"Kakak ayo kita pulang!" Ucap Laras kepada Syafa sambil menarik-narik tangannya. Yang sedang melayani pembeli.
"Sabar de, nanti ya kita pulangnya." Ucap Syafa sambil menyodorkan kembalian uang kepada pembeli.
"Terimakasih neng! Lama sangat." Ucap pembeli yang menerima kembalian dengan ketus dan judes.
Sedangkan adiknya yang bernama Laras tetap menangis yang semakin kencang. Dan menjadi sampai berguling-guling di lantai. Karena kekesalannya yang menunggu sang kakak berjualan, dari pulang sekolah hingga pukul 16.00 WIB. Belum kunjung pulang ke rumah.
"Sabar de! Jualan kita masih ada. Ini tinggal sedikit lagi akan habis." Ucap Syafa sambil membujuk adiknya dengan membangunkannya dari lantai yang mengamuk-ngamuk.
"Tapi aku ingin pulang kak. Aku ingin main sama teman-teman di rumah." Ucap Laras yang sambil menyeka air mata dengan kerudunganya.
Sepi dari anak-anak kecil yang sebaya. Sepi dari tempat permainan. Yang ada hanya orang-orang dewasa dan kakaknya.
"Ya, mau gimana lagi? Ini masih ada jualan kita. Kalo kita pulang dengan keadaan kue-kue yang masih tersisa. Akan kena marah de kita sama ibu! Jelas Syafa kepada Laras dengan muka yang penuh kesedihan dan pasrah akan nasib jualannya hari ini.
Karena ia pun kesal menunggu dari pulang sekolah sampai sekarang yang belum kunjung juga habis.
"Sabar ya ... Sebentar lagi. Kita akan pulang."
"Tapi kalo jualan kakak masih ada gimana?" Kata Laras dengan lirih
"Iya nggak apa-apa. Nanti kita bawa pulang aja. Atau kita kasih ke orang lain nanti di jalan." Ucap Syafa sambil menatap adiknya dengan penuh keprihatinan.
"Nanti dimarahi ibu kalo setorannya kurang."
Syafa hanya terdiam. Tidak menjawab satu kata pun pernyataan adiknya. Dan dengan mata yang selalu melirik ke kiri dan kanan. Apakah masih ada pembeli yang mau membeli kuenya?
°°°°°
Menunjukkan pukul 17.00 WIB. Dengan matahari yang hampir terbenam meninggalkan bumi Pertiwi. Lagi-lagi kue yang Syafa jual masih belum menghilangkan jejak menjadi lembaran atau recahan uang.
Syafa menengok matahari yang hampir menghilang. Dan adiknya yang tertidur pulas setelah peristiwa menangis yang membuatnya kelelahan.
"Ya Allah, bagaimana ini?" Ucap Syafa dengan suara lirih menghadap ke langit. Dan berharap ada keajaiban datang. Karena iapun sudah takut dengan kemarahan ibunya disaat pulang jualan membawa sisa kue-kue tersebut.
Pernah suatu hari Syafa kena marah habis-habisan oleh ibunya. Karena dagangan yang tersisa. Ibunya sampai teriak-riak dibersamai dengan ocehan dari A sampai Z yang tiada henti. Bila mulutnya tidak capek maka tidak akan berhenti.
Bukan hanya ocehan saja yang ditakuti Syafa. Tetapi perilaku ibunya yang akan berubah dratis. Sampai enggan untuk mengajaknya berbicara. Dan pukulan demi pukulan akan terlontarkan kepada dirinya.
Membayangkan itu semua. Syafa menjadi takut. Dan tidak akan sanggup itu semua terulang kembali kesekian kalinya. Sampai ia tidak sadar dan terkejut saat ada panggilan datang menghampirinya.
"Permisi de, apakah kue-kuenya masih ada?" Ucap seorang bapak yang memiliki tubuh tinggi gede dengan rambut berwarna putih yang hampir memenuhi kepalanya.
"Oh iya pak... Masih ada pak." Jawab Syafa dengan terkejut atas lamunannya yang sedari tadi.
"Mau beli berapa pak?" Lanjutnya
"Beli semuanya de."
"Bapak serius mau beli semuanya?" Jawabnya dengan terkejut lagi dan tidak menyangka.
"Iya de, di rumah bapak lagi ada kumpul-kumpul bersama teman. Lumayan untuk menemani kopi." Jelas sang bapak yang memastikan.
"Baik pak akan saya bungkus semuanya." Ucap Syafa dengan dipenuhi mulut pujian kepada Allah yang tiada henti atas keberuntungannya hari ini.
Dengan semangatnya Syafa membungkus semua kue-kuenya, yang terletak di atas meja dengan ditutupkan koran yang sudah dikesampingkan.
"Ini pak. Tiga puluh lima ribu. Ucapnya dengan menyodorkan bungkusan kue kepada sang bapak.
"Baik. Makasih ya de." Ucapnya dengan mengasih uang dan beranjak pergi menggunakan motor buntutnya yang terus dipaksakan bertahan.
Syafa membereskan semua dagangannya yang habis ludes hari ini. Dengan semangat dipenuhi rasa gembira. Ingin ia segara pulang ke rumah dan langsung bisa belajar bila ada waktu untuk mengizinkan ia belajar.
Tempat jualan yang terletak diemperan toko obat. Dan ditemani adiknya yang belum kunjung sadar.
"De... Laras ayo bangun! Ayo kita pulang!" Ucap Syafa dengan penuh kelembutan dengan tangan yang menepuk pundak sang adik.
"Ehm... Kakak udah beres?" Ucap Laras sambil melihat keadaan yang sudah rapi. Kosong melompong dengan meja yang sudah dirapikan di samping toko.
"Sudah de, ayo bangun!"
Mereka beranjak pulang dengan wajah sumringah karena tidak akan ada omelan yang akan menimpanya. Jarak rumah dari tempat dagangan yang lumayan jauh. Butuh waktu 10 menit sampai ke rumah dengan berjalan kaki.
Setiap hari ini dilakukan Syafa setelah pulang sekolah. Dengan ditemani adiknya yang cantik dengan muka yang bersih. Membawa kue dengan keranjang yang dijunjung di kepalanya.
Disaat teman-teman yang lain pulang ke rumah setelah sekolah dapat istirahat dengan tempat tidur yang nyaman dan tenang. Lain halnya dengan Syafa. Ia pulang ke rumah hanya untuk mengambil kue yang telah dibuat ibunya. Dan membawanya ke tempat jualan. Yang terletak dipinggir jalan tepat di jalan Soeharto.
Di tempat jualan itu Syafa hanya duduk di hamparan kardus dengan ditemani buku-buku pelajaran yang sudah dipelajari hari ini. Yang dibawa oleh tasnya yang masing menangkal di pundaknya. Yang belum sempat diturunkan olehnya.
°°°°°
Perenungan sering dialami Syafa. Dengan kelelahan yang dialami. Ingin rasanya ia bisa memenuhi kebutuhan tubuhnya untuk dapat beristirahat dan tidur dengan tenang. Apalagi bila melihat sang adik yang berusia SD dapat tidur dengan nyenyak di sampingnya. Mungkin lepas semua beban yang selama ini ia pikul.
Tetapi kondisi saat ini membuat Syafa duduk melihat-lihat orang yang berlalu-lalang dengan harapan dapat mampir ke meja dagangannya dan membeli kue. Tetapi sesekali Syafa melihat buku-buku pelajarannya. Serta mengisi beberapa soal yang menantang untuk melawan rasa kantuknya bila melanda.
YOU ARE READING
Sang Gadis Investasi
Paranormalmencari jatidiri yang menemukan arah kehidupan Syafanah membuat dirinya berubah secara dratis. Dari pemikiran hingga sikap yang dia miliki. sampai bertolak belakang dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Memiliki dua orang adik dan kakak. menjadi k...
