Pagi itu sekitar jam 5. Jendela kamarku di ketuk oleh tetanggaku bernama gibran itu. Ya dia adalah alarm paling ampuh saat membangunkanku tidur.
Aku sudah membuka mata tetapi gibran tetap mengetuk jendela itu "gib gw udah bangun" kataku yang masih di ambang mimpi. Dan, gibran masih mengetuk jendela itu dan memaksaku untuk jalan ke depan jendela hanya untuk memastikan aku tidak akan tidur lagi.
Dengan amat terpaksa aku berjalan, kamarku tak terlalu luas, namun entah bagaimana setiap bangun tidur, kamarku ini menjadi seluas jalan toll. Aku membuka jendela dan kudapati gibran di depannya. "gooood morning!!, tingkerbell" katanya sambil memberikan segelas susu.
Aku mengambil segelas susu yang di berikan dan tanpa berbicara lagi, aku masuk kamar sambil meminum susu dari gibran pagi itu. "jangan lupa balikin gelasnya, entar di tanyain si bunda" katanya dari luar. Hanya ku jawab dengan mengguam.
Setelah mandi dan siap siap berangkat sekolah, aku ke kamarnya lewat jendela untuk mengembalikan gelas yang tadi. Setelah itu aku balik lagi ke kamarku, lalu kedapur dan menggambil sarapan dan ku taruh dalam tas. "ga sarapan dulu ka?" kata ibu setelah ku salimi tangannya.
"sarapannya di mobil gibran aja bu, udah di jemput tuh" ku jawab sambil pakai sepatu.
Lalu ku temui gibran di mobilnya. "udah di balikin belum gelasnya?" tanyanya saat aku mulai pakai seat belt.
"udah, tadi ga ada siapa siapa".
"iya,ambilin sarapan gw dong di belakang", katanya saat sudah memasuki jalan raya.
Aku mengambil sarapannya di tempat makan di dalam tasnya lalu ku buka dan ku ambil 2 tumpuk roti keju. "nih" kataku sambil memberikan roti itu. Ya, karna kepepet, jadi kita selalu makan sarapan di dalam mobil. Tak jarang, kita membawa nasi, teh manis, susu atau sereal untuk sarapan dalam mobil.
"ga mau keju ah, tukeran"
"yeee, rese lu ganggu aja"
"eh, kalo makan roti pake keju kan bahasa inggrisnya lancar. Sekarang ada pelajaran bahasa inggris kan?"
Aku diam untuk sedikit berfikir agar tidak ketipu pagi pagi. "apa hubungannya?" ku jawab sambil memakan roti keju punya gibran dan gibran memakan roti coklat punyaku.
"baik baik aja sih selama ini mereka ga ada yang berantem" jawabnya. Dia melirikku "tapi di makan juga, hayooo".
"kalo roti gw di makan elu? Roti elu di makan elu juga? Gw makan apa? Asep kenalpot?"
"pantesan ceking, sarapan sama asep kenalpot!!" katanya dengan nada mengejek sambil ketawa.
Aku hanya diam saja sampai di parkiran sekolah, lalu aku jalan duluan.
"heh! Mau kemana?" tanya gibran setelah sadar aku tinggalkan.
"pinjem buku di perpus" ku jawab pelan, entah mendangar atau tidak.
"sekarang udah jam masuk, mau lo di omelin osis? Masuk perpus jam udah mulai?" katanya setelah sudah dekat denganku.
Dia menarik tanganku "ke belakang kantin dulu" lalu aku menurutinya.
Setelah sampai belakang kantin, gibran menelpon salah satu temen di kelas kami, untuk memastikan siapa guru yang sedang mengajar.
"on? Ada guru ga?"
[engga gib, lo di mana?] suara dari telpon.
"gw di belakang kantin" kata gibran pelan pelan setelah aku dan gibran melihat pak idwan guru bahasa inggris yang harusnya sekarang dia mengajar di kelasku.
"ngapain kalian di sini?" kata pak idwan sambil memelototi kami.
"engga pak" ku jawab karna tidak terima, ini bukan salahku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Springkle
RandomGw dan gibran, bakal cerita, tentang bagimana saat kita masih bahagia sampai semua perubahan dalam hidup kita masing masing.
