"Jangan ngeselin satu hari aja bisa gak sih lo ? Awasssss Bian gue mau lewat ! Apa mau gue tanduk nih ?"
"Yaudah nih tanduk, emang gue takut ?" Bian terus saja menghalangi aku yang ingin masuk ke kamarku sendiri.
Dia adalah saudara kandungku satu satunya, abang lebih tepatnya. Tapi kelakuannya jauh lebih kekanakan dari aku yang umurnya beda 4 tahun di bawahnya. Kenapa dia tidak pernah menjelma menjadi seorang abang romantis yang sayang sama adiknya, yang rajin beri hadiah seperti di film-film. Kenapa dia harus nyebelin banget ? Ohhh Biannn!
Bian terus saja menghalangi langkahku seperti penjaga gawang timnas U-23 yang melawan Malaysia yang kami tonton kemarin malam. Dengan bodohnya akupun bertingkah seperti seorang striker yang sangat ingin memasukkan bola ke gawang lawan dan mencetak gol. Dengan ancang-ancang yang sudah hampir lima menit aku lakukan akhirnya aku bisa lolos dari iblis denukasura berwajah polos dengan taring ular yang sangat berbisa.
"Awas lo ya berani manginjakkan kaki ke kamar gue lagi, gue sembelih lo!" ancamku yang tak main-main.
"Emang kenapa ? ada yang disembunyiin ya ?" Kepalanya menyembul di sela pintu yang sudah hampir kututup. Pasti lo lagi galau ? dia menahan ketawa sampai wajahnya semerah anak tikus.
"Tuhkan udah di baca, dasar ya lo ! Gue sumpahin lo jumpa nenek gayung nanti malam."
"Eh kok bawa-bawa nenek gayung. Gak lucu ya sendok bengkok"
"Bodo amat!!" Aku menbanting pintu kamar dan langsung berbaring di kasur yang sangat aku rindukan beberapa hari ini dan tidak lagi memperdulikan Bian yang masih mengomel tentang nenek gayung di depan pintu kamarku. Si bodoh itu sangat takut dengan nenek gayung yang katanya dia pernah liat penampakannya saat pergi dengan temannya ke puncak lima tahun lalu, dan dia percaya kalau sampai saat ini nenek gayung masi ngikutin dia kemanapun dia pergi. Ya ampun apakah aku harus pura-pura gak kenal sama ikan cupang itu kaliya. Kenapa dia harus sebodoh itu oh abangku sayangku.
Situasi hatiku sangat buruk sekarang, aku baru saja pulang dari kegiatan organisasi yang baru kumasuki di kampus. Badanku lelah, hatiku juga tak kalah lelahnya, emosi ku juga belum mereda akibat kelakuan Bian barusan, terlebih lagi dia yang selalu seenaknya membaca catatan harianku yang sudah kusembunyikan di tempat yang kukira paling aman. Tapi entah kenapa si kodok rawa itu bisa tau dimana aku menyembunyikannya. Sehingga apapun yang berusaha aku sembunyikan ujung-ujungnya akan aku ceritakan juga.
Dia memang nyebelin, dia memang kekanakan, tapi aku juga nggak pernah bisa berhenti cerita segala masalahku kepadanya.
Sebelum pergi tadi pagi aku menulis catatan kecil di buku harian yang baru saja di baca Bian. Seperti ini
13 Mei 2017
Jika bukan aku tujuanmu, bisakah aku tetap menemanimu ?
Jika jalanku hanya menghambat arahmu, kanapa kamu disini ?
Apakah rasa hanya kau anggap sebuah candaan ?
Hanya tiga kalimat tapi aku yakin Bian sudah tau siapa yang kumaksud. Hatiku baru saja dipatahkan kembali. Benteng yang baru saja kubuka harus ku tutup kembali. Untuk sekarang aku membangunnya lebih tinggi, agar bisa lebih berhati hati. Bahkan aku belum memilikinya, tapi dia sudah kuberi kepercayaan yang sangat besar. Dan dia langsung mematahkannya.
Flashback on
"Ayumi aku deluan ya, kamu gakpapa kan sendiri ?"
"Via uda di jemput ? yauda deh gak papa. Kak Ryan juga katanya uda dekat kok, hati-hati ya"
"Iya kamu hati-hati juga ya " Jawab Via setelah meninggalkanku, sendiri. Kami baru saja selesai rapat HMJ mengenai pagelaran seni yang akan diadakan bulan depan. Hari ini adalah rapat untuk pembentukan panitia. Seperti biasa, kak Ryan akan mengantarkan ku pulang. Kebetulan dia terpilih menjadi ketua panitia pada event kali ini dan dia harus mengantar kak Bobi yang tidak membawa motornya yang katanya sedang sakit demam. Dan akhirnya aku yang mendapat imbas dari demamnya motor kak Bobi, menyebalkan.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Be Happy Always
RastgeleSetelah kamu pergi, aku banyak berubah. Entah karena aku begitu kehilanganmu, atau karena aku memang sudah seharusnya begitu. Kalau kamu tau, aku sudah tidak antusias membaca cerita karangan penulis yang aku suka sampai larut malam, tentunya diseli...
