We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Kosong

129 0 0
                                        



*klik* (PINTU LEMARI DITUTUP)

Tidak ada yang istimewa, hanya beberapa buku tua. Kuambil dan kudekap di dada beberapa warisan dari ayahku itu. Awal musim hujan dua belas tahun lalu adalah terakhir kali aku membuka lemari kayu tua ini, sampai kira-kira minggu lalu aku membukanya kembali. Aku bisa melihat karat menempel pada knopnya, meski bagian-bagiannya yang terbuat dari kayu masih terlihat kokoh. Sudah seminggu ini aku menghabiskan waktuku untuk membaca di ruangan ini, dan tiga buku ini adalah tulisan terakhir milik ayahku. Oh, dan lihatlah, meja baca di sudut ruangan itu terlihat seperti surga berlampu redup yang sangat dekat sekali, aku rasa tak ada salahnya bila aku mampir sedikit lebih lama.

Surga kecil yang sedikit berdebu, tapi kursinya masih terasa hangat oleh sinar matahari yang sejak siang tadi menelusup melalui celah teralis besi jendela–yang selalu dibuka itu. Aku menghirup dalam-dalam, harum buku-buku tua yang ditinggalkan ayahku untuk kubaca dan kujaga ini. Kertas-kertasnya sudah mulai menguning dan berwarna semakin gelap terpapar udara dan cahaya. Aroma dan warnanya sekarang memeluk hangat hatiku dan mengecat ulang kerinduan yang sudah kubangun sendiri selama bertahun-tahun. Kerinduan yang entah bagaimana sangat aku nikmati belakangan ini.

Baru saja aku buka halaman pertama buku berjudul "Pesawat Kardus", dan Samuel sudah datang dengan dua gelas susu segar dingin yang dia ambil dari lemari pendingin. Ini susu kesukaanya, tapi dia selalu memaksaku untuk meminumnya juga. Dia bilang, susu ini bisa membantuku keluar dari ingatan-ingatan aneh yang selalu berusaha menerungku pikiranku. Aku tidak mengerti maksudnya, tapi aku senang memiliki seseorang yang juga memikirkan hal-hal aneh. Memang benar, aku sudah berjanji akan membiarkannya menemaniku membaca hari ini. Jadi, dia akan menikmati susu segarnya, sementara aku menikmati buku-buku itu.

Kami sudah melewatkan hampir dua jam dalam keriuhan ruangan kami yang sepi ini.

"Bukankah buku-buku itu kosong?" tanya Samuel. Dia menunjukkan wajah tidak bersalahnya lagi dengan memandangi semua sudut ruangan, kecuali ke arah wajahku. Dia hanya memutar-mutar gelas susunya yang masih terisi penuh. Aku tahu dia hanya tidak ingin menyudutkanku.

"Buku ini tidak kosong, hanya ada beberapa bagian yang tidak ditulis dengan jelas. Mungkin saja ayahku sedang kehabisan tinta saat itu." Begitulah jawaban terbaik yang bisa aku berikan, dan aku sengaja tersenyum saat mengucapkannya agar terlihat tenang. Dia benar, buku ini memang kosong. Hanya ada beberapa halaman saja yang membicarakan beberapa hal tidak masuk akal dan tidak berhubungan satu sama lain. Dua buku yang lain bahkan tidak memiliki tulisan sama sekali.

Entah sejak kapan aku memikirkan ini; aku percaya ayahku memang mengatakan sesuatu dalam tulisannya. Meskipun hanya untuk disimpan di dalam lemari, namun ayah sudah menulis sepanjang hidupnya. Pasti ada alasan kenapa ayah menuliskan namaku dalam beberapa buku terakhirnya. Ayah menuliskannya dalam setiap kesempatan yang ayah miliki. Namaku dituliskannya dalam bahasa Inggris, Sanskerta, dan bahasa-bahasa lain. Bila tidak ada kesempatan untuk menggunakannya, ayah akan menjadikan namaku sebagai nama jalan, nama kota, bahkan nama hewan peliharaan.

Aku tahu ayahku tidak gila dan menuliskan buku-buku ini secara acak. Aku sangat yakin ayah sedang menceritakan sesuatu yang bermakna. Maksudku, memang ada beberapa halaman tidak tertulis dengan jelas pada buku-bukunya yang aku bawa saat aku pergi dulu, tapi untuk apa ayah mengosongkan buku-buku yang bahkan sudah dia beri judul ini.

Aku sudah membuka lembar demi lembar ketiga buku ini. Tidak selembar kertas atau satu halaman pun aku lewatkan, meskipun aku tau semuanya kosong. Mungkin saja, ayah meninggalkan satu kata penutup untuk teka-tekinya di suatu tempat di dalam salah satu dari tiga buku ini.

Aku juga tahu betapa menyedihkannya aku saat ini. Sepertinya Samuel sudah tidak tahan melihatku seperti ini. Dia mengambil dan menutup buku terakhirku. Dia mengumpulkan kedua tanganku dalam satu genggamannya, sedang tangannya yang lain mengusap dahiku yang sepertinya mulai berminyak. Tatapan matanya selalu menenangkan dan membuatku merasa aman.

"Mungkin saja ayahmu hanya merindukanmu." Katanyadengan lembut, "... atau mungkin juga ayahmu memang kehabisan tinta waktuitu, sedangkan satu-satunya orang yang dia inginkan untuk membeli tinta tidakpernah pulang padanya selama dua belas tahun terakhir." Kali ini dia tersenyumsinis, lalu melapaskan tanganku. Dia pergi membawa kedua gelas susu kami danmeninggalkan sebuah lingkaran kulacino di meja.



- Juni 2018

   Dikumpulkan sebagai karya dalam program "Orignality Therapy 1"

   Rumpun Nektar, regional Jawa Timur.


Kenapa .Stories to obsess over. Discover now