We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Upacara

45 11 4
                                        

SMA-masa sekolah yang indah dan tak akan pernah kulupakan.

9 September 2013, 06:50 WIT

Bel sekolah berbunyi, dan kupercepat langkahku ke depan pintu gerbang SMA 95 Nusantara Ambon. Sudah ada dua orang satpam berjaga untuk segera menutup gerbang sekolah.

Untungnya Tuhan masih berpihak padaku dengan kecantikan yang Ia berikan, dua orang satpam yang akan menutup gerbang tak jadi menutup gerbang berkat lirikan mata dan sedikit kedipan yang kuberikan.

"Lari Nona Ika, upacaranya akan segera dimulai dan jangan sampai terlambat," kata seorang satpam bertubuh besar dan kekar padaku.

Mendengar perkataannya, maka kupercepat lagi langkahku daripada sebelumnya "Baik, Pak. Makasih ya," kataku sambil memasuki pintung gerbang sekolah dengan sedikit kedipan mata dan senyum yang menggoda.

Terkadang aku harus menjadi seorang remaja manja dan centil dalam keadaan darurat saja. Jika tidak aku hanyalah seorang wanita biasa yang hidup tanpa ayah dengan ibu penjual sendal.

Upacara telah dimulai, untungnya aku datang tidak terlambat. Kalau tidak maka wajahku akan hangus karena berjemur di depan tiang bendera dan ditertawai oleh semua siswa.

Dibarisan paling belakang ada segerombolan laki-laki yang tak memakai atribut lengkap. Aku berdiri disamping Riko, laki-laki mapan, tinggi, dan cukup tampan menurutku.
Dia anak seorang pejabat, jabatan ayahnya menjadikannya sebagai anak yang bertingkah sesuka hati dan tak memikirkan perasaan yang lain.

Aku benci padanya! Dia pernah mempermalukanku karena pensil yang aku gunakan dikelas sangat pendek dan sudah tidak layak untuk digunakan lagi. Bukannya aku tak ingin menggantinya dengan pensil yang baru, namun aku lebih hemat untuk barang-barang yang kurasa masih dapat digunakan. Lagipula pensil pendek ini kudapatkan dengan uangku sendiri. Bukan seperti Riko yang hidupnya selalu bergantung pada kedua orangtuanya.

Sampai saat ini aku masih benci padanya. Setiap berjumpa dengannya dia selalu membahas pensil pendek yang kupunya itu, diawali dengan amarah dan diakhiri dengan pukulan yang entah kapan berakhir, hanya Guru BK-lah yang tau. Inilah yang mendasari dirinya dipindahkan dari Kelas XI-Ipa 1 ke Kelas XI-Ipa 2 yang dulunya dia sekelas denganku.

Dan kini pada saat upacara bendera, aku berdiri disampingnya. Oh Tuhan, aku tak tau apa yang akan terjadi. Mungkin setelah upacara kami akan di panggil guru BK lagi atau apapun itu. Kupasrahkan semua jika dia yang memulai perdebatan lagi.

1 menit
7 menit
15 menit
30 menit

Tak terjadi apa-apa diantara kami berdua. Hanya sikap tegap selayaknya siswa yang sedang mengikuti upacara bendera di pagi hari yang terjadi pada dirinya begitu juga denganku. Entah apa yang telah merasukinya sehingga dia seperti itu.

Batinku heran dan penuh dengan beribu pertanyaan. Ada apa dengannya? Hmm tak seperti biasanya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 16, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Dapatkah aku bertahan? Stories to obsess over. Discover now