aku sedang menunggu di cafe tempat kami sering berkumpul. banyak kenangan yang telah kami punya di tempat ini. dulu, setelah pulang sekolah kami selalu kemari, entah untuk bercerita atau hanya melepas penat selepas sekolah. waktu itu kami hanyalah seorang remaja sma yang tidak mengerti apa apa. tidak mengerti betapa pentingnya untuk mengungkapkan perasaan ini, dan cara menghargai keputusan.
"eh maaf maaf, nunggu lama yah? dia nih lama siap siap nya" tiba tiba dua orang temanku datang, membuyarkan lamunanku. "biasanya juga selalu telat" ujarku. "mau pesan apa" ujar seorang pelayan yang daritadi memperhatikan ku duduk tanpa memesan. "susu coklat nya satu, ice thai tea nya dua" ujar temanku, aku hanya tersenyum mendengarnya memesan. "susu coklat kan? dari dulu ga berubah yah susu coklat mulu" ah mendengar itu aku jadi teringat lagi hari itu. saat pertama kali aku bertemu dengannya, dan pertama kalinya juga aku jatuh hati.
* * *
namaku dita. pagi ini aku telat bangun lagi karena alarm ku tak menyala, mungkin efek libur awal semester aku terbiasa bangun siang. ah sudahlah lagipula telat 3 menit tak akan apa apa.
aku berangkat ke tempatku menimba ilmu selama 2 tahun ini dengan terburu buru. sesampainya disekolah aku disambut dengan suasana kelas yang masih ramai, akan ada murid yang di pindahkan dari kelas sebelah ke kelas kami katanya. aku tidak terlalu mendengarkan, karena sibuk mengerjakan tugas kimia yang tidak aku kerjakan kemarin malam.
suara kelas menjadi hening, ternyata murid yang dibicarakan daritadi sudah datang. sangat telat pikirku, ah mungkin dia harus mengurus sesuatu terlebih dahulu. setelah ku dengar dengar dia pindah dari kelas ips, mungkin dia berubah pikiran setelah satu tahun lebih banyak menghapal.
tapi entah mengapa aku tak pernah melihat dia selama satu tahun belakangan ini. ternyata anak tersebut bernama Abby. Saat kulihat lagi, badannya lumayan tinggi. Tanpa aku sadari, aku menatapnya terus hingga anak anak kelas menyadarinya lalu menggoda kami.
Bell istirahat terdengar sangat nyaring. Aku dan kedua sahabatku, rayhan dan prima pergi ke kantin bersama sama. Bukannya aku tidak punya teman perempuan, tapi kami lebih nyaman seperti ini. "pa susu coklat nya satu" pesanku, entah mengapa jika tidak minum susu coklat aku merasa pusing, Mungkin karena terbiasa. "dua pak" tiba tiba seseorang berteriak di sampingku, aku kira itu adalah prima, nyatanya bukan. Mungkin, kalian akan menebak nebak cerita selanjutnya. Tapi percayalah itu tidak seperti yang kalian kira. Dia pun menatapku lalu tersenyum. Bukankah seorang wanita akan merasa berbunga bunga jika seorang laki laki yang tidak begitu dekat dengannya tiba tiba tersenyum? Itulah yang aku rasakan saat itu, seorang gadis remaja 16 tahun yang belum pernah merasakan patah hati. "ke kelas bareng saja" ujarnya saat pesanan kami sudah jadi. "boleh" jawabku. Jujur mungkin jika kuliihat wajahku saat itu mungkin aku akan kaget karena sangat merah, bukan karena kepanasan tapi karena malu tentunya. Di jalan menuju kelas kami tidak banyak berbicara, hanya hal hal standar seperti, bagaimana menjadi anak ipa, apakah tugasnya banyak, dan pertanyaan lainnya yang tak kalah penting. Aku pun duduk di mejaku dan dia duduk jauh dibelakang sana, hingga aku ingin mengobrol dengan prima dan rayhan yang duduk dibelakangku supaya aku bisa melihat kearahnya.
* * *
Entah dari kapan aku mempunyai perasaan ini. Tawanya, tutur katanya, bahkan cara dia berjalan menurutku sudah cukup membuat hatiku terbang.
Saat itu, aku masih ingat. Tepatnya sehabis pulang sekolah saat hari jumat, aku ingin sekali mengobrol dengannya. Mungkin ini terdengar konyol tapi aku benar benar mengirimkan pesan kepadanya. Dengan modus "salah kirim" yang menurut beberapa orang sangat ampuh untuk chat dengan sidia. Aku ingat bahwa hari itu ada sepupu ku yang akan menginap di rumahku lalu suatu ide "sakah kirim" terbesit dipikiranku.
Dita : "by kamu jadi menginap di rumahku?"
Jantungku tak sabar menunggu balasan darinya. Apakah dia akan menganggapku aneh? Atau apa? 10 menit kemudian saat aku baru saja selesai makan, aku buru buru mengecek hp ku. Ternyata dia sudah membalasnya.
Abby : "hah nginep dimana?"
Dita : "eh maaf salah kirim."
Abby : "hahaha emangnya boleh laki2 tidur dirumah"
Dita : "bukan begitu, abby itu sodara ku. Nama kalian saja yang mirip"
Nyatanya jurus salah kirim itu berhasil. Tidak sia sia aku menggunakan jurus itu.
Esokannya, saat aku tiba disekolah. Dia pun memanggilku, untuk urusan datang pagi, jangan ragukan kedatangan abby, bahkan guru guru pun kalah dengannya. "ada apa" tanyaku. "gapapa, Cuma mau nanya boleh ga aku menginap?". Anak anak yang ada dikelas pun kaget mendengarnya, aku pun tak kalah kaget dengan yang lain. Bisa bisanya dia bicara seperti itu di depan umum. Bagaimana jika mereka berpikir tentang buruk tentang diriku. Ah mungkin salahku juga kenapa aku harus pura pura salah mengirimkan pesan seperti itu ke dia? Aku pun tak menggubris pertanyaanya.
Entah mengapa setelah pertanyaan itu kami semakin akrab, bahkan rayhan dan prima bingung apa yang terjadi. Namun, sebenarnya aku senang senang saja bisa makin akrab dengannya. Bahkan dia sekarang lebih sering bermain dengan aku, rayhan, dan prima. Mungkin sikapnya yang mudah bergaul memudahkannya untuk bersosialisasi dengan kami. Tak jarang kami mengerjakan tugas bersama bahkan jalan jalan bersama. Karena hal ini juga perasaanku kepadanya semakin dalam. Tidak ada yang tahu soal ini. Hanya aku dan tuhan saja yang tahu. Saat dia tertawa bersamaku aku dan bercerita tentang kehidupannya, aku merasa menjadi orang paling berarti dan tahu segalanya tentang dia. Sampai aku sadar bahwa nyatanya aku tak tahu segalanya.
Dia memang terbiasa cerita padaku semuanya kecuali tentang masalah wanita, aku pun begitu. Sampai aku berpikir mungkin karena dia ingin menjaga perasaanku? Pikirku. nyatanya itu semua salah, sampai suatu saat dia ingin bicara padaku. Sangat penting katanya hingga tidak dapat dibicarakan lewat sms ataupun telepon. Aku pun penasaran dan berpikir mungkin saja dia ingin menyatakan perasaannya? Ah aku tidak siap pikirku. Kami pun bertemu di cafe dimana kami sering mengerjakan tugas, bercerita atau hanya menumpang duduk dan merasakan sejuknya ac. 5 menit aku menunggu akhirnya dia pun sampai. "dita ada yang ingin aku sampaikan kepadamu" mendengar hal itu jantung ku semakin berdegup kencang, mungkin dia bisa mendengar suaranya saat itu. "iya kenapa" jawabku mencoba untuk tenang. "sepertinya kamu orang yang dapat menerima keputusan orang lain tanpa merasa aneh" aku bingung dengan ucapannya saat itu. Kata katanya tidak ada hubungannya jika dia mau menyatakan perasaan. Atau dia suka orang lain? Hatiku mulai was was. "aku tidak pernah bercerita tentang hal ini pada siapapun" akunya "lalu?" jawabku makin penasaran. "sebenarnya...aku...suka prima" mendengar hal jelas aku tak percaya. Mungkin dia hanya bercanda, "apa sih" jawabku yang masih setengah tertawa. "aku beneran, aku ga bohong. orang tua ku sudah tau tentang hal ini. tapi aku tak ada keberanian untuk bercerita kepada temanku" ucapnya dengan tampang serius yang tak bisa aku tebak. seketika kami diam. aku yang masih bingung bagaimana menanggapinya, apakah ini nyata? atau dia hanya sedang bercanda? lalu aku buka hp ku siapa tau hari ini tanggal 1 april, setelah ku cek hp ku ternyata ini bulan november. lalu kenapa dia menceritakan hal ini padaku? tapi bukankah aku sendiri yang paling senang jika dia mulai bercerita, seperti menjadi orang paling penting dalam hidupnya. malam itu dia mengantarku pulang, tak ada obrolan seru seperti biasanya. hanya suara jalanan yang semakin ramai karena esok adalah malam minggu.
* * *
hari senin, hari yang cukup membuat kalian malas untuk pergi ke sekolah. ditambah udara dingin karena hujan semalaman dan juga pengakuan abby kepadaku dua hari yang lalu. aku tak menceritakan hal ini pada siapa pun termasuk prima dan rayhan. apalagi prima, entah apa yang akan dia pikirkan jika tahu hal ini. setelah aku baca ulang chat ku dengan abby dan perilaku dia terhadap prima saat ini harusnya aku sadar. dia yang selalu memperlihatkan foto aktor aktor tampan, dan sebagainya. aku tahu ini keputusan dia, tentu aku tidak punya hak untuk berbicara padanya agar berubah. mungkin aku punya, tapi hanya sebagai teman. saat aku sampai dikelas, prima dan rayhan sudah sampai. "woi dita kenapa kemarin ga ikut?" tanya prima. ah aku malas menjawabnya, sejujurnya melihat mukanya saja aku sudah malas. bagamana bisa cowok gempal seperti dia dapat menarik perhatian abby? sudah beberapa hari ini, aku tidak pernah melihat muka abby. memikirkan dia saja aku sudah enggan. rayhan yang memang paling peka diantara kami, menyadari sikap ku berubah terhadap Prima dan Abby. pernah saat kami bertiga pulang bareng dia bertanya mengapa aku menjauh dari Abby dan terlihat kesal kepada Prima. tentu saja aku tidak menjawabnya aku hanya menjawab mungkin itu hanya perasaan nya saja. hari berganti minggu, Abby tidak pernah main lagi dengan kami. sesekali dia hanya menyapa kami dan tersenyum ke arahku. aku tak membalas senyuman itu dan seingatku itu adalah senyum nya yang terakhir ku lihat
* * *
bulan mei, adalah hari terakhir dia sekolah disini. setelah itu aku tak pernah melihat dia lagi. ia pindah ke Batam bersama keluarganya. sejak itu aku selalu menyesal. mengapa aku harus menjauh dan menghakiminya? seharusnya aku membicarakan masalah itu dengannya. mungkin jika aku bicara padanya hal semua ini tak akan terjadi.
* * *
umur kamj 23 tahun sekarang. mungkin sudah menjadi sedikit lebih dewasa. aku tak pernah mendengar kabarnya saat di Batam. ah mungkin dia lupa, atau hanya nencoba melupakan? aku, prima, dan rayhan berada di kampus yang sama. kami masih berteman, makin dekat malah. tapi tak pernah sekalipun kami membicarakan tentang Abby. mungkin rayhan yang peka sebenarnya tau sesuatu. dan prima yang sedikit lemot mungkin tidak tahu apa apa.
aku sedang bersama prima dan rayhan di cafe tempat kami biasa berkumpul. aku yang sedang menikmati susu coklat dan mereka yang sedang menikmati thai tea, kaget melihat seseorang yang kami kenal sedang duduk di depan kami bersama seseorang. tampak mesra. tak pernah aku berpikir akan bertemu dengannya lagi di tempat ini bersama seseorang pula. prima yang lemot memanggilnya dengan tampang senang. "woi Abby" teriaknya, membuat kami malu. dia pun menghampiri kami dengan senyum nya yang hangat seperti biasa. "eh kalian masih sering disini?" tanyanya sambil melihatku. "iya nih si dita ga mau pindah tempat, eh btw lo sm siapa by? pacar lo ya" aku tertohok mendengar itu, bukannya dulu dia suka pada prima? yang berarti.. ah sudah tak perlu aku lanjutkan. tapi yang aku lihat disana adalah seorang wanita manis yang aku kira sahabatnya. "hahaha iya nih" jawabnya sambil tersipu malu. mendengar jawabannya, aku tak bisa berkata kata. prima pun menggodanya sampai ia kembali ke kursinya. aku masih kaget mendengarnya. semalaman aku memikirkannya hingga aku menemukan jawabannya
* * *
wanita itu bernama lita. baru tadi aku mencari tahu dia dari akun social media abby. dari captionnya yang aku baca. dia berhasil membuat abby berubah menjadi lebih baik seperti sekarang. tidak seperti aku yang meninggalkannya saat mendengar pernyataannya dulu. ah sudahlah mungkin ini salahku yang tidak bisa menjadi teman yang baik.
* * *
aku pun kuliah seperti biasa, bersama prima dan rayhan rasanya lebih berwarna. sesekali aku melihat dia bersama lita dicafe yang sering kamu kunjungi. kadang juga dia bergabung bersama kami. walaupun jantungku masih berdegup kencang saat ada di dekatnya, tapi biarlah perasaan ini menjadi rahasiaku seorang. tak perlu di umbar, karena tak akan ada yang berubah juga.
YOU ARE READING
RELASI
Romancebiarlah rasa ini mejadi rahasiaku seorang, tak perlu diumbar, takkan ada yang berubah juga
