Choice

1 0 0
                                        

Wajah Rere tampak kusut. Air mukanya keruh. Dihembuskannya nafas yang sesak di dadanya dengan berat. Hatinya mengaduh sakit.

Jika kemarin pelangi, hari ini mendung kembali menyambangi langit hati Rere. Hari ini, Selasa pagi keluarga Kak Rudi datang membicarakan khitbah antara Rere dengan Rudi. Hari yang seharusnya membuat Rere bersemangat karena di usianya yang sudah dua puluh enam tahun lehih ada seorang yang serius ingin memperistri dirinya. Dan itu adalah Rudi, kakak kelasnya dulu di SMP dan SMA. Sosok suami idaman. Sosok yang sejak SMP terkenal pintar, alim, kebanggan guru dan orang tua, berprestasi bahkan pernah mengikuti ajang perlombaan baik dalam negeri maupun luar negeri. Berhasil masuk UI jalur PMDK dan sekarang memiliki pekerjaan yang mapan di Pertamina. Lalu, apa yang membuatnya galau tak memilih Kak Rudi?

Bendungan yang tertahan di mata Rere akhirnya menyungai. Ia merintih dalam diam. Sesekali dipukulnya dadanya yang sesak. Ia tahu bahwa berteriak akan memperkeruh keadaan sehingga ditahannya dadanya yang sakit.

Siang ini sudah dua kali Kak Maman meneleponnya. Sesuatu yang tak pernah dilakukannya bertahun-tahun. Jika ia mengangkatnya, apa yang harus diucapkannya? Apakah mungkin ia tega bilang bahwa ia akan dikhitbah? Ah, itu nggak mungkin! Jika tidak mungkin, lalu apa ia harus tetap diam? Sampai kapan? Sampai semuanya hancur berantakan dibuatnya? Rere benar-benar bingung. Kepalanya berdengung-dengung. Sosok Kak Maman memenuhi pikirannya.

"Bukankah ibu sudah pernah bilang kalau kamu mau nikah sama Maman, ya udah nikah saja. Ibu nggak pernah melarang. Siapa yang nyuruh kamu mau berproses dengan Rudi? Kalau kamu menolak sekarang, kamu harus bilang apa?" Ujar ibu saat ia mulai meragukan prosesnya dengan Rudi.

Rere memukul dadanya lagi. Skenario apa yang sedang dimainkannya kini? Dalam hati ia menyesali kenapa dulu ia mengiyakan taaruf dengan Rudi. Tapi, sungguh dulu ia tak berniat taaruf dengan Rudi. Bahkan awalnya ia menolak taaaran itu. Lalu, ketika meminta pertimbangan pada orang yang menawarkan taaruf, akhirnya ia memutuskan untuk taaruf juga. Baginya, itu hanya sebatas menjalani proses. Kalau jodoh pasti bertemu. Kalau nggak jodoh, ya bakal dijauhkan.

"Nggak apa-apa dicoba aja dulu, Re. Kan ikhtiar. Belum tentu jodoh."

Rere ingat betul kalimat itu. Kalimat yang membuat Rere tak memusingkan taaruf itu. Pikirnya tak mungkin ia berjodoh dengan Kak Rudi. Mana mungkin seorang Rudi akan meliriknya. Rudi itu seperti bintang tak terjamah untuknya.

Empat hari yang lalu ia bertemu Rudi. Lalu, tiga hari kemudian ia datang ke rumah. Dan hari ini keluarganya datang berbicara tentang khitbah? Ah, ini nggak lucu!!! Apakah secepat itu memutuskan untuk khitbah? Nikah itu sekali seumur hidup! Bukan pacaran yang bisa putus nyambung kapan aja. Ini nggak main-main, kan?

Dering hanadphone Rere berbunyi. Tertulis nama Kak Maman di layar. Rere membuang nafas.

"Assalamu'alaikum..." Rere mengawali pembicaraan. Suaranya berat. Ada tangis yang tertahan.

"Wa'alaikumussalam..." Balas Maman di ujung sana. "Kok suara kamu beda? Ada apa?" Tanya Maman.

Mendengar pertanyaan tersebut, Rere hancur. Ah, bahkan laki-laki itu mampu merasakan gemuruh dalam hatinya. Untuk pertama kalinya laki-laki ini menghubunginya via telepon.

"Kak, aku punya berita buruk. Kakak ridha ya. Ada seseorang yang serius mengkhitbahku. Tadi pagi keluarganya datang."

Hening....

"Kita kawin lari yuk..." ajak Maman.

"Nggak bisa, Kak. Ini nggak benar. Nanti malam keluarga besarku akan rapat. Tunggu bagaimana keputusannya nanti."

"Kalau udah gini, rasanya beda. Matikan sudah teleponnya. Assalamu'alaikum..."

Hati Rere mencelos. Tangis yang ditahannya kini pecah sudah. Ia tak pernah mengira akan seperti ini alurnya. Tiba-tiba, ia akan dikhitbah oleh orang yang tak pernah masuk dalam daftarnya, sementara orang yang telah lama ditunggu-tunggunya, tanpa dia sadari telah terdepak dari arena.

Dipandanginya handphone putih di tangannya. Kakinya tak kuat menyangga beban pundaknya dan terduduk lemas sambil menahan isaknya. "Ya Allah, kuatkan aku. Kuatkan kesabaranku," batinnya dalam hati.

"Kenapa mendadak begini, dek? Kenapa nggak kasih tahu dari kemarin-kemarin? Selama ini kakak berpaling dari perempuan lain karena ada hati tempat kakak berharap. Ini balasan adek terhadap penantianku selama ini? Jika kamu memang sama dia, jangan hubungi kakak lagi. Kakak nggak kuat dek. Kakak nggak sekuat yang kamu kira..." begitu tulis Maman dalam sebuah pesan yang masuk ke handphone Rere.

"Aku nggak tahu harus bilang apa. Aku juga benar-benar bingung. Ini sangat cepat. Kakak sabar. Jika kakak adalah jodohku, pasti Allah akan mempertemukan kita. Kakak tunggu keputusan finalnya hari jumat. Kakak perbanyak do'a. Semoga Allah menjodohkan kita." Balas Rere...

Jodoh. Siapa yang tahu kita akan berjodoh dengan siapa. Itu rahasian Allah agar kita mengusahakan yang terbaik. Apakah seperti beberapa kenalanku yang mendapatkan jodoh sesuai keinginannya atau justru terbalik dengan kriteriamu? Ah, Manusia hanya mampu berencana, tapi Allahlah pembuat skenario sesungguhnya. Tunggu saja bagaimana Allah mengatur jalan hidup Rere, Rudi dan Maman. Sampai mana ikhtiar itu harus berakhir?

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 26, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Jodohku Maunya Bukan Kamu!!!Stories to obsess over. Discover now