Kedai Senja

31 9 0
                                        

Paradigma tak beraturan, lahir dari pemikiran setiap anak manusia. Cukup kau tahu, setiap orang memiliki rasa yang berbeda, puja yang tak selaras. Paradigma tanpa nada, anak manusia yang mencoba peruntungan didunia tanpa cinta.

1 maret 2018


Lonceng berbunyi, tanda pelanggan baru masuk. Aku masih diam ditempatku, menyesap kopi hitam pekat dengan uap sebagai hias, lalu menarikan jari diatas keyword putih yang menghasilkan iramanya tersendiri.

Soreku masih baik-baik saja hingga kemudian terdengar suara berisik dari pintu utama yang disusul dengan dentingan keras lonceng dari pintu yang dibuka paksa. Beberapa pengunjung menengokkan kepalanya menuju sumber suara, tak luput juga aku, seraya menaikkan kembali kacamata yang melorot dari tenggerannya, asik melihat beberapa orang ukuran mahasiswa memasuki kedai ini.

Lalu, semua kembali senyap, hanya ada suara peracik kopi atau sedang menumis cumi di pantri dapur. Semua kembali ke rutinitas masing-masing.

'Prraang'

"Hati-hati dong, mbak, kalau jalan! Jadi pegawai kok engga profesional! Jalan itu dipake matanya!"

Semua mengalihkan atensinya, termasuk lagi diriku yang sudah bersiap untuk pulang.

Seorang pegawai wanita dengan apron merah muda, menundukkan kepalanya dengan dalam, merasa bersalah dengan apa yang baru saja terjadi. Beberapa orang terlihat mengabadikan kejadian tersebut, dimana perempuan dari rombongan orang yang ku kira mahasiswa tadi memarahi sang pegawai.

"Sengaja, ya, jatuhin nampannya ke gue?!" tuduhnya sarkastik, jemari lentiknya mengangkat tinggi dagu sang pegawai tadi. Dengan bibir yang sudah pucat pasi, kaki gemetar tanpa henti, pegawai itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Maaf, ta..tapi, saya tidak bermaksud. ..maaf, akan saya bersihkan segera" pegawai itu menjawab dengan terbata, sedang sang perempuan mendengus tak percaya, jarinya yang tadi ia gunakan untuk mencekram ia hempas dengan kuat-kuat.

Tak sedikit dari temannya yang berusaha membujuk untuk ia menghentikan aksinya, bahkan salah satu pemuda nyaris memeluknya untuk menenangkan.

"Ruby, udah! Ini cuma masalah kecil, engga perlu diperbesar. Malu dilihat orang lain!" Pemuda tadi; yang nyaris memeluknya, menasehati Ruby-- jika aku tidak salah dengar, lalu menariknya untuk duduk.

"Engga gitu, Tam! Ah, atau lo mau cari perhatian sama cowok gue, ya?! Sama temen-temen gue?! Kurbel bener, sih" sentaknya.

"Engga gitu, Tam! Ah, atau lo mau cari perhatian sama cowok gue, ya?! Sama temen-temen gue?! Kurbel bener, sih" sentaknya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Namanya Ruby, setelah aku dengar temannya beberapa kali menyebutkan namanya, juga mungkin kekasihnya. Dia cantik, tapi perilakunya tidak. Maaf, tapi itu adanya.

Beberapa orang masih asik merekam, bahkan beberapa pegawai lainnya juga menyembulkan kepalanya lewat jendela pembatas kedai ini. Aku mendengar kekehan dari pria tua yang duduk disudut kedai, "Dasar anak muda," gumamnya. Sedetik kemudian, ia melirikku, lalu kembali menyesap kopi hitam dan membaca koran yang ia baca.

Sirius Where stories live. Discover now