awal dari semuanya

4.5K 89 4
                                        

Seseorang masuk ke  kamarnya  tanpa mengetuk pintu sambil membawa seember penuh air "fatehhhhh bangun"

Tanpa rasa kasihan maupun peduli, pemuda tersebut menyiram seember air tadi ke badan ringkih diatas kasur, yang disiram pun segera bangun sambil menahan dingin karena takut akan amukan abangnya jika ia mengeluh

"Cepet ke bawah yang lain udah pada nungguin buat shalat subuh tu"

"Iya bang,tapi ateh ganti baju dulu ya bang"

"Ngga usah. Nanti aja ganti bajunya" Fateh, anak yang tadi dibangunkan tanpa rasa kasihan tersebut kini ditarik lengannya dengan kencang oleh kakaknya. Bahkan ia tidak diberi kesempatan untuk mengganti pakaian basahnya sekalipun.

kenapa semua jadi kayak gini? Apa jangan jangan karena kejadian 2 tahun lalu mereka segininya sama aku batinnya

Flash back on

Di suatu siang yang terik, terlihat kedua anak kecil yang hanya anteng duduk sambil menonton kartun bus biru tersebut. Tetapi wajah salah satunya tertekuk, terlihat bosan.

"taz kita main yuk" tanpa menjawab ajakan kakaknya, sang adik langsung berlari kecil tanpa babibu ke arah pintu. Sesungguhnya dia sendiripun bosan

Mereka pun ijin untuk main ke taman tanpa pengawasan orang  dewasa. Sibuk, semua orang di rumah itu sangat sibuk. Toh mereka juga sudah besar. Mungkin itu pikiran orang rumah.

Saat asyik bermain kejar - kejaran dengan beberapa anak komplek lain juga, sang adik melihat salah satu temannya melahap es krim yang terlihat enak, apalagi cuaca sedang panas panasnya.

"bang, muntaz mau es krim" Sambil menunjuk tukang es krim yang biasa nangkring di seberang jalan.  Sang abang yang sepertinya juga tergoda hanya mengiyakan ucapan adiknya tersebut.

Setelah menghabiskan dua cone es krim, mereka melanjutkan acara mainnya yang tertunda. "Kali ini muntaz yang jagaa" terdengar suara cempreng gadis kecil tetangga  mereka.

"Yaudah aku hitung sampai tiga kalian lari ya, satu... dua... tigaaaaa" mereka melanjutkan agenda kejar - kejaran itu dengan bahagia. Tapi sepertinya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Bruk...

"MUNTAZ!" Fateh yang terkejut segera menghampiri adiknya tersebut. Sementara muntaz sendiri sudah berlutut memegang dadanya sambil sesekali merintih perlahan menahan rasa sakit di dadanya.

Bodoh, bisa bisanya fateh lupa adiknya punya jantung yang lemah. Kakak seperti apa dia. Dengan segala kepanikannya, ia menyuruh salah satu anak tersebut untuk memanggil kakak atau abangnya.

"Muntaz sebentar ya, sakit  ya? Maaf abang lupa. Maaf, tahan sebentar lagi ya?" Tangan kecilnya tersebut menggenggam erat tangan adiknya. Menyalurkan kekuatan sembari tangan satunya mengusap peluh di wajah adiknya tersebut.

"Muntaz!" Suara sang abang akhirnya membuat rongga paru - parunya bekerja lebih normal, tidak sepanik tadi. Atta yang baru saja datang langsung menggendong adiknya tersebut ke dalam mobil. Tidak lupa memberi tatapan sinis ke anak kecil yang sedari tadi menundukkan kepalanya.

"Mau ikut atau abang tinggal disana? Cepet!" Setelah mendengar hentakan atta, anak kecil tersebut sedikit  berlari menuju mobil kakaknya tersebut, lalu masuk dan mobil atta melesat cepat meninggalkan taman komplek.



Sesampainya di rumah sakit, semua riuh dan pecah. Ya, adik kesayangannya tersebut beberapa menit lalu tak sadarkan diri yang membuat dirinya sendiri semakin dilanda panik. Ditambah suara tangisan anak di sebelahnya yang membuatnya semakin pusing.

"BISA DIEM NGGAK? ABANG LAGI PUSING SAMA ADEK! KAMU DIEM NGGAK USAH NANGIS.  LAGIAN DIA JUGA GINI GARA - GARA KAMU! UDAH DIKASIH KEPERCAYAAN BUAT JAGA ADEKNYA MALAH GINI. DIEM!" Bentakan abangnya membuat bocah kecil tersebut berhenti menangis walau masih sesenggukan sesekali.

Tap... tap... tap...

Dari jauh, terdengar langkah kaki beberapa orang. Atta yang melihat kehadiran mereka pun segera berdiri. Itu orang tua dan adik adiknya. Beberapa ada yang baru selesai syuting, mengedit vidio, bahkan ada yang baru selesai rapat pun segera berangkat kesini mendengar kabar dari si sulung.

"Atta, muntaz gimana? Dia gapapa kan?" Sang ibu sudah berlinang air mata di pelukan suaminya. Sungguh ia tidak sanggup jika hal tersebut berhubungan dengan keluarganya, apalagi dengan anak - anaknya yang  masih kecil.

"Atta gatau mi, masih diperiksa dokter. Umi duduk dulu tenang dulu ya?" Sang kepala keluarga mengajak istrinya duduk di salah satu kursi tunggu. Salah satu anak perempuannya memberikan minum agar ibunya sedikit tenang.

Tak lama kemudian dokter keluar dari Instalasi Gawat Darurat tersebut yang langsung diserbu berbagai pertanyaan dari orang didepannya.

"Wali pasien muntaz?" Abi dan umi segera maju untuk mendengar lebih  jelas penuturan dokter tentang kesehatan anaknya.

"Saya orang tuanya dok. Anak saya bagaimana? Dia tidak apa - apa kan dok?"

"Untuk sekarang dia masih harus kami pantau dua puluh empat jam karena kondisinya masih sangat rentan. Untuk kedepannya mungkin bisa lebih diperhatikan, jangan biarkan dia beraktifitas berat atau yabg membutuhkan tenaga, obatnya juga harus rajin diminum, intinya tetap jaga tubuhnya stabil, jangan sampai kedinginan juga, karena kini imun tubuhnya juga tidak sekuat anak - anak seusianya. Itu saja, di dalam ada suster, jika butuh sesuatu bisa minta ke beliau karena saya masih harus mengecek pasien lainnya, untuk pembayarannya bisa langsung ke bagian administrasi. Kalau begitu, saya permisi dulu"

Setelah mendengar penjelasan dokter, mereka semua yang ada disitu melemas. Entahlah, yang mereka pikirkan saat ini hanya keadaan muntaz saat ini dan kedepannya.

"Hiks... umi... muntaz gapapa kan? Maaf mi maafin ateh" anak kecik tersebut memeluk pinggang uminya. Tapi bukan balasan pelukan yang ia dapat, tetapi dorongan yang membuat dirinya tersungkur.

"Umi udah bilang sama kamu! Dijaga adeknya! Tapi sekarang apa? Lihat, seneng kan kamu adikmu kayak gitu? SENENG KAN KAMU? Dari dulu ga pernah berubah. Selalu aja bawa sial"

Anak kecil tersebut menggeleng pelan "enggak umi... ateh ga bawa sial, maaf maafin ateh... maaf ateh ceroboh" tangisannya hanya dianggap angin lalu oleh orang - orang di sana.

Saaih yang merasa kesal dengan tangisan adiknya yang berisik itupun tak tahan untuk menggeret adiknya agar menjauh dari tempat rawat muntaz.

Sejujurnya sedari tadi tangannya gatal ingin memukul adiknya tersebut. Beruntung dirinya masih waras sehingga tidak melakukan hal tersebut.

"Lo, diem di sini. Berisik. Dasar pembawa sial."  Setelah berucap demikian, tanpa rasa bersalah ia meninggalkan adiknya sendiri di taman rumah sakit. Sudah tidak peduli adiknya diculik atau tersasar  nantinya.

Sementara anak kecil tersebut hanya terdiam sambil menundukkan kepala, perlahan bahunya bergetar diiringi isak tangis yang terdengar "maaf, maafin ateh..."

Flash back off

Setelah mereka berdua sampai di bawah, aura mencekam langsung menyelimuti. Tatapan tak suka dilayangkan oleh para kakaknya kepadanya.

"Lama banget sih" ucapan sinis kakaknya sudah biasa ia dengar, tapi sampai sekarang rasa sakitnya  pun masih sama

"Taz, iqomah sana"

Setelah sang adik melafalkan iqomahnya dan merapatkan saf, merekapun menunaikan shalat subuh berjamaah dengan diimami sang kepala keluarga dengan khusyuk











why you hate me??? | RevisiStories to obsess over. Discover now