1.

929 106 15
                                        

•••





Jimin Park, tahun ketiga sekolah menengah atas jurusan Ilmu Pengetahuan Alam.

Hobi; membaca buku, makan, dan minum susu pisang. Keahlian; meneliti mikroba, meracik ramuan kimia, dan sesekali menjadi pemerhati jarak jauh---hanya untuk memantau gerak-gerik Kim Taehyung, bocah tengil jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial, tahun kedua.

"Oi, Jim!" teriak pemuda jangkung berlesung pipi, ah, si bapak ketua osis rupanya; Namjoon Kim.

Pemuda manis berkaca mata lantas menoleh, mengernyitkan dahinya heran pada Namjoon yang tengah berjalan mendekati. "Hai, Jim."  Jimin tersenyum menanggapi, eratkan pelukannya pada beberapa buku paket di dekapan, kedua matanya membulat menyiratkan pertanyaan.

"Kenapa? "

Jimin menggerakan jemarinya mahir, dan tentu saja disimak baik oleh Namjoon yang saat ini tengah bersidekap dada.

"Kamu dipanggil pak Siwon ke ruang guru," cetus Namjoon hati-hati, Jimin yang sedari tadi konsen perhatikan gerakan bibir Namjoon, mengangguk pelan.

"Oke deh, nanti aku kesana. Terimakasih,"

"Sama-sama," Namjoon tersenyum ramah sebelum berpamitan ke ruang tata usaha, ninggalin Jimin yang masih menetap pada posisinya. Jemari mungil beralih memeta baju seragam, berniat merapihkannya sebelum pergi ke ruang guru untuk temui pak Siwon.


Dirasa penampilannya sudah lebih baik, si mungil pasang senyum cerahnya seraya merapihkan kacamata bulat yang bertengger di tulang hidung. Tubuh kecilnya diputar membalik arah, dan tumbang seketika begitu mendapat serangan spontan di wajahnya.




BRUK!

























"A---akh! Sakit woi!"  Jimin mengerutkan dahinya ketika merasakan cairan kental mengalir keluar dari rongga hidung. Kedua matanya menyipit; pening.

"Yaampun, lo lagi lo lagi!"  samar-samar Jimin mendengar ucapan Jaebum, teman seangkatannya yang ketus.

Jimin berusaha bangkit, masih tadangi darah yang menetes cukup banyak dari hidungnya, kedua mata sipitnya beralih pandangi beberapa murid lelaki yang berdiri di belakang Jaebum.

Pandangannya mencemooh, Jimin jadi pundung. Si mungil yang tak mendengar jelas perkataan beberapa siswa dihadapannya lantas beringsut mundur. Niatnya ingin menghindari si biang onar, namun punggungnya justru menabrak sesuatu dari belakang, membuatnya nyaris lompat ke langit teratas ketika kedua netranya mendapati si tengil tahun kedua, Taehyung Kim, pujaan hatinya.

"Astaga, lo kenapa?"  tanya Taehyung dengan raut cemasnya, syukurnya dipahami Jimin.

"Gapapa kok, aku baik-baik aja."  jemarinya digerakan handal dan pelan seraya mengulas senyum sederhana di atas wajah putih yang ternoda cairan merah.





Taehyung total penasaran.

Ia menarik tubuh mungil Jimin ke belakang punggung tegapnya, kemudian menatap Jaebum dan kawanannya dengan kedua alis yang beradu. "Ada apa ini?"

Jaebum, siswa kelas tiga, tengah menunduk takut di hadapan Taehyung ketika pemuda bersurai kelabu itu menyalangkan tatapan tajamnya, "Sori, gue gak sengaja lempar bola basket keluar zona, dan kena dia."

"Lo tetep salah tapi bukannya minta maaf, lo justru maki-maki dia."  Jaebum memejamkan matanya takut ketika Taehyung menunjuk-unjuk dirinya dengan rahang yang mengeras.

"So--sori, gue bakal minta maaf."

"Bukan cuma lo, tapi semua antek-antek lo juga harus minta maaf. Sekarang juga, brengsek."

Kemudian menarik kembali tubuh mungil Jimin ke hadapannya, si rambut abu menunduk sedikit sebelum membisikan sesuatu pada Jimin yang dibalas tatapan cemas.

"Dia mau minta maaf ke aku? Kamu serius? "

Taehyung mengangguk, seraya memutar tubuh Jimin menjadi berhadapan dengan Jaebum beserta kawanannya.

"Jim, gue minta maaf. Gue beneran gak sengaja, sori ya."  Jaebum merunduk sopan pada Jimin, diikuti oleh teman-temannya yang berhasil buat lelaki mungil dihadapan sedikit tersentak.

Namun, seperdetik kemudian Jimin tersenyum canggung, buat Jaebum dan kawanannya balas senyum dengan terpaksa sebelum pamit kepada Si Ketua, ingin kembali ke kelas katanya.





Tubuh Jimin di putar kembali, kedua manik cokelat menatap sepasang iris sehitam jelaga, dalam. Kedua telapak tangan Taehyung merengkuh bahu sempit si mungil, "Sakit ya?" sebelum merogoh kantung celananya, keluarin sapu tangan abu-abu dari sana.

Jimin terdiam mematung. Kedua pipinya terasa panas ketika mengingat posisi keduanya yang sangat dekat saat ini. "Biar gue bantu," kedua mata Jimin sayu, tatap Taehyung yang lagi bersihin darah di sekitar hidungnya sambil melafalkan kalimat pisuhan yang buat Jimin merinding mendengarnya.

"Kak, lo cantik."  puji Taehyung seraya bersihkan sisa darah yang masih tertera disana. Sukses membuat pipi gembilnya merona hebat, Taehyung terkekeh gemas lihatnya.

"Haha, cie nge-blush. . " menjeda ucapannya sebentar, si ganteng bersurai kelabu beralih mendalami kembali netra kembar milik Jimin, entah, ia merasa nyaman.

" . . mirip pacarku kalau lagi malu begini,"













Pacar,









Ingin rasanya Jimin memporak-porandakan seisi sekolah sekarang juga.








Pipi gembil miliknya dicubit pelan si adik kelas, kemudian tangan kanannya diraih dan sapu tangan kelabu bertanda KTH diletakan disana.









"Simpen aja, terserah mau dibalikin atau enggak." mengacak bebas surai blonde milik Jimin sebelum berpamitan, "Gue duluan ya? Si mbul udah nunggu di kantin. Bye!".



Taehyung lambain tangan sambil berlari-lari kecil yang tentunya gak luput dari pandangan Jimin yang beberapa saat kemudian, beralih pandangi sapu tangan milik Taehyung sambil tersenyum.




"Terimakasih Taehyung, aku sayang kamu."
































•••

Tbc






Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 08, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Mon Bebe | VminkookCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang