Terlambat Pulang

134 72 111
                                        

Gunung tempat dimana kita menghilangkan penat & tempat untuk menenangkan diri  dari kesibukan tugas – tugas dan penat sekolah . Di Gunung kita dapat merasakan ketenangan yang sangat amat tenang, dan merasakan indahnya karunia Tuhan yang telah  ia berikan. Dan dari situ Saya mulai mensyukuri indahnya alam ini, tetapi masih saja ada orang - orang nakal yang tidak tau diri membuang sampah sembarangan di Gunung.

Pada tanggal 26 Juni 2018 Kemarin merupakan  pengalaman saya mendaki Gunung Merbabu bersama dua teman Saya Ia adalah Adi(yang biasa di panggil Aboy), dan Apit. Si Adi, Ia seorang pelajar yang berusia 17 tahun. Ia pelajar kelas 3 SMA,dan Teman saya yang satu lagi yang bernama Apit. Ia sudah bekerja di suatu perusahaan dan Ia berusia 22 tahun.

Gunung Merbabu merupakan gunung yang terletak di daerah Semarang, Boyolali, Magelang, Salatiga (Jawa Tengah). Dan memiliki tiga puncak yaitu, Puncak Syarief, Puncak Trianggulasi, dan Puncak tertingginya yaitu Puncak Kentengsongo dengan ketinggian mencapai 3.145 Mdpl. Gunung Merbabu dikenal dengan keindahan sabana yang sangat hijaunya dan juga penampakan keindahan Gunung Merapi di Sebelahnya.

Sekitar 2 minggu sebelum pendakian dimulai, berbagai persiapan pun dilakukan oleh kami. Mulai dari menyiapkan makanan & minuman untuk pendakian, alat masak, transportasi yang kita gunakan, dan berolahraga bersama agar stamina buat mendaki nanti oke. Dan yang terpenting itu izin dari Orang Tua, Alhamdulillah kami semua di izinkan.

Oiya sebelum menceritakan lebih panjang lagi, saya sedikit ingin menceritakan kenapa saya tertarik untuk melakukan pendakian gunung.
Banyak Orang bilang,“Ngapain si ke Gunung bikin cape, ga nyaman, bahaya juga Gunung itu”. Nah dari sini Saya mulai menghilangkan banyak perkataan yang seperti itu. Tetapi malah berbanding terbalik, Saya malah mencari tau tentang enaknya mendaki gunung itu. Dan kebetulan sekali, Teman – teman di daerah  rumah saya itu mayoritas Anak – anak pencinta alam. Maka dari itu saya mulai mengikuti kegiatan – kegiatan yang berbaur dengan alam termasuk Gunung.

Sudah lama sebenarnya saya mulai tertarik untuk mengikuti kegiatan mendaki gunung. Saya mulai  tertarik untuk mendaki Gunung pada saat Saya menduduki bangku sekolah kelas 2 SMP. Tetapi pada waktu itu saya belum boleh di izinkan mengikuti kegiatan pendakian – pendakian karena menurut Orang Tua saya umur saya masih terlalu muda untuk melakukan pendakian Gunung itu.

Saya dengan Besar hati merelakan keinginan saya untuk melakukan pendakian pada waktu itu, dimana saat itu Teman – teman Komplek/perumahan Saya ingin melakukan pendakian ke Gunung Salak. Saya Dinasehati oleh Senior Saya yang Sudah bekerja untuk tidak berkecil hati untuk masalah ini. “Mungkin lain waktu lu bisa naik gunung sama bocah – bocah Pik santai aja” Kata Dia. Oke, saya menerima nasehat darinya dengan sedikit perasaan ingin sekali ikut pada waktu itu.

Tanpa disangka–sangka pendakian mereka ke Gunung Salak itu sebagian ada yang gagal ke Puncak, Hanya setengah perjalanan saja. Dikarenakan Gunung Salak merupakan Gunung yang memiliki medan untuk kepuncaknya yang sangat berat. Tanahnya yang berlumpur, jalannya hanya setapak dan sekitar jalan ditumbuhi pepohonan berduri, dan juga mereka terkena hujan badai yang sangat besar. Gunung Salak juga sering dikenal dengan gunung yang sangat angker, banyak pendaki yang diputar- putar(tersesat) saat mendaki oleh penunggu Gunung sana.

Hanya 7 Orang saja dari rombongan pendakian tersebut yang berhasil ke Puncak Gunung Salak pada saat itu. Yang lainnya banyak yang memutuskan duluan untuk mengakhiri pendakian tersebut, dan ada pula yang masih penasaran ingin menuju puncak. Jadi ada 3 Kelompok dengan pemikiran yang berbeda, kelompok pertama memutuskan untuk melanjutkan pendakian dan berhasil menuju Puncak Gunung Salak, Kelompok kedua memutuskan memutar balik dan bertujuan mengakhiri pendakian karena sudah terlalu berat medan pendakiannya dan sudah sangat lelah sekali maka dari itu mereka langsung menuju ke Basecamp kembali. Dan kelompok ketiga,mereka memutuskan untuk mencoba mengapai Puncak Gunung Salak tetapi dengan berjalan dengan santai,“yang penting sampai puncak” Kata Mereka. Tanpa mereka sadari mereka berjalan menuju Puncak tetapi tidak menemukan arah menuju Puncak Gunung Salaknya. Dan ada salah Satu Teman Saya yang berpikir pendakian dari kelompok tiga ini sia – sia, “Kita sudah dua jam perjalanan dan kita juga belum melihat jalan menuju Puncak Gunung Salaknya, kayanya kita sedang dipermainkan oleh penunggu Gunung Salak ini deh” Kata teman Saya yang bernama Firman. Dan kelompok tiga juga setuju dengan pernyataan yang telah diungkapkan oleh Firman tersebut.

Vous avez atteint le dernier des chapitres publiés.

⏰ Dernière mise à jour : Nov 24, 2018 ⏰

Ajoutez cette histoire à votre Bibliothèque pour être informé des nouveaux chapitres !

Terlambat PulangOù les histoires vivent. Découvrez maintenant