Aku ingat di malam hari yang begitu tenang, dimana sinar rembulan menembus melewati jendela kamarku. Aku ingat ibu menceritakan suatu kisah kepadaku. Kisah mengenai malaikat waktu.
Malaikat waktu, sang penjaga waktu, ia memiliki banyak nama. Namun karena ibu menyebutnya malaikat waktu, aku pun memanggilnya demikian. Seperti namanya, malaikat waktu dapat mengatur waktu sesuka hatinya. Ia dapat mengulang waktu, mempercepat waktu, maupun menghentikan waktu. Konon jika kau mempersembahkan sesuatu yang sangat bernilai, malaikat waktu akan mengabulkan permintaanmu. Ketika itu aku percaya pada apa yang dikatakan ibu.
Seiring bertambahnya umurku, semakin aku berharap bahwa malaikat waktu itu ada. Nyatanya aku tidak bisa melakukan apa-apa pada waktu yang berlalu. Aku tidak bisa menghentikan ibu untuk tidak menutup matanya selamanya. Dan aku tidak bisa menghentikan ayah untuk tidak menikahi wanita itu.
Lelah karena diabaikan, aku pun mencari kasih sayang di jalan yang gelap. Dengan naifnya aku mengikuti segala kemauan mereka. Gadis yang suci itu kini telah berlumur dosa.
Aku berjalan di paviliun. Gaun biru ungu yang kukenakan tampak bersinar di bawah sinar rembulan. Tidak butuh waktu lama hingga aku diajak seseorang berdansa. Ia adalah orang yang selama ini kucari. Dengan topeng yang kukenakan, aku melemparkan senyum manis. Ya, aku adalah Cinderella berlumur senjata.
Waktu berlalu dan kami terus berdansa, aku tidak tahu sudah berapa lagu yang diputar. Aku mendapatinya melirik ke arah jam. Sebentar lagi tengah malam, dan batas waktuku semakin dekat. Aku melihat sekitar dan mendapati seseorang melihat ke arahku. Menungguku melakukan tugasku. Aku tahu apa yang terjadi jika aku tidak melakukannya, dengan kenyataan itu waktu sama sekali tidak mau menunggu.
Di detik terakhir, aku mengeluarkan pisauku. Pisau yang tersembunyi di gaunku segera menancap ke dalam. Darah mengalir keluar, dari pisau menuju tanganku. Seiring dengan topeng yang terlepas dari wajahnya.
Denting pisau yang terjatuh menggema di seluruh paviliun. Aku melihat wajah di depanku. Wajah yang dulunya sempat kulupakan. Wajah yang dulunya begitu kurindukan. Di sela-sela keterkejutan, hatiku berteriak, berkata bahwa wajah yang kulihat adalah orang lain.
Dentang bel berbunyi, melenyapkan semua suara yang tersisa, seakan-akan kita hidup di dunia yang bisu. Ia memegang pipiku, mengusap air mata yang mengalir keluar. Dentang bel terus berbunyi dan ia tetap memegang pipiku, melelehkan hati yang sebelumnya telah membeku. Dengan tarikan napasnya yang semakin memudar aku berharap kepada malaikat waktu untuk menghentikan momen yang singkat ini. Meskipun itu hanya sedetik. Meskipun aku harus menyerahkan semuanya kepadamu.
