Senja telah muncul menggantikan fajar yang pudar secara perlahan. Kegelapan langit mulai menyelimuti bumi. Seorang gadis berjalan gontai dengan seragam sekolah lengkap yang masih menempel di tubuhnya.
"Shania, kamu di mana? Tadi Mama kamu telpon, katanya kamu belum pulang," terdengar suara seseorang dari seberang telepon.
"Apaan sih? Bukan urusan lo juga!" ketus si gadis yang kemudian menaruh handphone-nya di saku rok.
Terhitung baru beberapa detik yang lalu ia menaruh handphone-nya, namun benda kecil berbentuk persegi panjang itu kembali berdering.
"Halo Ma, kenapa?"
"Kamu di mana? Mama tanya Natan tapi katanya dia ga tau."
"Di jalan Ma. Shania abis ngerjain tugas di rumah temen. Lagian Mama ngapain nelpon dia coba?"
"Mama khawatir sama kamu sayang!"
"Iya Ma, Shania tau. Tapi kenapa harus dia yang Mama tanya?"
"Terus Mama mau tanya siapa lagi? Teman kamu yang Mama tau kan cuma dia."
"Ya udah iya. Udah ya Ma, sebentar lagi Shania sampe." Setelah sambungan telepon itu terputus, ia kembali menaruh handphone-nya ke saku rok.
Angin malam yang berhembus seolah menerobos masuk ke dalam kulit hingga terasa menusuk ke dalam tulang-tulangnya.
Tidak butuh waktu lama Shania sudah sampai di rumahnya yang kata orang-orang seperti istana.
"Shania pulang!"
Shania pun langsung melangkahkan kaki ke lantai dua menuju kamarnya sampai suara panggilan dari Mamanya membuat langkahnya terhenti.
"Shan, dari mana saja kamu?"
Shania mau tidak mau harus menoleh ke sumber suara.
"Tadi udah Shania bilang, Shania habis ngerjain tugas di rumah temen. Gak percaya banget sih."
"Sampai larut gini? Tidak salah?"
"Tugasnya banyak Ma. Terserah Mama kalau gak percaya. Shania capek mau ke kamar. Nite, Ma."
Shania bergegas menuju kamar tidak mempedulikan panggilan Mamanya.
Shania melempar tasnya ke sofa yang ada di kamarnya lalu Shania memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selang lima belas menit Shania sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian piyamanya dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang.
"Hmm, hari ini ngga dulu deh. Langsung tidur aja."
***
"Kemaren kamu kemana? Sama siapa? Ngapain aja? Kenapa lama banget? Ak-"
"Berisik banget dah!" selak Shania saat pria dihadapannya memberondong berbagai pertanyaan yang menurut Shania bukan urusan pria itu.
"Shan, tunggu!"
Shania terus berjalan dengan cepat tanpa menghiraukan pria yang terus-terusan meneriaki namanya.
"Shania sombong banget."
"Tau tuh, dikejar-kejar Jonatan malah sok jual mahal gitu."
"Mentang-mentang diincer sama siswa non-akademik favorit sekolah malah jadi makin bertingkah."
Shania menutup telinganya dengan kedua tangan dan melangkah dengan cepat menuju kelasnya.
YOU ARE READING
Profitable Love
FanfictionIni tidak adil untukku. Aku ingin timbal baliknya! -Shania Bagaimana kalau kita saling menguntungkan? -Boby
