Kuparkirkan mobilku jauh dari hiruk pikuk jalan Gejayan, di kotaku tercinta, Yogyakarta. Jalan yang sedari kuliah dengan setia kulewati.
Akhirnya..., aku bisa memejamkan mata sejenak, keluhku pelan.
Rasa kantuk itu selalu menderaku akhir-akhir ini. Banyaknya tugas kantor memaksaku untuk begadang. Menginput banyak data perusahaan membutuhkan super ketelitian. Salah sedikit saja, siap-siap mendapat tatapan tajam dari bu bos yang suka senewen .
Apalagi tugas akhir tahun seperti ini. Sang bu bos dengan sigap akan mengingatkan, menanyakan setiap progress pekerjaan kami tanpa mengenal tempat dan waktu. Yang membuat kami seperti orang jatuh cinta. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak.
Terkadang saking senewennya, tubuh bu bos yang tambun itu akan melenting ke sana ke mari, meneror para bawahannya. Jangan harap bisa luput dari instingnya yang juara, mengendus sedikit saja kesantaian kami.
Tapi..., aku menyukai pekerjaanku. Aku suka memperhatikan setiap detil dengan teliti. Walaupun imbasnya membuat kantuk tiada henti dan mata panda yang cukup menarik orang untuk menoleh, menatap, berbisik, berkomentar.
Hmmm.., ternyata tatapan mereka cukup tajam juga, sampai bisa menembus tebalnya kacamataku, pikirku agak sinis.
Lelah.
Kusandarkan tubuhku, mencari kenyamanan. Menutup mataku dengan malas. Dan untuk beberapa saat lelap menarikku, mencecap sedikit kelezatan yang menina bobokkan tubuh letihku.
*********
Namaku Ra.
Tidak ada yang terlalu istimewa pada diriku.
Usiaku 27 tahun.
Usia yang membuat ibuku dan orang-orang di sekelilingku selalu saja bertanya, kapan menikah?
Pertanyaan yang kadang membuatku meringis. Pertanyaan yang membuatku menjadi teringat akan lagu Thriller milik Michael Jackson.
Iya sih, mungkin terdengar berlebihan bila aku menyebutnya demikian. Tapi bagi yang mengalaminya pasti akan paham. Begitu risihnya bila pertanyaan yang sama selalu dilontarkan berulang,. Berulang setiap kali aku menunjukkan batang hidungku.
Dan konyolnya lagi, saat kesendirian mendekapku, atau terjebak insomnia di malam-malam yang terasa begitu panjang, pertanyaan mereka terkadang juga mampu mengusikku. Memaksaku untuk sejenak menganggap penting semua celotehan mereka.
Ya, mengapa belum juga aku menikah?
Aku pun jadi bertanya entah pada siapa.
Bertanya sambil mematung, menatap bayangan diriku sendiri di cermin.
Cermin yang memantulkan bayangan tubuh semampai dengan wajah yang biasa. Tidak banyak polesan yang kulukiskan di wajahku yang akan membuat seorang pria berhenti untuk sekedar menatap.
Oh iya, mungkin ini juga disebabkan sifatku yang pendiam.
Aku selalu merasa canggung bila berhadapan dengan orang lain. Aku menarik diriku hingga sedikit orang yang mampu mendekat dan bertahan dalam kehidupanku.
Itulah sebabnya, dalam pekerjaan pun aku memilih untuk di balik layar.
Dan..., walau begitu vitalnya hasil kerjaku untuk mereka, tetapi saat kesuksesan teraih, tak ada satupun nama Ra tertulis di sejarah kejayaan perusahaan.
Tapi sekali lagi, aku tidak peduli. Bukan hiruk pikuk pujian yang aku cari. Tapi sebuah kepuasan atas pencapaian diriku, itu sudah cukup untuk kunikmati sendiri. Tak perlu validasi dari siapa pun. Penilaian mereka tak mempengaruhiku.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
CINTA RA
Romantizm"Tak akan ada waktu terlewatkan tanpa kamu menyentuh hatiku. Saat sepi tak lagi bisa menyelamatkanku dalam kegelapan, cinta manismu telah menyelamatkanku." Penggalan lirik lagu Tim McGraw..
