Setelah jalan lebih dari dua bulan masa perkuliahan, Hyungseob dan Daniel semakin terlihat dekat. Mereka sering terlihat jalan bersama, atau makan bersama di taman fakultas.
Orang-orang mengira, Hyungseob adalah orang ketiga di renggangnya hubungan Daniel dengan Anak Komunikasi-Ong Seongwoo. Pasalnya, Daniel dan Seongwoo terlihat jarang bersama lagi ketika jam kuliah selesai.
'Ah, kau tau pria itu? Dia yang mencoba merebut Daniel Sunbae dari Seongwoo sunbae'
'Astaga. Benarkah? Lihat wajahnya menjijikan sekali'
Setidaknya seperti itulah sindirin yang Hyungseob dengar tiap harinya dalam seminggu belakangan ini.
"Orang-orang bodoh. Tak tau fakta sebenarnya, hanya bisa berbicara seolah yang paling tau" sarkas Hyungseob.
Ya. Daniel memang sempat menyukai Hyungseob, sama halnya dengan Hyungseob. Mereka sempat saling menyukai. Tapi, itu hanya sementara ketika Hyungseob menyadari bahwa Daniel mirip dengan kekasih kakak sepupunya.
Ong Seongwoo adalah Kakak sepupu dari pihak ibu Hyungseob.
Setelah bertanya banyak hal kepada Daniel dan Seongwoo, akhirnya ia mengungkap sebuah fakta bahwasanya Daniel memanglah kekasih Ong Seongwoo.
Ketika mengetahui fakta tersebut, mereka bertiga tertawa. Dunia begitu sempit ternyata.
Oleh karena itu, Daniel dan Hyungseob menjadi semakin dekat bukan karena saling menyukai. Karena Daniel meresa bahwa Hyungseob sekarang seperti adiknya sendiri. Namun, yang namanya manusia hanya bisa mengkritik hubungan kedekatan mereka tanpa tau fakta aslinya.
"Hei, Hyungseob!" Panggil Daniel
Hyungseob mendongakan kepalanya. Dan memberi tatapan tanda tanya.
"Apakah kau akan terus bermain app piano dalam smartphone mu itu?"
"Kenapa sih? Seru tau!"
"Setidaknya, habiskan makananmu terlebih dahulu Ahn Hyungseob."
Hyungseob mematikan smartphonenya dan mulai menyuapi dirinya sendiri dengan bekal makan siang yang di bawanya.
Hyungseob sedikit menggerutu dalam makannya. Dan Daniel menyadarinya.
"Sebegitu cintanya kau dengan piano?"
"Iya! Aku bahkan sedang membuat sebuah lagu"
"Oh, benarkah? Coba sini ku dengar"
"Tak perlu. Habiskan saja makananmu, hyung" setelahnya Hyungseob berjalan meninggalkan Daniel.
"Hah, astaga lihat anak itu. Dia pikir sedang berbicara dengan siapa ha? Hei, Hyungseob! Tunggu!"
Hyungseob pura-pura tidak mendengarkan teriakkan daniel dan memilih untuk terus berjalan.
Hingga seseorang menabraknya dan menjatuhkan smartphone serta kotak bekal yang masih berisi.
"Maaf. Saya benar-benar minta maaf"
Hyungseob ingin marah. Tapi, ia tak bisa sepertinya.
Ia melihat tepat di mata seseorang yang menabraknya. Hyungseob takjub. Orang ini memiliki wajah yang begitu indah. Alis tebal, mata setajam elang, hidung yang mancung, serta bibir yang sempurna itu dipadukan dalam wajah yang tegas serta kharisma yang kuat. Hyungseob menyukainya.
"Apakah anda baik-baik saja?"
Hyungseob masih diam. Jantungnya yang tidak bisa diam.
"Eh, Hyungseob! Kau tak apa?" Daniel menghampiri mereka.
"Oh, Niel hyung?"
Fokus Daniel berganti ke seseorang yang berada diantara mereka.
"Oh, Woojin-ah? Apa yang kau lakukan di fakultas sastra?"
"Aku ingin mencari mu, ada suatu kendala di grup basket Universitas"
"Oh, begitu. Tapi maaf Woojin-ah, bisakah kau menungguku sebentar dikantin atau dimana kau mau? Aku harus mengantar anak ini ke pusat kesehatan. Sepertinya ia sedikit terluka"
Seketika, pria bernama Woojin itu sadar bahwa dia baru saja menabrak seseorang.
"Ah. Biar aku saja yang mengantarkannya, hyung. Aku tidak sengaja menabraknya tadi"
"Tak perlu, kau tunggu saja aku. Biar aku yang mengantarnya"
Woojin menjadi sedikit tak enak hati. Ia melihat kearah seseorang yang ditabraknya tadi. Pria itu tampak menahan sakit dikaki sebelah kirinya. Woojin ikut meringis melihatnya. Pasti sakit.
"Sekali lagi, saya benar-benar minta maaf telah menabrak anda"
Hyungseob terlalu sibuk dengan kesakitan yang dideritanya, jadi dia tidak terlalu mendengar apa yang Woojin katakan. Daniel membopong Hyungseob berdiri.
"Woojin-ah. Aku pergi dulu. Hubungi aku dimana kau berada, ya"
Daniel pun mulai membopong Hyungseob menjauhi Woojin.
Selama perjalanan ke pusat kesehatan, Hyungseob selalu merengek.
"Aw, Hyung sakit! Pelan-pelan jalannya. Kau ini bagaimana sih?"
"Oh, astaga! Aku sedang membantumu kalau kau lupa Ahn Hyungseob."
"Hyung, kau kenal orang yang menabrakku tadi?"
"Hmm, dia temanku. Anak Seni semester 3"
Hyungseob cukup kaget. Ia kira orang itu seangkatan dengannya. Ternyata lebih tua.
"Kenapa?"
Hyungseob menolehkan kepalanya menghadap Daniel.
"Kenapa apa?"
"Kau bertanya."
"Entahlah, pria itu terlihat keren."
Daniel tersenyum.
"Benar, Park Woojin memiliki visual yang lumayan. Menjadi salah satu anggota club basket Universitas, seorang choreographer, dan ia pandai memainkan alat musik terutama piano. Seperti dirimu"
Hyungseob dapat membayangkan sungguh sempurnanya Park Woojin itu.
Wajah tampannya, serta keunggulan-keunggulan yang dimilikinya. Dan, poin penting adalah ia pandai memainkan alat musik. Hyungseob selalu jatuh cinta dengan orang yang pandai bermain alat musik, apapun itu. Karena bagi hyungseob, musik adalah bagian dalam dirinya.
Hyungseob tumbuh dengan musik. Dulu, Ibunya adalah seorang vokalis. Dan, ayahnya adalah composer. Musik mengalir dalam darah Hyungseob.
Melihat hyungseob yang tersenyum sendiri, daniel merinding rasanya.
"Tapi, dia memiliki seorang kekasih sebagai info tambahan itu pun kalau kau perlu"
Seketika, imajinasi indah dalam pikiran Hyungseob hilang bersamaan dengan senyuman diwajahnya.
Hyungseob tampak kecewa.
'Astaga, apakah Hyungseob mengalami cinta pandang pertama? Apakah aku salah bicara?'-Daniel dengan segala kebingungan yang ada didalam pikirannya
.
.
▪GodJinseob▪
ESTÁS LEYENDO
MEET ▪Jinseob▪
Fanfiction"Why do I smile like a fool when we were meet?" . "It was weak but it was cute"
