The Beggining

6 2 0
                                        

(Sekarang)

Berada di tempat ini mengingatkan ku akan masa lalu. Sebuah masa lalu yang aku sendiri bingung apakah indah atau tidak.

"Kamu tidak memesan sesuatu?" Aku menoleh ke sumber suara itu.

"Nanti saja, aku belum lapar" pria didepan ku hanya tersenyum dan kembali melihat buku menu. Sedangkan aku hanya menatap wajah nya.

Dia tunangan ku dan sebentar lagi kami akan menikah. 2 tahun berpacaran dan berkenalan hingga membuat dia memutuskan untuk melamar ku. Menurut ku hal itu adalah kisah indah. Namun, aku berpikir apa aku siap untuk melangkah lebih jauh lagi.

Entah apa yang membuat ku tidak yakin. Aku merasa ragu dan takut. Ketika aku sedang berpikir dan melihat sekeliling ku. Tanpa kusadari aku memikirkan masa lalu. Dapat ku bilang merupakan sebuah awal dari diri ku sekarang. Aku sangat mengingatnya berbagai kenangan itu. Kenapa aku tidak bisa melupakannya?

--
(12 tahun lalu)

Tatapan dan tawa itu selalu ingin kulihat setiap hari. Bagiku dia adalah semangat ku untuk masuk kesekolah. Pukul 6 pagi dan kelas masih saja kosong. Ada alasan aku selalu datang pagi seperti ini. Karena 10 menit kemudian dia datang.

Dengan jaket biru dan langkah nya yang sangat khas selalu dapat membuat ku tersenyum. Dia duduk dan membaca buku. Aku hanya dapat melihat dia dari tempat duduk ku dan hal itu sudah sangat menyenangkan.

Selama pelajaran hanya dia yang menjadi perhatian ku. Bahkan terkadang aku tidak tau apa yang guru sedang bahas.

"Lagi-lagi kamu melihat dia. Memang apa yang menarik dari dia" aku memukul dengan segera pundak teman depan ku.

"Entah, aku juga bingung. Kenapa ya aku selalu melihatnya" kataku padanya.

"Jangan terlalu berharap. Belum tentu dia melihatmu juga"  ketika mendengar itu. Rasanya jantungku berdetak  begitu cepat. Aku takut jika hal itu terjadi.

Apa boleh aku berharap dia melihat ku? Aku ingin hal itu terjadi. Terkadang aku ingin dia juga menyukai ku. Namun, kurasa itu sangat mustahil. Apa hal itu dapat terjadi?

--
Aku melihat orang masuk dan keluar dari pintu cafe itu. Banyak dari mereka yang berpasangan dan tersenyum bahagia. Namun, mendadak aku mematung ketika melihat seseorang itu masuk. Begitu lama aku tidak melihat nya dan dalam situasi ini perasaan gugup yang dulu pernah kurasakan sekarang kurasakan kembali.

Aku berhenti berpikir dan melihatnya walaupun dihadapan ku saat ini ada tunangan ku. Seakan masa muda ku kembali.

"Kamu yakin tidak mau pesan?" Dia bertanya kembali pada ku.

"Hmm... pesankan pancake saja" ucap ku padanya.

Aku berusaha fokus namun mata ku terus mencari nya. Seakan otak dan hati ku memiliki pendapat yang berbeda. Saat aku kembali melihat nya. Diotak ku muncul pertanyaan bagaimana keadaan nya selama ini.

--
Ketika itu pembagian kelompok dan aku merasa hari itu sangat beruntung. Bagaimana tidak, aku berkelompok dengan nya. Tapi aku kembali berpikir apa yang harus ku bicarakan padanya. Diterus membaca buku nya sedangkan aku tidak tau harus melakukan apa.

" ee... kamu mengerti soal ini?" Aku menoleh ke arah nya. Kurasa ini pertama kalinya dia berbicara langsung padaku. Jika aku dapat melihat wajah ku, kurasa wajah ku memerah.

"Kurasa seperti ini, bukankah kamu selalu belajar? Kamu pasti bisa" dia menggelengkan kepala.

"Tetap saja aku tidak mengerti. Bukannya kamu selalu memperhatikan guru? Seharusnya kamu yang bisa. Aku sih ikut kamu saja" dia tersenyum dan jantung ku kembali berdetak begitu cepat. Aku hanya bisa tersenyum dan diam.

Kurasa itu awal mula dari semua kebahagiaan ku. Sejak itu kami mulai saling bertukar pesan. Saat dikelas ketika aku melihat nya tanpa sengaja mata kami saling bertemu. Aku yakin wajah ku pasti benar-benar memerah.

Aku terlalu malu menyapa nya dikelas. Aku terlalu takut jika perasaan ku pada nya hanya aku saja yang merasakan sedangkan dia menganggap aku temannya saja. Aku begitu menyukainya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 29, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

How Are You?Where stories live. Discover now