Hari Minggu. Kannonzaka Doppo menghabiskan waktu liburnya yang langka di distrik lain yang berjarak satu jam naik kereta dari Shinjuku, berusaha fokus pada film apapun itu yang sedang terpampang di layar televisi. Di dalam sebuah apartemen yang berukuran sekitar tiga kali apartemennya sendiri.
"Hei, tomat."
Ia menoleh--demi apa, itu bahkan bukan namanya--dan mendapati kekasihnya, Aohitsugi Samatoki, sudah tidak lagi memandangi layar televisi dan justru memandangi wajahnya. "M-maaf, saya terlalu fokus menonton, maaf," ujarnya gelagapan. "Ada apa, Samatoki-san?"
"Jangan minta maaf, lu nggak salah." Samatoki menjitak kening Doppo, dan sang gadis tidak menghindar meskipun dialog ini telah berulang ratusan kali sejak pertemuan mereka di Yokohama hari itu. Pemuda itu kemudian diam sejenak, memandangi Doppo lekat-lekat hingga yang dipandangi hampir merasa jengah.
"A-ada apa?" Doppo mengulangi pertanyaannya sambil mengusap keningnya.
"Nikah, yuk"
Doppo berkedip. Berusaha keras mencerna ucapan Samatoki, lalu wajahnya memerah seperti tomat.
KannonzakaDoppo.exe has stopped working.
***
"APA KAU BILANG?!"
Kannonzaka Doppo, 29 tahun, adalah karyawati sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kebutuhan medis. Hampir selalu disiksa dengan kerja lembur dan tumpukan tugas hingga wajahnya pucat dan berkantung mata. Manusia yang memiliki kombinasi sempurna pandangan pesimis dan pandangan rendah terhadap diri sendiri, hingga ia tidak pernah sadar bahwa bos yang rambutnya menipis itu gemar memarahinya dan menguburnya dalam pekerjaan karena dendam kesumat. Alasannya? Doppo selalu menolak ajakannya untuk berkencan.
Ya, bos botak yang saat ini duduk di balik meja dengan wajah merah padam karena marah. Doppo bimbang, ingin mengkhawatirkan pembuluh darah yang menggembung di kepala sang bos atau ingin resign dari kehidupan sekalian. Mungkin dua-duanya. Tapi jika ia berani resign dari kehidupan, bisa jadi Samatoki akan menyeret paksa rohnya kembali ke dunia orang hidup.
"Maafmaafmaaf, s-saya berniat minta pindah ke kantor cabang Yokohama... Mmmaaf--" gumam Doppo. Sang bos mengetuk-ngetukkan pulpennya ke meja dengan gusar. "Kenapa?!" Bentaknya, jelas tak rela karyawati yang belum berhasil dibawanya kencan itu pindah ke kantor cabang lain. Doppo ciut di kursinya.
"P-p-pacar saya, melamar saya... M-maaf, maaf..."
Pacar?
Sang bos terlihat seperti berasap dari telinganya. Kannonzaka Doppo punya pacar?! Sejak kapan? Dan siapa yang berniat mengencani seorang gadis hampir berumur 30 yang jelas tak terurus dan terlalu sibuk bekerja? Selain bosnya yang sengaja membuat Doppo tak sempat berkencan, tentu saja.
"SURUH PACARMU MENEMUI SAYA!!!" Raung sang bos. "BESOK! JAM DELAPAN PAGI DI RUANGAN INI!! KALAU DIA TIDAK DATANG, JANGAN HARAP KAU BOLEH PINDAH!! SEKARANG SELESAIKAN KERJAANMU DAN BUAT LAPORAN PENJUALAN MINGGU INI!!! CEPAT, KANNONZAKA!!"
Doppo langsung berdiri, membungkuk, dan berlari keluar ruangan bosnya sambil menggumamkan rentetan permohonan maaf, disusul suara benturan dan buku-buku yang berjatuhan. Gadis itu pasti menabrak meja yang dipenuhi tumpukan dokumen, lagi.
Sang bos menatap pintu yang perlahan tertutup dengan sendirinya. Jelas ia tidak akan membiarkan karyawatinya itu pindah semudah itu. Ia akan membuat pacar Kannonzaka Doppo, siapapun itu, memutuskan hubungan dengan gadis itu agar ia tak perlu pindah.
***
Atau setidaknya, begitu rencananya.
"... Gue udah denger dari Doppo," ujar pemuda yang sekarang duduk dengan mengangkat kaki ke meja. "Lu nggak ngizinin dia pindah kalau gue nggak dateng, ya?"
VOCÊ ESTÁ LENDO
Moving
RomanceSamatokixfem!Doppo. Terinspirasi dari obrolan di square Hypmic. Absurd cheesy dan OOC, maaf.
