaku, dan mengajak mereka liburan serta melarang orang tuaku untuk berdagang lagi. Cukup, biarkan kali ini aku yang membahagiakan mereka. Aku merasa mereka layak mendapatkannya. Selama ini hidup kami tidak tergolong mewah. Semua berada di garis standar. Ku pikir, karena salah satu anak mereka ini sudah cukup sukses. Jadi tidak perlu lagi mereka membuka toko manisan di rumah. Setelah berdebat panjang dan tidak ingin menghabiskan waktu hanya dengan duduk-duduk saja, orang tua membuka toko di tempat lain dan memperkerjakan karyawan. Baiklah, aku menyutujuinya asal mereka tidak bekerja terlalu banyak lagi. Jangan kalian pikir hanya aku seorang yang membahagiakan kedua orang tuaku, tentu saja tidak. Abang ku yang sudah menikah serta bekerja sebagai pegawai bank dan kakak ku yang sekarang seorang Ners dan bekerja di rumah sakit swasta di Jakarta tentu saja turut membantu kebahagiaan orang tuaku.

Baru Natal tahun kemarin, aku bersama kedua orang tuaku mengunjungi Yerusalem dan mereka sempat menetap bersamaku selama dua bulan di Inggris. Aku tidak menyia-nyiakan waktu dua bulan itu. Jujur saja, aku jarang pulang ke Indonesia. Terbukti selama enam tahun ini, hanya sekali aku kembali ke Indonesia. Selama empat tahun kuliah aku tidak pulang sama sekali dan selama dua tahun ini aku baru kembali sekali ke Indonesia. Betapa rindunya aku pada keluargaku. Aku mengajak kedua orang tuaku di setiap weekend mengunjungi Eropa Barat lainnya. Aku senang jika mereka juga menikmati liburan mereka. Anak mana coba di dunia ini yang tidak ingin membahagiakan orang tua mereka?

Ku pikir cukup sudah perkenalan panjangku mengenai keluargaku, dan sekarang aku sedang duduk manis di ruang rapat kantor sambil mendengarkan perdebatan hangat antar sesama tim pemasaran. Sepertinya di luar salju mulai turun—pikirku senang. Sudah jam setengah enam sore ketika kami menyelesaikan rapat tersebut dan pulang.

"Where would you like to eat, Sianturi?" tanya Ken sambil tersenyum menggoda. Ia bersender di pintu ruanganku. Pria Inggris itu memiringkan kepalanya.

Aku mengerutkan kening, "Ada apa denganmu Ken? Seperti akan terjadi bencana saja kau memanggil nama keluargaku"

Ia hanya tertawa. Tawanya begitu hangat dan aku menyukainya. Ya, aku benar-benar menyukainya atau mungkin tergila-gila padanya. Miris memang, tapi hubunganku dengan Ken hanya sebatas teman. Ough!! Aku benar-benar frustasi sebenarnya, menunggu kapan kami benar-benar berkencan. Pikiranku melayang, mengingat-ingat setiap reaksi Ken di dekat ku yang akan aku simpulkan bahwa ia menyukaiku juga. Aku menyukai aksen Inggrisnya yang khas, caranya tertawa, reaksinya yang kadang berlebihan di sekitar orang-orang terdekatnya, gayanya yang spontan, serta aku, Chaty, dan Danie sepakat mengatakan bahwa Ken itu hot, hahaha

"Ayolah, dirimu juga tidak mempunyai teman kencan untuk makan malam kan?" katanya sambil mendekat dan duduk di atas meja.

"Bloody hell, Ken!! Tidak bisakah kau berhenti untuk mengejekku!" Semburku marah, aku berdiri dan menedekatinya, "Hanya karena aku tidak ingin, Ken! Bukan berarti aku tidak bisa mempunyai teman kencan"

Ia tertawa lagi. Sial.. harusnya ia tahu bahwa tawanya itu benar-benar mengangguku. Ken berdiri dan mensejajarkan dirinya di sampingku dan melingkarkan tangannya di pinggangku.

"Haruskan kita berkencan?" tanyanya dengan mimik yang ingin sekali ku bunuh. Ia memiringkan kepalanya dan senyumannya yang sangat manis tersungging tipis.

Aku mendengus sebal sambil menahan amarah dan degup jantung yang berdetak sangat cepat, aku memberikan tinju kecil di perutnya dan melotot tajam.

"Hati-hati Ken, aku benar-benar bisa jatuh cinta padamu nanti," ingatku. Ia tertawa lagi dan menarikku keluar dari ruangan.

Kami berjalan bersama dengan beberapa pembicaraan membahas pekerjaan, rencana di akhir weekend, mengomentari pakaian Mr. Arnold hari ini, hingga ke wanita-wanita yang dekat dengan Ken sekarang. Diriku mendidih mendengarnya. Kami makan malam bersama di restoran Indonesia. Aku kangen sekali makanan Indonesia malam ini. Hal yang paling aku sukai dari Ken adalah bahwa ia mencintai Indonesia juga.

Aku kembali ke flat jam setengah sebelas malam dan langsung tertidur dengan mendapatkan mimpi yang sangat indah. Mungkin karena ada Ken di mimpi itu.

👣👣👣

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 12, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Rather BeStories to obsess over. Discover now